LABEL ISLAM

"Wahai Nabi! Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. dan untuk menjadi penyeru kepada (agama) Allah dengan izin-Nya dan sebagai cahaya yang menerangi"
---Qs. Al-Ahzâb [33]: 45-46


Pada Rabu, 14 Juni 2017 saya pernah menulis di Beritagar.id (Merawat Indonesia) dengan judul "KH. Hasyim: Mewakafkan Dirinya untuk Islam dan Bangsa". Dalam perjalanan karirnya, abah di pentas nasional dan internasional dikenal dikenal sebagai "pemadam kebakaran"---dalam istilah beberapa pemikir Barat, abah disebut "problem solver".

Kebiasaan abah, ketika bulan Ramadhan adalah memberikan kajian kepada masyarakat, sebelum shalat Tarawih berlangsung. Sebentar tapi baginya adalah kebahagiaan. Ia bisa menyapa masyarakat dan memberikan ilmu dan pengalamannya. Salah satu pengalamannya adalah "memadamkan konflik" atau mendamaikan orang-orang yang bertikai, baik dikancah nasional maupun internasional.

Baginya, "sirah Nabawiyah" tidak bisa dilepaskan dalam konteks berdakwah dan berpolitik. Pijakannya jelas, Nabi Muhammad meneladankan "teladan dialogis" yang nyaris berakhir konfrontasi fisik saat banjir bandang menerpa Makkah. Semua orang dan suku berebut ingin menjadi orang yang meletakkan batu Hajar Aswad ke posisi semula. Jejak ini, saya rasa, salah satunya yang menginspirasi abah Hasyim rela mewakafkan dirinya untuk menjaga kehormatan, kemurnian dan wibawa Islam di seantero dunia.

Dalam perjalanannya keliling dunia, abah sangat menyukai istilah "Islam Rahmatan lil-Alamin" ketimbang istilah-istilah yang menempel sesudah kata "Islam". Mudahnya, ia tidak saja istilah yang autintek, yang berpijak dalam Qur'an melainkan juga wacana autentik dan progresif yang membersamai istilah yang "building in Islam" tersebut.

Jika dicarikan afirmasi filosofis pemikiran abah di atas, yang mana tidak membutuhkan lagi embel-embel yang menempel pada kata "Islam", bisa kita baca pada Qs. Al-Ahzâb [33]: 45-46).

Dimulai dari "syâhidan". Orang Islam, tidak perlu "banyak-banyak" berteori dan berdalil jika bukti tak bisa diajukan ke permukaan bumi. Cukup, membawa kebenaran Islam dengan cara yang damai, santun dan welas asih. Sebagai khalifah di muka bumi, bukti kongkrit dari aktualisasi nilai-nilai shalat (misalnya) ke dalam kehidupan sehari-hari.

Diikuti oleh "mubasysyiran" atau motivator dan pembawa berita baik. Artinya, membawa berita bohong dan menyajikan berita yang menimbulkan pertikaian, berkonsekuensi pada dosa. Dalam tahap ini, abah menginginkan dari setiap pendakwah untuk mengerti betul konstruksi "fiqhu al-Dakwah" (Fikih dalam berdakwah).

Diikuti lagi dengan "nadzîran" atau pemberi peringatan. Memberi peringatan kepada yang bersalah dibutuhkan kondisi kebatinan yang bersih dan akal yang jernih. Agar dalam memberi peringatan akan diikuti oleh cara-cara yang makruf (bajik) dan santun.

Diikuti lagi dengan "dâ'iyan ilallâh" atau penyeru agama Allah. Tahapan ini prinsipnya jelas sebagaimana posisi Nabi. Sekedar menyeru dan mewartakan risalah kenabian tanpa paksaan apapun. Sebagai kelanjutan dari prinsip yang termuat dalam "nadzîran", yaitu menegakkan keadilan. Maka dalam menyeru, apa-apa yang bisa dikerjasamakan, dikerjasamakan. Dan apa-apa yang tidak bisa, jangan sekali-kali mempermudahkannya sampai kehilangan jati diri. Harus jelas batasannya.

Dan terakhir, "sirâjan munîran" atau sebagai pencerah dan inspirator. Mengapa ini penting, sebab tidak banyak Muslim yang menguasai ajarannya tapi justru kehadirannya menjadi malapetaka alam sekitar dan orang sekelilingnya. Biasanya, posisi ini ada di seorang mursyid. Yang tidak lagi melihat sesuatu dengan hitam-putih, tapi hikmah jika begini apa dan begitu apa. Sebagai pencerah untuk mereka yang belum mengerti Islam dan bagaimana membawa Islam di tengah-tengah zaman yang mengalami degradasi moral.

Kira-kira begitulah pemandangan saya terhadap sosok abah, yang "ngotot" hanya mau menggunakan istilah "Islam Rahmatan lil-Alamin". Ia diibaratkan payung yang mengayomi segala sesuatu.

Terakhir, jika ada istilah yang "building in Islam", maka sebaiknya digunakan istilah itu. Tidak atau bukan karena alergi dengan istilah lain yang menempel pada kata "Islam", melainkan menghindari persepsi liar yang terkadang 'membawa keburukan' terhadap diri sendiri, sekalipun dibuatkan konsepnya dengan jelas.

Selamat weekend!
Muh. Makmun Rasyid
Cimanggis, 01-07-2018
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *