Keterlibatan Jasmani-Ruhani dalam Shalat

“Jika seorang hamba mendekat kepada Allah sepanjang satu jengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya dengan satu depa. Apabila seorang hamba mendatangi-Ku dengan berjalan, maka aku akan mendatanginya dengan berlari”


(HR. Bukhari)


Islam dikenal menyimpan dua hal: syariat dan hakikat. Syariat—dalam masalah peribadatan—merujuk pada konsep Fikih dan cara-cara formal yang di-“cantolkan” kepada al-Qur’an. Sedangkan hakikat merujuk pada konsep Ihsan. Di mana seseorang dalam beribadah kepada-Nya, “seakan-akan melihat-Nya dan jika tidak melihat-Nya, niscaya Dia melihatmu”. Konsepsi shalat, secara maknawiyah mengandung tiga aspek: formalitas, fungsionalitas dan sosial/muamalah.

Aspek formalitas ini menurut Mutawalli al-Sya’rawi dalam Mausû’ah Fiqh al-Sunnah (2004: 129), seseorang dituntut untuk menyempurnakan shalat sebagaimana yang diatur dalam hukum Fikih: dimulai dari takbir dan diakhiri dengan salam. Aspek fungsionalitas menurut Fath al-Bayanuni dalam al-Ibâdah (1984: 107), menuntut seorang hamba untuk intens berkomunikasi dengan Allah dan di dalam praktek ibadahnya hanya pasrah dan tunduk pada-Nya. Adapun aspek sosial, seorang yang intens itu membawa nilai-nilai shalat ke dalam kehidupan sehari-hari (Qs. Al-Ankabût [29]: 45).

Tiga aspek di atas yang dijalankan seseorang akan melahirkan konsep: shalat sebagai pondasi dan membangun jiwa Islami dalam diri seseorang. Sebagai ajaran yang menempati kedudukan penting, termasuk rukun Islam, maka tidak boleh terjadi pemisahan antara ajaran syariat (ritualitas dan formalitas) dan hakikat (pemaknaan atas ibadah). Jamak diketahui, pemisahan antara keduanya akan melahirkan ketidaksejalanan, kemudian melahirkan pribadi yang mengerjakan shalat namun prilaku sehari-harinya jauh dari substansi shalat yang dikerjakannya sehari lima. Ketidaksejalanan itu pun membawa kepada fenomena, di mana shalat tidak mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Dalam artian sempit, ia beribadah sambil bermaksiat kepada-Nya.

Ketidaksejalan itu pun bisa bersumber dari aspek khusyu’, di mana ahli Fikih tidak menetapkan khusyu’ sebagai syarat sah-nya shalat, sedangkan ahli hakikat menjadikannya patokan “kebermaknaan” atas shalat yang agung itu. Imam Ghazali, misalnya, mewajibkan khusyu’ dengan berdalil pada Qs. Thâha [20]: 14 dan seorang hamba tidak boleh mengabaikan kehadiran-Nya di dalam shalat (Qs. Al-A’râf [7]: 205). Dalam hal ini, sebenarnya antara ajaran Fikih dan tasawuf bisa bertemu pada kesimpulan: di mana khusyu’ dimaknai dalam pengertian mendidik hati agar selalu terpaut kepada Allah, baik dalam shalat maupun diluar shalat.

Titik temu kedua aspek di atas, dapat dilihat dari redaksi iqâmat al-Shalâh dalam al-Qur’an. Seseorang dituntut untuk fokus dan konsentrasi saat shalat, jika terbesit hal-hal duniawi saat shalat maka langsung palingkanlah ke kondisi semula. Artinya, keterlibatan jasmani-ruhani menjadi prasyarat kekhusyu’an shalat itu tercipta. Sebab, kaidah nahnu nahkumu bi al-Zawâhir wa Allah yatawalla al-Sarâir (kami hanya menetapkan hukum berdasarkan yang tampak dan Allah yang menguasai hati hambanya) tidak berlaku dalam konsep pemersatu ini. Konsep pemersatu antara terlibatnya jasmani-ruhani dalam shalat, bisa merujuk kepada Ibnu ‘Arabi yang menetapkan satu pengertian tentang al-Qunut dengan al-Dawâm ‘ala syai’ (berkesinambungan atas sesuatu) dan al-Sukut (yang semula bermakna diam) dengan yatanawal al-Âlim bi al-Shalâh (mengetahui secara sadar praktek shalatnya).

Terlibatnya aspek jasmani dan ruhani sebagai syarat khusyu’ pun bisa merujuk pada redaksi khâsyi’ûn (Qs. Al-Mukminûn [23]: 2) dalam al-Qur’an. Ibnu ‘Arabi mendefinisikan istilah khâsyi’ûn dengan al-Khudû’ atau al-Ikhbât (rendah diri) dan al-Istakânah (ketenangan). Maka jika digabungkan dengan pandangan Muqatil akan melahirkan pengertian kongkrit, yakni: shalat seseorang yang khusyu’ ditandai dengan rasa pengagungan, baik secara lahiriyah maupun batiniyah serta sampai-sampai dirinya tidak mengerti apa yang terjadi di kiri dan kanannya.

Shalat tidak saja menuntut seseorang untuk menhadirkan sikap al-Khaûf (takut) semata, melainkan—sebagaimana yang diinginkan oleh al-Qusyairi dalam Latâ’if al-Isyârât (2007: 335-336)—sebuah perjalanan batin di atas hamparan bisikan-bisikan rahasia dengan kesempurnaan indahnya rasa takut, kemudian mencairkannya di bawah singgasana kasyf (tersingkapnya tabit) dan berakhir lenyap dikala terkuasai oleh tajalli (tampaknya keagungan-Nya). Pemaknaan ini menuntut pula seseorang untuk siap berkomunikasi dengan-Nya dan melepaskan baju-baju ‘buruk’ yang menempel di tubuhnya. Ia lepaskan keadaan kotor menuju suasana suci, sampai-sampai ia merasakan apa yang dibacanya begitu panjang terasa sebentar. Menikmati indahnya lantunan yang terucapkan melalui lisannya. Ia masuk dalam suasana keagungan dan keluhuran. Al-Qur’an menyebut istilah orang demikian dengan dâimûn (Qs. Al-Ma’ârij [70]: 23) yang memiliki makna iftiqâr, sebuah perasaan yang selalu butuh pada-Nya.

Dengan demikian, maka keterlibatan jasmani-ruhani ini sebagai syarat khusyu’ dan tidak shalat, dalam istilah Abdul Qadir bin Musa bin Abdullah al-Jailani dengan shalât al-Syarîah dan shalât al-Tharîqah (Qs. Al-Baqarah [2]: 23). Konsep shalât al-Syarîah merujuk pada aturan yang ditetapkan ahli Fikih, sedangkan shalât al-Tharîqah yakni shalatnya hati seseorang. Penjiwaan atas shalat yang melahirkan kebersihan hati, kebersihan pikiran dan berakhir pada kebersihan tindakan. Tiga kebersihan itu akan melahirkan orang-orang khusyu’, baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Ia merasa bahwa tuntutan shalat, tidak saja sebagai formalitas lima kali sehari, melainkan tuntutan dalam segala aktivis sehari-hari. Semoga kita bisa menjadi bagian dari orang-orang yang khusyu’. Amin!
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *