Kebaikan Tertinggi dalam Beragama

Peran agama dalam public space kian menjadi isu kontroversi di dalam khazanah sejarah Indonesia. Asumsi-asumsi yang ‘merasuki’ abad kekinian adalah apakah agama mampu menghantarkan manusia kepada keluhuran budi pekerti (akhlakul karimah) ataukah membuat manusia menjadi budak hawa nafsu, dan mengakibatkan pada profanisasi pada segala aspek kehidupan beragama.

Dalam konteks ini, Indonesia kembali digemparkan dengan kejadian tidak terpuji, menginjak Al-Qur`an. Sakralisasi kepada teks kitab suci (Al-Qur`an) sudah menjadi buaian belaka, dan berpindah kepada tahap desakralisasi firman-firman-Nya. Corak budaya, pola pikir yang menihilkan etika kepada Tuhan, agama dan kitab suci merupakan konsekuensi logis dari arus globalisasi saat ini.

Agama dalam istilah Emile Durkheim merupakan collective representation (representasi kolektif) bagi sebuah masyarakat. Representasi kolektif menjadi pintu dan menjadi sebab terbentuknya kohesivitas sosial. Budaya ini akan membentuk dalam skala besar, namun ketika hilang sense of community dalam sebuah masyarakat maka peran agama sebagai panduan bermasyarakat akan redup dan pudar.

Rasionalisasi dan birokratisasi yang kebablasan dalam struktur berpikir akan menjadikan manusia meminggirkan “etika beragama” dalam generasi abad kekinian. Fenomena menginjak Al-Qur`an merupakan buah dari mengebu-gebunya dan me-‘Tuhan’-kan akal. Berpikir “radik” dalam kajian filsafat mempunyai ruh yang sama dengan Al-Qur`an. Sikap berpikir yang kritis menjadi anjuran dalam Al-Qur`an, tetapi dalam ruang lingkup tersebut, Al-Qur`an menganjurkan pula kepada manusia untuk menjadi manusia yang beradab.

Agama dan pembawa agama ibarat dua keping sisi mata uang, saling mendukung satu sama lain. Eksistensi “pembawa agama” merupakan konsekuensi logis dalam beragama, ketika agama dipisahkan dengan pembawa agama maka satu titik unsur “moralitas agama” akan hilang.

Menjunjung tinggi etika terhadap kitab suci Al-Qur`an dalam budaya keislaman yang baik harus terus dijaga. Etika diperlukan bukan karena eksistensi adab merupakan bentuk keluhuran tertinggi dalam beragama, melainkan karena wujudnya etika adalah sebuah keniscayaan. Dalam pola pikir komunal masyarakat Indonesia, moralitas menjadikan keberadaan Tuhan sebagai rujukan objektif bagi perintah-perintah moral dan etika. Karenanya Immanuel Kant menyebut bahwa moralitas dan etika merupakan “kebaikan tertinggi” di dalam beragama, inilah salah satu bentuk yang mengantarkan kita pada kebahagian, baik skala individu maupun skala banyak (masyarakat).

Dalam kajian-kajian literatur filsafat, kita akan menemukan dimana salah satu jenis “moralitas teistik” yaitu teori “perintah tuhan”. Teori ini akan mengantarkan manusia kepada etika memperlakukan kitab suci Al-Qur`an. Etika maupun moral dalam budaya beragama selalu merujuk kepada kitab suci Al-Qur`an. Etika ini selalu terdapat di dalam jiwa-jiwa manusia yang beriman kepada Tuhan, apapun agamanya.

Agama-agama yang ada di dunia, mengajarkan sebuah doktrin dan pandangan yang cukup menjadi renungan kita, pandangan dimana manusia sejatinya memiliki hati nurani moral yang bersifat inheren atau bawaan sejak lahir. Konsekuensi dalam pola pikir ini adalah ketika umat Islam mengakui kesakralan teks-teks kitab suci Al-Qur`an, baik dalam bentuk firman-firman-Nya maupun dalam bentuk wujud, maka argumen moral dan etika kepada Al-Qur`an hadir dalam jiwa seseorang.

Argumentasi komunal masyarakat terkait bahwa Al-Qur`an yang ada saat ini, baik dalam tulisan maupun wujud bentuk yang dicetak terus menerus adalah bersifat otentik. Otensitas Al-Qur`an akan terus dijaga, karena Al-Qur`an dalam membicarakan hal ini memakai kata “kami” ketimbang Tuhan menyebut dirinya sendiri. Sakralitas semacam ini memang bertolak belakang dengan argumentasi bahwa kepercayaan umat Islam saat ini, hanyalah formulasi dan angan-angan teologis.

Fenomena menginjak Al-Qur`an merupakan bias dari rentetan pola pikir yang menganggap mushaf Al-Qur`an tidak sakral apalagi absolut, mushaf hanyalah sesuatu yang bersifat fleksibel. Sedangkan yang absolut hanyalah pesan Tuhan di dalam Al-Qur`an, yang terus menerus digali maknanya. Pemikiran demikian ini, mengajak khalayak berpikir kepada sebuah sistem dan doktrin tentang posisi otentisitas wahyu Tuhan yang masih kontroversi.

Skeptisisme di dalam dunia Islam terhadap integritas mushaf Ustmani pada faktanya tidak dipijakkan atau disandarkan pada kritik historis atau kajian ilmiah yang komprehensif, melainkan kepada prasangka dogmatis yang berkelanjutan, yang pernah dilakukan oleh para orientalisme-orientalisme di Barat.

Keluhuran budi pekerti dan etika dalam memperlakukan Al-Qur`an menjadi syarat mendapatkan pahala dari-Nya. Salah satu etika dan gambaran penghormatan kepada Al-Qur`an, seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Taimiyah, “mushaf-mushaf yang sudah tua, sudah sobek dan tidak bisa digunakan lagi untuk membaca, maka sebaiknya mushaf itu dikubur (atau dibakar) ditempat yang terjaga, sebagaimana kehormatan badan seorang mukmin, dia harus dimakamkan di tempat yang terjaga”.

Al-Qur`an adalah sesuatu dan pertanggung jawaban atas pemaknaan kepada Al-Qur`an adalah sesuatu yang lain. Keyakinan akan sakralitas Al-Qur`an dan menghormati Al-Qur`an merupakan buah dari akhlak yang baik, karena kekuatan akhlak membutuhkan latihan-latihan yang bersifat konsisten (istiqamah). Peliharalah Al-Qur`an dengan menjaganya, menjaga dengan segala keutuhan bentuknya, baik teks maupun wujud Al-Qur`an itu. Dan siapa pun yang melecehkan Al-Qur`an, maka Al-Qur`an meminta pertanggung jawaban moral seseorang. []

*Makmun Rasyid, Ende, 2016
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *