Kesakralan Teks Kitab Suci Al-Qur’an

 

Pohuwato, Gorontalo, dikejutkan oleh sebuah status facebook dari seorang perempuan, bernama Megawaty Maku. Bunyinya: “Itu pengajian atau ada b undang jailangkung p setan... kampret... Bolo tiap mlm thd!!!”. Maksud dari MM itu adalah memaki orang yang sedang membaca Al-Qur’an dikarenakan suaranya tidak jelas. Memang, di Gorontalo khususnya, masih banyak masjid yang memperdengarkan ayat suci Al-Qur’an, dibaca oleh orang-orang tua. Namun, reaksi negatif justru ditampilkan oleh MM. Reaksi inilah yang ingin dibahas dalam tulisan ini.

Melihat fenomena ke belakang, beberapa bulan silam pun terdapat kejadian dari seorang pemuda yang menginjak Al-Qur’an dan menyebarkan gambarnya di media sosial. Kejadian ini diperkarakan oleh umat Islam sendiri. Namun, untuk MM, setahu saya, belum diperkarakan oleh pihak kepolisian. Kasus ini, terlepas dari kesalahan berucap atau bertutur yang disebabkan oleh penguasaan nafsu dalam jiwa, membuat tidak berpikir sebelum berucap.

Jenis manusia seperti MM ini, jika dibawa ke ranah perspektif post-modernisme, sebagai sebuah respon dari modernisme, tidak mampu membedakan antara relativisme dalam tatanan “vocal” dan “teks”. Ia kemudian memisahkan antara suara dengan objek lantunannya. Dalam kajian filsafat, kita bisa memperbicangkan kejadian ini dalam ruang lingkup “desakralisasi Al-Qur’an”. Yang kemudian banyak mendapat pertentangan di internal Islam.

Dalam Islam, ada sebuah riwayat yang menganjurkan seseorang untuk memperindahkannya. Misalnya, “Hiasilah Al-Qur’an dengan suara-suara kalian”. Tujuan dari kata “hiasilah” adalah mengena ke lubuk hati paling dalam. Mengena atau tidaknya, terasa atau tidaknya, bukan faktor dominannya ada pada “keindahan suara” seseorang. Dan bukan pula, menghiasi Al-Qur’an, layaknya lantunan orang-orang Yahudi dan Nasrani, membawa nada nyayian saat membaca Al-Qur’an.

Al-Qur’an, yang diturunkan pada malam mulia dalam bentuk pengetahuan yang kongkrit, terpatrikan ke dalam hati Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an tidak dihujamkan ke dalam kepala dan akal, melainkan ke hati Nabi Muhammad. Hati erat kaitannya dengan rasa. Dalam abjad Arab, sebagai basis bahasa Al-Qur’an, ada yang mengatakan 28 huruf dan 29 huruf. Jika 28 huruf, maka ada 14 huruf yang jelas dan 14 huruf yang tidak jelas—yang dalam pelajaran Ilmu Tajwid, masuk ke dalam bahasan Syamsiyyah dan Qamariyyah. Dari semua huruf-huruf itu, ada yang “divokalkan” dan ada yang “diejakan”, dan dalam kajian sufistik, huruf-huruf yang “diejakan” itu justru menyimpan makna misterius yang harus diungkapkan dan ditelaah secara seksama. Kedua-duanya memiliki daya tarik dan makna tinggi. Tidak ada diskriminasi di antara keduanya. Maka muliakanlah keduanya, demi mengagungkan teks-teks Ilahiyah yang sakral itu.

Suara (memang) berpengaruh pada daya tarik. Tapi, apakah setiap yang tidak bernada tidak baik? Tentu tidak. Semuanya tergantung pada kondisi kejiwaan seseorang. Apakah jiwanya sedang stabil ataukah terjadi ketidak stabilan yang disebabkan matinya hati, keras layaknya batu, yang kemudian membuatnya kepanasan layaknya seseorang yang kemasukan jin saat dibacakan Al-Qur’an, kemudian berteriak tanpa pengontrolan.

Kisah Seputar Bacaan Al-Qur’an

Dalam sejarah, banyak dikisahkan adanya orang-orang yang masuk Islam karena mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an. Labeid bin Rabia, seorang yang jika mendengar bacaan puisinya, sujud dihadapannya. Namun, saat dia mendengar bacaan Al-Qur’an, ia memeluk Islam dan terkagum pada ritme-ritme Al-Qur’an. Al-Qur’an berada di atas posisi puisi yang pernah dan sering ia lantunkan sebelum memeluk Islam.

Beberapa orang dari suku Quraisy, tidak menyukai mukjizat Nabi Muhammad ini. Mereka berkumpul, “Apa yang harus kita lakukan? Bagaimana kita akan memerangi Al-Qur’an ini, seruan yang menakjubkan ini, yang menarik dan membuat terpesona para pendengarnya?.” Namun tak ada satupun yang dapat menyaingi indahnya Al-Qur’an.

Berbeda dengan Labeid bin Rabia, sahabat Nabi Muhammad SAW yang terkenal berwatak keras dan bertubuh tegap pun terpana dengan bacaan Al-Qur’an. Dia adalah Umar bin Khattab. Di mana suatu saat, dia pernah berniat untuk menghunuskan pedangnya pada diri Nabi Muhammad SAW, namun fakta berbicara lain. Ia justru mendapat Hidayah.

Seseorang bertanya, “Hendak kemana engkau ya Umar ?”.

“Aku hendak membunuh Muhammad”, jawabnya.

“Apakah engkau akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhroh, jika engkau membunuh Muhammad?”.

“Jangan-jangan engkau sudah murtad dan meninggalkan agama asal mu?”, Jawab tegas Umar.

“Maukah engkau, aku tunjukkan yang lebih mengagetkan dari itu wahai Umar, sesungguhnya saudara perempuanmu dan iparmu telah murtad dan telah meninggalkan agamamu”, kata Abdullah sambil melihat wajah Umar.

Sahabat Umar pun secera bergegas menuju ke rumah adiknya. Sesampainya di tempat tujuannya, Umar mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an. Di dalam rumah itu, ada Khabbab dan Fatimah. Umar pun terpesona. Khabbab pun terpental jauh usai ditendang, sedangkan Fatimah terkena tamparan Umar.

Percekcokan pun terjadi. Saat Umar ingin menjapai Al-Qur’an, Fatimah tak mengizinkannya, disebabkan Umar dalam keadaan “najis”. Umar pun kemudian membersihkan diri. Mulailah membaca basmalah dan awal surah “Thaha”. Ia bukan kepalang takjubnya, hingga mencari keberdaan Nabi Muhammad. Orang yang keras pun langsung berlutut di hadapan teks-teks Ilahiyah. Tak ada keraguan pada kitab suci-Nya.

Kisah-kisah di atas, setidaknya membuat kita merenung kembali atas perbuatan selama ini. Jangan sampai kita termasuk orang yang menolak kebenaran. Jangan sampai kita diibaratkan seperti orang yang mati dan tidak dapat mendengar. “Sungguh, engkau tidak dapat menjadikan orang yang mati dapat mendengar” (Qs. Al-Naml [27]: 80). Lebih jauh lagi, “Sesungguhnya makhluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah mereka yang tuli dan bisu (tidak mendengar dan memahami kebenaran) yaitu orang-orang yang tidak mengerti” (Qs. Al-Anfal [8]: 22).

Al-Qur’an, tak bisa disamakan dengan nyayian. Dalam mendengarkan Al-Qur’an pun ada adab-adabnya, dan diatur dalam Islam. Rahmat dari Tuhan hanya bisa didapat, salah satunya saat Al-Qur’an terdengar oleh telinga kita, maka sesegara mungkin memperhatikan dan mendengarkannya dengan baik. ”Dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Qs. Al-A’raf [7]: 204). Adapun dalam penjelasan hadis Rasulillah Muhammad SAW, “Barangsiapa mendengarkan satu ayat Al-Qur’an,akan dicatat baginya satu kebajikan yang akan berlipat ganda. Dan barangsiapa membacanya, maka baginya cahaya di Hari Kiamat.”

Begitu agungnya Al-Qur’an, sampai-sampai ia bisa menjadi obat, hanya karena mendengarkannya, apalagi membacanya sendiri. Jika kita tidak mampu dan belum memiliki kemampuan berinteraksi yang baik dengan Al-Qur’an, maka janganlah membenci orang yang membaca dan melantunkannya. Jika pun engkau tidak menyukai nada bacaannya, maka jangan hina dirinya, karena banyak orang sukses berasal dari guru-guru kampung yang tak fasih membaca Al-Qur’an. Jika pun Anda tidak menyukai nada bacaan seseorang, maka hormatilah kepada apa yang dibacakannya. Bisa jadi, asbab penghormatan itulah, keberkahan menyertai Anda.

Saya, mampu menghafal Al-Qur’an di usia sembilan (9) tahun, dulunya belajar kepada guru ngaji, yang mungkin saat ini bacaan saya lebih baik darinya. Tapi tanpanya, saya tidak ada apa-apanya. Artinya, keberkahan bisa didapatkan, salah satunya melalui hormat dan “ta’dzim” kepada yang membacakannya. Jangan tutup telinga kita dari panggilan suci dari-Nya. Kebersihan hati, bukan ditentukan oleh indahnya seseorang membaca Al-Qur’an. Bisa jadi, orang-orang yang suara bagus dan melantunkannya dengan apik, namun tak ragu-ragu ia perjual belikan ayat-ayat itu dengan harga yang murah. Ia perlombakan dengan niat kesombongan dan memperlihatkan kepiawaiannya dalam memainkan nada-nada saat membaca Al-Qur’an. Semoga Tuhan merahmati kita semua. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *