KH. Hasyim Muzadi: Sinar Hidupku


“Kamu akan besar dengan segala kesulitan, bukan besar dengan segala kesenangan. Kesenangan berada pada sela-sela kesulitan, dan keindahan akan ditampakkan oleh Allah di saat kamu menderita”


KH. A. Hasyim Muzadi



Seseorang berhak memutuskan sumber cahaya kehidupannya. Seseorang berhak menciptakan “dunia baru” dari butir-butir kalam suci gurunya. Menurut Prof. Muh. Chirzin bahwa “guru, bagai petani, mencurahkan perhatian pada benih yang telah ia tebar; memupuk, menyirami dan menyianginya.” Pendidik pun demikian, mendidik santri-santrinya hingga layak dipanen dan memantulkan sinar.

Sinar adalah aktualisasi dari cahaya. Pendidik (cahaya) yang berhasil manakala santri-santrinya (sinar) menjadi bintang-bintang dunia. Tanpa santrinya, ia tak ubahnya manusia biasa. Layaknya, cahaya. Cahaya akan tampak sempurna, tatkala sinar-sinar menyusuri lorong-lorong dunia.

Abah—panggilan akrab santri-santri KH. Hasyim Muzadi—bagi saya adalah orang tua kedua saya. Sebagai anak perantauan, tak kenal arah tujuan, tak memiliki saudara di mana-mana, tapi menyukai petualangan. Berpindah-pindah sekolah, petualangannya pun dimulai sejak Sekolah Dasar (SD) hingga strata satu.

Tepat pada 9 Januari 2011, saya menjadi mahasiswa resmi STKQ Al-Hikam. Di hari itu pula, saya menangis mendengar cerita akhir dari kalam sambutannya, pada saat membuka acara peresmian pesantren mahasiswa Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an (STKQ) Al-Hikam Depok. Ada ungkapan sederhana, tapi menyentuh hati.

Kiai: Apa bener, kau mau mengurusi Qur’an?.

Abah: Betul, kiai.

Kiai: Mana kurungannya?.

Abah: ini kiai (sambil menunjuk gedung Al-Hikam).

Kiai: Kogh bagus sekali!.

Abah: Iya, tapi masih bagus Qur’annya, kiai.

Kiai: Sudah ada burungnya?.

Abah: Sudah ada, 40 orang, kiai.

Pertanyaan terakhir yang sulit dijawab oleh abah adalah:

Kiai: Kau mau ngurusi Qur’an, apakah sudah permisi pada yang punya Qur’an?.

Saya merasa bahwa perkataan itu merupakan ‘teguran’ keras, khususnya untuk para penghafal al-Qur’an dan umumnya untuk umat Muslim. Sebagian di antara kita menjadikan Al-Qur’an layaknya koran, bahkan tak ragu menaruhnya sejajar dengan kaki kita.

Sekalipun penghafal Al-Qur’an, saya dulunya jarang muraja’ah, tapi setelah mendengar dialog itu, saya kembali terpacu untuk murajaah hafalan Al-Qur’an. Bisa menghafal itu anugerah dari Allah, tapi kalau jarang diulang-ulang maka keberkahan Al-Qur’an pun sedikit yang datang. Menurut abah, jika Al-Qur’an yang sudah dihafal di murajaah-kan terus menerus, maka dia bisa menjadi senjata dan benteng untuk diri sendiri, orang lain dan aura positifnya akan dirasakan oleh orang yang disampingnya.

[caption id="attachment_684" align="aligncenter" width="278"] Info Pendaftaran 085811874120[/caption]

Al-Qur’an adalah senjata orang-orang mukmin. Dia akan menyinari hati, membuat ketentraman bagi jiwa, membuat kebahagian bagi pembacanya,  menyingkap tabir kegaiban, dan siapa yang berpegang teguh padanya akan selalu berada di jalan yang lurus.

Namun, abah memberitahukan lagi, “Anak-anakku, saya ingin kalian jangan hanya berhenti pada hafal lafaz Al-Qur’an saja, tapi hendaknya meningkatkan diri untuk mengerti maknanya dan mengetahui tafsirnya. Tau bagaimana membawa dan mengamalkannya, sampai bisa menyajikan Al-Qur’an kepada masyarakat yang sudah berbeda zamannya, tidak seperti zaman saya dulu.”

Inspirasi untuk belajar, semakin meningkat. Saat ini banyak penghafal Al-Qur’an yang cukup dengan hafal saja. Kerjaannya mencari khataman di sana-sini, sekalipun masih dalam kebolehan, tapi kebermanfaatan dan upaya menguak misteri kemukjizatan Al-Qur’an tidak ada. Saat ini, sudah ada tafsir ilmi, ini merupakan wadah untuk mengungkapkan ayat-ayat kauniyah yang belum dijabarkan oleh para praktisi Al-Qur’an. Maka pendidikan lanjutan, menurut abah sangat penting. Suntikan dan semangat terus digelorakan oleh abah kepada kami, sebagai santrinya, agar bagaimana para penghafal Al-Qur’an mampu ‘menguliti’ setiap ayat-ayatnya.

Di dalam membawa Al-Qur’an, abah mengingatkan untuk tidak malas dan GR karena bisa menurunkan daya juang terhadap kesulitan. “Malas dan GR, itu dua penyakitmu, yang harus kamu berantas sendiri. GR itu kegeden rumangsa, merasa lebih dari ukuran yang sesungguhnya. Merasa hafal Al-Qur’an, merasa sudah begini-begitu, akhirnya ini menurunkan daya juangmu terhadap kesulitan. Padahal kamu akan besar dengan kesulitan, bukan besar dengan kesenangan. Perasaan GR itu harus kamu bongkar dalam diri kamu, kalau tidak, maka kamu akan mengalami kesulitan demi kesulitan karena tidak siap menghadapi kesulitan.”

Pernyataan itu selalu saya pegang terus dan saat ini dijadikan “meme” (picture). Setiap kali melihat “meme” itu, saya terasa bagaikan sedang disuntik dan berada di dekatnya. Saya pun semakin giat, baik murajaah, shalat wajib dan masnunah, menulis buku dan hal-hal manfaat lainnya. Dahsyatnya ungkapan itu, membuat saya untuk selalu berpikir positif dan yakin akan sebuah perjuangan. Terima kasih abah!. Selamat membaca []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *