Kemanusiaan Yang Terluka


“Atau Allah mau mengatasi malum tetapi Dia tidak dapat melakukannya, atau Dia dapat tetapi tidak mau melakukannya, atau Dia tidak dapat dan juga tidak melakukannya. Apabila Dia mau tetapi tidak dapat maka Dia lemah, sesuatu yang tidak cocok untuk Allah. Kalau Dia dapat tetapi tidak mau, maka Dia jahat dan ini pun seharusnya asing dari Allah. Kalau Dia tidak mau dan tidak dapat, maka Dia sekaligus jahat dan lemah, dan karena itu juga bukan Allah. Tetapi kalau Dia dapat dan mau, hal yang memang patut untuk Allah, tetapi darimana asal malum dan mengapa Dia tidak meniadakannya?"



diary tahunan saya (2015-2016), ada tulisan di atas yang diajukan pada saya saat ngobrol tentang konsep malum di Taman Baca Bintang United (TBBU), Ende. Sebuah pertanyaan teologis dan sangat filosofis. Di mana isinya membahas seputar apa yang dimiliki manusia, dunia dan Allah, dan kehendak-kekuasaan. Pertanyaan itu sebuah pertanyaan teodice yang dirumuskan secara klasik oleh Epikur. Berkat sewaktu di kampus dulu, saya suka baca pemikiran Imanuel Kant, maka istilah dan konsep malum bukan sesuatu yang asing. Tapi, sangat jarang dipakai saja dalam kehidupan sehari-hari.

Imanuel Kant pernah membaginya menjadi tiga, yaitu: malum physicum (keburukan alamiah), malum morale (keburukan moral) dan malum metaphysicum (keburukan metafisik). Jika pertanyaan teodice itu diajukan pada umat Katolik, maka rujukannya adalah Roma 3:5 Paulus saat berbicara tentang kebenaran Allah. “Allah tetap setia walaupun menghadapi ketidaksetiaan manusia.”

Jika ketidaksetiaan itu bersemanyam dalam jiwa manusia atau jika manusia mengetahui (mengerti) bahwa datangnya malum dari manusia, maka manusia memiliki tanggung jawab atas semua perbuatan yang tidak sesuai dengan malum. Apa itu malum?. Paul Budi Kleden (misalnya) dalam bukunya yang berjudul Membongkar Derita, Teodice: Sebuah Kegelisahan Filsafat dan Teologi (2006) mengajukan definisi—sekalipun umum—dengan: "keadaan yang merugikan dan membuat orang merasa dirugikan".

[caption id="attachment_684" align="aligncenter" width="278"] Info Pendaftaran 085811874120[/caption]

Definisi ini mengandung makna adanya sebuah "keburukan". Jika malum bermakna keburukan, maka lawannya adalah bonum (kebaikan), atau istilah yang dikenal dalam dunia filsafat yakni: verum (kebenaran). Tapi, makna verum lebih luas, ia menyimpang makna: "penyangkalan akan wujudnya kebenaran". Yang tampak hanya bungkus palsu, jika agama maka dia pseudo-religion atau civil religion dan “agama tiruan” saja. Jika dia institusi seperti pembela HAM, maka hamburger saja. Satu sama lain menampilkan kepalsuan. Kepalsuan yang wujud disebabkan hilangnya "pertanggung jawaban atas serpihan kebenaran" yang datang dari-Nya.

Apa hubungannya dengan Kemanusiaan Yang Terluka?. Hemat saya, saat seseorang menyangkal sila kemanusiaan yang universal, sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, maka tidak saja termasuk malum morale—meminjam istilah Imanuel Kant—tapi juga melukai para perumus sila itu. Saat ini jamak diketahui, bahwa "keadilan" sebagai makna dari "hukum" dan tonggak dari "kemanusiaan" hilang entah kemana perginya. Sama halnya dengan "amanah" sebagai makna dari "politik" sirna ditelan bumi. Akhirnya, kekerasan, ketidakadilan, penindasan kaum lemah, upaya menghancurkan martabat sebelah pihak, 'diskriminasi' terhadap kelompok minoritas, kebuasan kelompok mayoritas dan lain-lain seperti makanan kita sehari-hari.

***


 Manusia diciptakan Allah dari Al-Alaq (Qs. Al-Alaq [96]: 2), dimana manusia diciptakan dari adipati dari tanah (Qs. Al-Mu’minun [23]: 12), dari setetes air mani yang bercampur (Qs. Al-Insan [76]: 2), dari air mani yang memancar (Qs. Al-Qiyamah [75]: 37), dari tanah yang kering (Qs. Al-Rahman [55]: 14) dan ada juga dari tanah yang kering, yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk (Qs. Al-Hijr [15]: 26). Artinya, manusia dijadikan dari sari pati tanah dan sari pati tanah itu adalah air. Al-Qur’an menggunakan kata turab yang memiliki Anka “tanah yang gembut”. Dan umumnya, tanah yang gembur mengandung air. Begitu juga lumpur yang mengandung air. Tetapi mana yang lebih dulu, praktisi Al-Qur’an berbeda pendapat, tetapi yang pada intinya semua itu adalah materi.

Sebagi ciptaan Tuhan, maka manusia sebagai 'citra' Tuhan, sekalipun manusia bukan Tuhan, seyogyanya membuat manusia harus malu jika dirinya melukai sesama manusia dan unsur kemanusiaan itu sendiri. Seharusnya, manusia terpanggil untuk menampilkan dirinya sebagai "pemasok kasih" yang tak kenal batas. Kasih sebagai bagian verum harus wujud kongkrit di taman pertiwi.

Imam Ghazali mengatakan bahwa tujuan hidup manusia yaitu tercapainya kebahagiaan. Sedangkan tujuan akhirnya ialah tercapainya kebahagiaan akhirat yang puncaknya yaitu dekat dengan Allah dengan cara bertemu dan melihat Allah yang di dalamnya terdapat kenikmatan-kenikmatan yang menyeluruh, yang tidak pernah diketahui oleh manusia ketika di dunia.

Berbeda dengan Katolik yang mengartikan "manusia sebagai putra Tuhan", Islam sebagai ajaran yang universal, holistik, komprehensif dan filosofis beberapa kali mengingatkan bahwa “manusia adalah hamba Allah” (Qs. Al-Baqarah [2]: 2) dan "manusia adalah khalifah" (Qs. Al-Baqarah [2]: 30,Qs. Al-An’am [6]: 165, Qs. Shad [38]: 26 dan Qs. Fathir [35]: 39), kata yang menyimpan makna utusan-Nya, maka seharusnya terpanggil untuk mempertanggung jawabkan ikrar yang diucapkan "ruh" dengan "Tuhan Esa" sebelum ditiupkan ke dalam jasad. Inti dari ikrar itu ibadah. Ibadah memuat: ibadah individu dan ibadah sosial.

Dalam konteks ibadah sosial itu, manusia harus sama-sama membela rakyat lemah, membela kelompok minoritas secara proporsional dan adil, dan lebih tinggi lagi "memanusiakan manusia". Di dalam Katolik, mereka memiliki pemikiran "iman kepercayaan bukan merupakan jaminan untuk dapat secara radikal menjadi pengikut Kristus" (Yak 2:20).

Maka dalam konsep Islam, tidak saja manusia harus bersikap baik terhadap hidup, tapi iman terlebih dahulu dimantapkan dan kemudian diaktualisasikan, yang dalam istilah Al-Qur'an adalah amanu wa amilus-shalihat. Beriman (dirimu dengan Allah' dengan baik dan beramal kebajikan (Anda-manusia-Allah). Saleh secara spritual dan saleh secara sosial. Selanjutnya, agar tidak terjadi "kemanusiaan yang terluka", maka umat Muslim harus berpihak kepada yang "miskin".

Perdamaian tidak bisa dicapai kalau kesejahteraan pribadi-pribadi tidak dijamin dan tidak adanya saling kepercayaan. Benar adanya apa yang dikatakan KH. Hasyim Muzadi, kebebasan itu kebutuhan primordial manusia, tapi kebebasan yang tidak disanggah keimanan akan lari dari relnya. Begitu pula dengan perdamaian, perut-perut kosong bisa menjadi santapan mantab para pembuat malum. Maka perut-perut kosong itu dipikirkan dulu, baru memikirkan perdamaian hakiki. Kesejahteraan manusia adalah sarana menghilangkan luka itu.

Umat Muslim di Ende selama ini 'belum bersatu'. Dan belum bersatu memikirkan nasib Muslim yang lemah dan miskin. Jika tidak bersatu dan memikirkan ini, maka kemanusiaan kita adalah kemanusiaan yang terluka. Dalam bahasa Matius-nya, "Yang kamu lakukan terhadap saudara-Ku yang paling kecil, kamu lakukan untuk Aku. Yang tidak kamu lakukan untuk mereka, tidak kamu lakukan untuk Aku" (Matius 25: 31-46). Maka bekerjalah dan niatkan ibadah pada-Nya untuk membantu kaum lemah.

Di Samping itu, kemanusiaan yang terluka tidak saja dalam tatanan sosial yang rusak dan ekonomi yang rusak, tetapi dosa yang dilakukan manusia kepada manusia dan manusia kepada Allah adalah bagian dari kemanusiaan yang terluka. Biasanya, ketika rusak komunikasi manusia dengan Allah, maka terputuslah dirinya untuk bergerak memakmurkan dan menata bumi, ia cenderung memperkaya diri, sedangkan kemiskinan dan penderitaan orang lain tak berarti baginya.

Maka diutusnya Nabi Isa dan Nabi Muhammad sebagai teladan yang baik, bagaimana mendahulukan mereka yang paling menderita hidup di dunia, atau dalam bahasa umat Kristiani yakni: referensial option for the poor atau sebuah pilihan mendahulukan kaum miskin.
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *