KMA dan Universitas Flores


“Jikalau saudaramu tidak memahami engkau, itu karena Anda sendiri yang tak memahaminya. Bila Anda telah memahaminya, maka ia pun akan memahami engkau"


Hampate Ba



Oktober, buku saya Kemukjizatan Menghafal Al-Qur'an (2015) terbit. Saya pun mendapat kiriman buku KMA itu saat bertugas di Ende, NTT. Saya coba kembali membacanya satu persatu. Muncullah ide untuk membedah buku KMA di kampus Universitas Flores, Ende, NTT.

Saya meminta teman-teman dari Katolik dan Islam yang dekat dengan Ketua PBSI Unflor untuk menanggapi ide ini. Diputuskan oleh ketua untuk dibedah usai acara perenungan oleh umat Katolik di kampus.

Bedah Buku Kemukjizatan Menghafal Qur'an


Alhamdulillah, acara pun terlaksanakan dengan baik dan selesai ketika adzan zhuhur telah dikumandangkan di masjid. Saat bedah buku, saya mencoba memaparkan Islam, Muslim dan Al-Qur'an itu sendiri dengan gagasan terbuka. Kira-kira peserta dari umat Katolik dan Protestan 95 persen, dan umat Muslim 5 persen saja.

Berdiskusi, berdialog dan berbagi wacana dengan sesama Muslim adalah hal biasa. Istilah-istilah pun sesuka hati, karena banyak yang sudah familiar. Namun, berdialog dengan umat yang memiliki keyakinan dan konsep Tuhan yang berbeda, membutuhkan persiapan dan berupaya menghindari ide dan istilah-istilah yang bisa merobek hati mereka. Kerap konflik terjadi, karena Muslim gagal dalam menerapkan konsepsi syariah dalam tatanan Muamalah.

Ada tiga pertanyaan menarik bagi saya. Pertama, apakah Al-Qur'an orisinil dan tidak ada perubahan?. Kedua, apakah Al-Qur'an kitab sastra?. Dan ketiga, di mana letak mukjizatnya Al-Qur'an untuk orang yang menghafalkannya?.

Menjawab pertanyaan pertama, saya hindari untuk membandingkan dengan kitab mereka. Perbandingan meniscayakan hitam-putih dan salah-benar. Maka jawaban yang harus diajukan adalah argumentasi yang baik. Salah satu jawaban saya adalah Al-Qur'an memang orisinil dan tidak ada perubahan sampai saat ini. Setiap perubahan akan membuat rasa sesuatu berbeda, begitu pula cita rasa Qur'an.

Orisinil, karena sampai saat ini tidak ada yang bisa membuktikan kepalsuan kitab itu. Jika ada, hanya asumsi bukan hipotesa. Kemudian, ini logis karena terjaga oleh ribuan penghafal Al-Qur'an, termasuk saya. Kesalahan harakat saja, akan mendapat tanggapan yang serius dari Muslim, apalagi perubahan kata dan kalimat.

Pertanyaan kedua, Al-Qur'an bukan kitab sastra, tapi panduan untuk para sastrawan di dunia. Al-Qur'an bukan ilmu tapi sumber ilmu pengetahuan. Mengapa bukan kitab sastra? karena sastra hanya salah satu unsur atau 'kontingen' dari Al-Qur'an. Ia berada di atas sastra manusia. Sajak-sajak yang dibuat langsung oleh Tuhan.

Pertanyaan ketiga, letak kemukjizatan untuk orang yang menghafalnya, setiap orang berbeda-beda, sesuai tingkat interaksinya dengan Al-Qur'an. Pengalaman spiritualnya pun berbeda. Contoh kecil dari kemukjizatan itu seperti kemudahan untuk orang yang ingin menghafalkannya. Kalau tidak mukjizat, tidak bisa dihafalkan. Apakah ada satu buku yang tuntas dihafalkan oleh orang dalam jumlah yang banyak? tidak ada. Jadi, jika Anda ingin merasakannya, silahkan dekati Al-Qur'an.

Dalam konsep umat Kristen, rasul Yokabus pernah menulis: "Karena itu tunduklah pada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari daripadamu. Mendekatlah pada Allah dan ia akan mendekat kepadamu." Salah satu cara jitu untuk dekat dengan Allah adalah dekat dengan ucapannya yang tersajikan dalam Al-Qur'an. Siapa yang dekat dengan Al-Qur'an, niscaya hidupnya tentram, damai, sejuk dan tidak mudah prustasi.

Kenapa saya harus membedah buku KMA di Unflor? karena saya ingin membuktikan bahwa Al-Qur'an dan Islam adalah tinggi. Islam ya'lu wa yu'la alaiha, ia akan tinggi terus tanpa pernah turun. Dan berupaya untuk menjelaskan bahwa antara Islam dan Muslim itu berbeda. Islam agama yang luhur, tapi tidak semua Muslim seluhur agamanya. Karena itulah, saya mengajak kepada mereka untuk membedakan antara doktrin agama yang inklusif dan universal dengan tindakan dan pelaku (Muslim).

Memang tidak mudah berdialog secara terbuka. Tetapi saya ingat dalam dokumen Nostra Aetate bahwa bagaimana masa lalu biarkanlah menjadi sejarah dan bahan pelajaran kita bersama. Setelah Vatikan II, Konsili Vatikan II mengajak untuk meninggalkan tindakan masa lalu yang tidak sesuai fitrah manusia. Kita buka lembaran baru dengan saling pengertian, melindungi serta memajukan bersama-sama keadilan sosial, nilai-nilai moral serta perdamaian dan kebebasan untuk semua orang.

Lebih-lebih di NTT. Budaya extended family (keluarga besar), khinship (budaya kekerabatan) dan house-based society (budaya rumah adat) memiliki keunikan tersendiri. Di NTT, faktor nilai local wisdom dan budaya lokal menjadi pengikat dan culture force (daya dorong) yang bisa membuat kelanggengan terus berlanjut dan dialog lintas dan antar agama sangat baik.

Dialog seputar KMA dan Al-Qur'an pun berjalan dengan baik hingga selesai. Kesimpulan saya waktu itu adalah Al-Qur'an tidak saja milik umat Muslim, tapi untuk seluruh mahluk Allah. Siapa saja berhak untuk membukanya, mempelajarinya, menghafalnya, menelaah dan membuat studi tentangnya. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *