Keberpihakan Pada Kaum Lemah


"Orang yang tidak berbuat apapun untuk kemaslahatan umat justru akan dililit  oleh permasalahannya sendiri"


——KH. Hasyim Muzadi



Pesantren pesantren tidak mengharuskan pendirinya harus kaya terlebih dahulu. Pendiri atau pemimpin dalam dunia pesantren itu ada dua model, yaitu: Pertama, pemimpin yang kharismatik. Ia mengandalkan wibawa yang lahir karena kepercayaan. Pemimpin ini biasanya mampu menaklukkan psikologi orang lain, sehingga memiliki kecenderungan untuk ikut berada di bawah perintahnya.

Kedua, Pemimpin manajerial. Ini trend leader. Kepemimpinan jenis seperti ini bisa dilatih.Pondasi dalam kepemimpinan ada empat, yaitu: planning, organizing, actuating dan controlling.

Mahmud EK, pendiri pesantren Walisanga Ende, dikenal masyarakat luas NTT adalah pemimpin yang memiliki kharismatik luar biasa. Berlatar belakang seorang Jamaah Tabligh dan pengamal tarekat Naqsabandiyah—setelah saya baca beberapa catatan hariannya bahwa dirinya pengamal tarekat itu—ia tidak saja dikenal oleh masyarakat Muslim se-NTT, tapi masyarakat Kristen Protestan dan Katolik.

Pada tahun 1970-an, H. Mahmud EK sudah dekat dengan para petinggi Gereja. Misalnya, Pater Ben Back, SVD, Sr. Beneditka, Pater Nikolas Hayon dan para suster Ursulin. Awal dari pertemanan ini cukup banyak rintangan. Tuduhan sinisme dan mengatakan bahwa ia tidak paham Islam, kerap berseliwir di telinganya. Bahkan, menurut anaknya, pada saat itu rumahnya pernah dilempar, namun ia tetap menjalin hubungan lintas agama dengan sesuai aturan syariat Islam.

“Pada tahun itu (1970-an) saya diangkat menjadi PNS dan ditetapkan di Wolowaru. Di sana saya bertemu dengan anak-anak usia sekolah yang buta huruf. Mereka hidup dalam kemiskinan. Serba kurang. Selain itu, banyak orang Wolowaru yang beragama Islam namun mereka tidak mengerti bagaimana hidup menurut agama yang dianut. Semua pengalaman itu saya sharing kepada suami saya, Bapak Mahmud EK yang waktu itu bertugas di Departemen Agama Kabupaten Ende. Saya meminta beliau untuk bertanggung jawab terhadap kenyataan tersebut. Dan ternyata beliau tidak keberatan. Kami pun berunding tentang rencana mendirikan sebuah panti asuhan," ujar Ibu Siti Fatimah Nganda. Maka terbangunlah sebuah panti asuhan yang dikelola oleh orang-orang Islam.

Karena dulunya, para saudara-saudara anak yatim-piatu yang beragama Islam masih menitipkan anaknya kepada panti Naungan Kasih, salah satu panti yang didirikan orang Katolik. Maka atas saran seorang pater dari Serikat Sabda Allah (SVD) untuk membuat panti asuhan khusus orang Islam. Maka saran ini pun dilaksanakan oleh abah Mahmud.



Tekat suami-istri untuk membuat panti dengan tujuan memberikan pelajaran dan didikan yang baik kepada seluruh masyarakat Muslim yang miskin itu semakin tinggi. Sekalipun ada tanggapan sinis, dikarenakan bagaimana mungkin membuat orang hidup layak sedangkan mereka hidup dalam pas-pasan. Ada sebuah pepatah, "sebuah bangunan baru dikatakan kokoh kalau bangunan itu tegak berdiri ketika gempa bumi menggoncangnya dan badai yang dahsyat menerpannya." Ini cukup menjadi penguat mereka berdua. Tekat kuat tidak boleh sampai menjadi kecut. Dalam kenyataannya, setiap terobosan baru selalu menampilkan wajah ganda. Hal ini sangat di sadari oleh mereka.

Dulunya, Walisanga bertempat di Jalan Perwira, namun saat saya mengabdi di Ende, lokasi pesantren berpindah ke Jalan Ikan Duyung, Kelurahan Rukun Lima, Kecamatan Ende Selatan. Lokasi ini luas tapi jauh dari pusat perkotaan. Pesantren ini dikelilingi oleh gunung, termasuk Gunung Meja. Sebuah Gunung yang memiliki sejarah. Jika Anda ke Ende, tapi belum pernah menaiki Gunung Meja, Anda belum ke Ende. Aneka kesulitan sering ditemukan tapi lagi-lagi mereka selalu terkobarkan oleh cita-cita "memerdekakan orang dalam suatu kompetisi". Satu persatu niat baik mereka terlaksanakan dan dikabulakan gusti Allah.

Keberpihakan pada kaum lemah (kecil) yang dimaksudkan bermakna ganda. Pertama, lemah dalam takaran materi. Walisanga di setting untuk menampung anak-anak yatim, piatu, yatim-piatu, anak-anak terlantar dan anak-anak yang lahir dari keluarga miskin.

Walisanga yang berdiri di bawah fondasi solidaritas dan berpayungkan kemanusiaan mengharamkan keputusan untuk berhamba kepada materi. Namun, bukan berarti materi tidak dibutuhkan. Sebab, mereka yang datang adalah orang-orang yang kekurangan materi dan harus

Ketika saya mengajar di Madrasah Tsanawiyah, dengan total 30 jam perminggu, mengajar Bahasa Arab, Fikih, Akidah Akhlak, SKI dan Al-Quran-Hadis, saya sering mengalami kesusahan. Di samping watak keras, latar belakang anak yatim-piatu berbeda dengan anak-anak pada umumnya, khususnya dalam hal akhlak dan ketaatan. Ketika pertama kali mengajar, saya memberikan waktu kepada setiap mereka untuk menceritakan pengalaman pribadi mereka.

Dan ternyata, ada yang tinggal di pondok itu, tapi tidak tahu siapa ayah-ibunya, dititipkan ke pondok dan tidak ditengok sampai dewasa. Ada yang dipondok hanya mengandalkan pembagian sabun mandi, odol dan sabun cuci dari pesantren, karena mereka tidak tau ingin meminta kepada siapa, ditinggalkan dan entah kemana ingin mengadu nasib. Maka, pembagian dalam setiap minggu dan bulanan untuk hal-hal remeh pun sangat mereka butuhkan.

Begitu pula untuk jajan, hampir setiap hari saya memberikan secara bergilir untuk mereka. Alhamdulillah, waktu itu saya masih digaji oleh Kemenag, jadi sedikit bisa membahagiakan mereka.

Mengajar di pesantren 24 jam tanpa digaji dan diberikan tambahan oleh pesantren adalah hal luar biasa. Di samping Ende serba mahal, ketika salah seorang santri meminjam dan meminta ingin jajan, tapi saya sedang kosong, kerap membuat saya meneteskan air mata. Luar biasanya, satu-satunya pesantren yang saya lalui, makan bubur dua kali dan makan nasi sekali. Pagi bubur, siang nasi dan malam bubur. Bahkan, makan dengan nasi dan sambel belimbing saja, pernah saya alami. Sekalipun berlatar belakang dari pesantren, bagi saya pesantren ini dahsyat ujiannya.

Setiap minggu kita harus cari kayu untuk masak di gunung Meja. Mendaki ke gunung Meja, kira-kira 2 jam. Tapi, itu harus dilakukan, baik oleh santri putra maupun putri. Dan masak oleh mereka sendiri. Jika bulan ini santri putra, maka esoknya santri putri. Saya selalu makan bersama mereka dengan sajian apa adanya. Jika telor itu biasa kita makan sendiri, maka di sana kita bagi lima.

Kedua, kuam lemah dan kecil dalam takaran pradaban dan moral. Pada saat mengabdi, jumlah santri berkisar 110-an, santri putri 56,7 persen dan putra 43,3 persen. Umumnya mereka berasal dari daerah Manggarai, Ngada, Ende, Lamaholot dan lain sebagainya. Di mana mereka umumnya lahir dari daerah yang rawan konflik.

Data yang saya peroleh, 83,3 persen dari mereka dibesarkan dari keluarga petani miskin, 6,7 persen dari tukang dan 10 persen dari nelayan amatiran. Di perparah, jika kita tinjau dari segi ESQ, maka semuanya rendah. Indikasi ini bisa dilihat, saat ujian (misalnya) banyak remidial dan lain sebagainya.

Kerendahan tiga aspek itu kerap mendatangkan fitnah adanya kemudahan SVD untuk mengkatolikkan santri. Tapi, sejak pertama kali SVD bergabung dan membantu Walisanga, tidak ada yang masuk Kristen Protestan maupun Katolik. Justru, banyak frater yang berhenti di tengah jalan dan tidak melanjutkan misi pastoral dan imamnya.

Jadi, Walisanga betul-betul wadah yang berpihak kaum lemah dan kecil. Tapi sayangnya, keberadaannya belum terlalu dipikirkan oleh pejabat-pejabat Muslim di NTT.Saya hanya mengajak Anda semua, doakan mereka para anak yatim-piatu, agar mereka sehat selalu dan pendirinya ditabahkan oleh Allah SWT. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *