Karakteristik Kitab Sab’ah karya Ibnu Mujahid & Kitab Al-Taisir karya Al-Dani

Diskursus dan kajian Ilmu Qiraah dalam tradisi beragama masyarakat Indonesia tidak berjalan mulus, ia mengalami fluktuasi yang naik turun. Tentunya ini disebabkan oleh karakter dan sifat ilmu ini yang mendekati tarap sulit. Kesulitan ini tampak dari tidak semuanya Muslim mengerti alur dan tata cara bacanya, yang berbeda dengan perhatian Muslim pada bidang-bidang ke Al-Qur’anan lainnya. Di samping kebingungan-kebingungan yang ada, tidak banyak pula Muslim yang mengerti sejumlah ragam dan tata cara bertentu yang sejak awalnya tidak sama. Ilmu Qiraah ini layaknya ilmu Fikih yang tidak satu ragam. Namun ia menjadi syarat mufassir Al-Qur’an. Imam Al-Suyuti menyatakan bahwa di disiplin ilmu ini tidak bisa diabaikan begitu saja.[1]

Tak ayal pula, di kalangan Muslim kerap dicampurkan antara maksud dari ahruf sab’ah dengan qiraah sab’ah atau qiraah asyr. Sejatinya, hadis-hadis yang berbicara ahruf sab’ah tentang qiraah bukan dimaksudkan pada qiraah sab’ah atau asyr, melaikan keduanya merupakan bagian saja dari ahruf sab’ah tersebut. Oleh sebab itu, Abu Abdullah ibn Muhammad ibn Suraih Al-Raiyani Al-Andalusi dalam kitabnya mengafirmasi adanya perbedaan makna dari ahruf sab’ah tersebut, yang di antaranya berkenaan dengan pemahaman dan pemaknaan terhadap teks yang ada.[2]

Munculnya konsep qiraah sab’ah, masyhur dan syadzah menjadi sesuatu yang urgen. Di antara ketiga, yang cukup terkenal adalah qiraah sab’ah. Kerap pula angka tujuh tersebut dinisbatkan kepada hadis yang berkaitan dengan sab’ah ahruf atau dalam Al-Qur’an, “Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung” (Qs. Al-Hijr [15]: 87). Dan tentunya, konsep tujuh ini memeliki kaitan dengan konsep yang disusun oleh Ibnu Mujahid dalam membakukan qiraah sab’ah.

Penting untuk diketahui bahwa ilmu tidak seperti ilmu lainnya yang melahirkan ijtihad. Ilmu ini tidak ada ruang dalam berijtihad, di situlah keunikan ilmu ini. Sebuah ilmu yang diucapkan dari mulut ke mulut, dari seorang ahli Al-Qur’an dan qiraat diucapkan ke murid-muridnya.[3] Itu sebabnya, ilmu ini ada yang mutawatir, “masyhur” maupun “saydzah”.

Keniscayaan ilmu ini memang bisa ditinjau dari aspek sejarah. Di mana Al-Qur’an diturunkan di tengah-tengah manusia yang beragam. Abdul Gahffar Al-Farisi mengatakan bahwa karena keragaman warna kulit, perbedaan suku yang ada di Arab, perbedaan macam bahasa, dialek yang beragam juga menjadi penyebab kesulitan jika Al-Qur’an hanya diturunkan dalam satu bahasa. Di sinilah, Ibnu Qutaibah menyatakan adanya “kemudahan” untuk siapa saja yang menerima dan ingin bernostalgia dengan Al-Qur’an, diturunkan sesuai dengan bahasa dan kebiasaan yang berkalu dalam internal suku dan kelompok mereka.[4]

***



Sejarah Kehidupan Ibn Mujahid

Nama lengkapnya adalah Ahmad ibn Musa ibn al-‘Abbas ibn Mujahid al-Tamimi al-Hafidz al-Ustadz Abu Bakar ibn Mujahid al-Baghdadi. Ibn Mujahid merupakan salah seorang yang pertama kali memprakarsai pengumpulan qiraat dengan menggunakan tujuh imam. Beliau dilahirkan di sebuah daerah yang bernama Suq al-‘Athasy tepatnya di kota Baghdad pada tahun 245 H. Beliau wafat pada hari Rabu tanggal 20 Sya’ban tahun 324 H seusai melaksanakan shalat dhuhur.[5]

Ibn Mujahid mengawali pendidikannya pada usia yang bisa dibilang sangat muda. Beliau mengawalinya dengan menghafal Al-Qur`an serta mendalami ilmu bahasa dan beberapa ilmu keagamaan. Selain itu, beliau juga sangat menguasai ilmu qira’at Al-Qur`an beserta tafsir, makna, dan i’rabnya baik dalam segi riwayat maupun thuruqnya. Dalam pendidikannya, beliau memiliki banyak guru. Akan tetapi, diantara sekian banyak gurunya, Abdur Rahman ibn Abdus merupakan salah satu guru yang paling diakui ketsiqahan dan kedhabitannya. Abdur Rahman ibn Abdus[6] merupakan salah satu murid dari Abu ‘Amr ad-Duri.[7]

Diantara karya Ibn Mujahid yang paling fenomenal dan menjadi pedoman bagi pegiat ilmu qiraat adalah Kitab al-Sab’ah fi al-Qiraat. Hal tersebut bisa dibuktikan dengan meluasnya daerah kekuasaan Islam pada masa itu serta mulai menurunnya minat masyarakat pada pendalaman qiraat. Oleh karena itu, Ibnu Mujahid berupaya untuk meningkatkan kembali minat terhadap qiraat di kalangan umat Islam dengan mendeklarasikan qiraat sab’ah.

Melalui Kitab as-Sab’ah ini, Ibnu Mujahid membatasi ragam bacaan hanya dengan merujuk pada tujuh macam qiraat yang masyhur saja pada masa itu. Namun demikian, bukan berarti beliau mengesampingkan qiraat yang lain karena qiraat lainnya dipandang kurang populer serta minat masyarakat yang mulai menurun.

Meski upaya pembatasan qira’at sudah seringkali dilakukan sejak zaman khalifah ‘Utsman bin ‘Affan, Pembatasan pada masa Ibn Mujahid ini sangatlah berbeda, yakni dengan disertai ancaman hukuman bagi mereka yang menggunakan qira’at lain selain yang tujuh. Kebijakan ini didukung oleh fuqaha’ dengan fatwa sebagai berikut: “orang yang masih membaca dengan qira’at syadzdzah harus bertaubat dan berhadapan dengan pemerintah, serta akan ditindak tegas”. Akibat kebijakan ini, Ibnu Syanabudz, salah seorang tokoh qira’at dihakimi pemerintah karena membaca Al-Qur`an dengan qira’at syadzdzah di depan mimbar.[8]

Pada tahun 286 H, Ibn Mujahid diangkat sebagai imam qiraat di Baghdad. Beliau juga memiliki kedudukan yang tinggi di pemerintahan. Akan tetapi dengan kedudukannya itu, beliau tidak merasa terlena sedikitpun. Beliau tergolong zahid yang tidak memperdulikan kemewahan duniawi. Semua itu beliau lakukan semata-mata hanya untuk mengharapkan ridha Allah SWT.[9]

Pasca kemunculan Kitab al-Sab’ah karya Ibn Mujahid ini, minat masyarakat dalam mempelajari serta mendalami ilmu qira’at semakin meningkat. Hal tersebut dapat dibuktikan dari banyaknya respon para ulama baik pada masa itu maupun masa sesudahnya dengan keikutsertaan mereka dalam melestarikan ilmu qira’at melalui beberapa karya. Adapun karya-karya para ulama’ qira’at sebagai berikut:

  1. Al-Ghayah fi al-Qira’at al-‘Asyrah karya Abu Bakar Ahmad ibn Husein ibn Mahran (w. 381 H)

  2. Al-Taisir karya ulama Andalus bernama Abu ‘Amr al-Dani (w. 444 H). kitab tersebut menjadi acuan Imam as-Syathibi (w. 590 H) dalam mengarang kitabnya yang berudul al-Hirzul al-Amani wa Wajhu al-Tahani atau yang pupoler dikenal dengan Nazam Syathibiyyah,

  3. Al-Iqna’ karya Abu Ja’far ibnu Badzisy (w. 540 H). kitab tersebut berisi kaidah bacaan imam qira’at

  4. An-Nasyr fi Qira’at al-‘Asyr karya Ibn al-Jazary (w. 833 H). kitab ini menjadi penguat dari kitab al-Ghayah untuk mempopulerkan dan menempatkan qira’at asyrah dalam jajaran qiraat yang shahih.


Popularitas Ibn Mujahid menyebar di berbagai penjuru daerah kekuasaan Islam. Hal ini dapat dibuktikan dengan membeludaknya majelis pengajian yang diselenggarakannya. Bahkan terdapat sekurang-kurangnya 84 asisten yang membantu beliau dalam proses pengajaran ataupun penyampaian pada khalayak yang berasal dari berbagai daerah dengan beragam perbedaan lahjah dan bahasa.[10]

Sanad Keilmuan Ibn Mujahid

Seiring dengan meluasnya aktifitas Ibn Mujahid dalam mendalami ilmu qiraat dengan cara talaqqi kepada beberapa ulama ahli qiraat, tercatat banyak sekali perbedaan bacaan antara satu guru dengan lainnya. Maka dari itu Ibn Mujahid mulai menghafalkan seluruh ragam bacaan dari berbagai jalur yang ia terima pada masa itu. Misalnya dari salah satu gurunya yang bernama Abdur Rahman ibn Abdus, Ibnu Mujahid menerima sanad qiraat menurut riwayat Nafi’ dan disetorkan dengan metode musyafahah (sorogan) lebih dari dua puluh kali khataman. Bukan hanya qirat Nafi’ saja yang berhasil beliau khatamkan, qiraat menurut riwayat Hamzah, al-Kisai, dan Abu ‘Amr juga berhasil beliau hatamkan lebih dari satu kali.

Dikisahkan pula bahwasanya Ibn Mujahid mengambil sanad qiraat riwayat Ibnu Katsir kepada Qunbul yang merupakan salah seorang imam qiraat terkemuka di daerah Makkah. Aktifitas yang ia lakukan ini seakan menandakan betapa besar gairah serta minatnya terhadap ilmu qiraat. Ia merelakan diri untuk berkelana dari kota Baghdad menuju Makkah, Madinah, Kuffah, Basrah serta Damaskus hanya untuk mengejar tujuannya yakni mendapatkan sanad qiraat.[11]

Dari usaha yang beliau lakukan guna untuk mendapatkan sanad qiraat dari beberapa guru dengan cara talaqqi secara langsung, Ibn Mujahid telah berhasil meriwayatkan berbagai ragam qiraat kurang lebih dari empat puluh orang guru.[12] Diantara sekian banyak guru Ibn Mujahid yang terkemuka antara lain:

  1. Abdu al-Rahman ibnu Abdus Abu al-Za’ra’ al-Baghdadi

  2. Idris ib Abdu al-Hakim al-Haddad Abu al-Hasan al-Baghdadi (w. 292 H)

  3. Ahmad ibn Zuhair Abu Bakar ibn Abi Khaitsumah al-Baghdadi (w. 272 H)

  4. Ahmad Ibn Yusuf Abu Abdullah al-Taghlibi al-Baghdadi

  5. Ismail ibnu Ishaq Abu Ishaq al-Qhadli al-Baghdadi (w. 282 H)

  6. Al-Hasan ibn Abi Mahran al-Jamaal al-Razi (w. 289 H)

  7. Al-Hasan ibn Ali Abu Ali al-‘Asynani al-Baghdadi (w. 278 H)

  8. Abdullah ibn Sulaiman Abi Daud al-Sajastani (w. 316 H)

  9. Muhammad Ibnu al-Jahm al-Simari al-Baghdadi (w. 208 H)

  10. Muhammad ibnu Abdu al-Rahman Khalid al-Makki (w. 290 H)


Kitab al-Sab’ah fi Al-Qira’at

Sebelum Ibn Mujahid datang dengan membawa konsep qiraat tujuh, ulama-ulama besar terdahulu telah banyak merumuskan ragam qiraat dalam sebuah buku. Diantara sekian banyak ulama tersebut adalah Abu Abid al-Qasim ibn Salam (w. 224 H) menghimpun suatu kitab yang didalamnya mengulas 25 ragam bacaan, begitu pula dengan salah satu guru dari Ibn Mujahid yang bernama Ismail ibn Ishaq al-Baghdadi yang juga merupakan seorang hakim (w. 283 H), ia telah merumuskan 20 ragam bacaan dalam satu buku. Salah seorang imam ahli tafsir bernama Ibnu Jarir al-Thabari (w. 310 H) juga turut serta menyumbangkan sebuah karya berisi lebih dari 20 ragam bacaan.

Berdasarkan kondisi umat pada masa itu dimana minat terhadap ilmu qiraat kian menurun, serta menyebarnya berbagai bacaan syadzdzah, maka Ibnu Mujahid berupaya untuk merumuskan kembali ragam bacaan qiraat hanya menjadi tujuh macam ragam bacaan. Pemilihan tujuh ragam bacaan ini bukan bermaksud untuk menyamakan dengan apa yang disampaikan Nabi saw. dalam haditsnya tentang Sab’atu ahruf, melainkan untuk menyelaraskan bacaan shahih yang terkenal di setiap daerah. Pemilihan daerah tersebut juga bukan tanpa alasan mengingat daerah-daerah tersebut menjadi basis terbesar dalam dunia islam pada masa itu.

Adapun tujuh imam qiraat yang mewakili daerah masing-masing serta menjadi rujukan utama Ibn Mujahid dalam bukunya adalah:[13]

  1. Madinah al-Munawwarah diwakili oleh Imam Nafi’.

  2. Makkah al-Mukarramah diwakili oleh Imam Ibn Katsir.

  3. Kuffah diwakili oleh Imam ‘Ashim, Imam Hamzah, Imam al-Kisai.

  4. Bashrah diwakili oleh Abu ‘Amr ibn al-‘alaa.

  5. Syam diwakili oleh Abdullah ibn ‘Amir.


Daerah Kuffah merupakan satu daerah istimewa dimana Ibn Mujahid mengambil tiga perawi dari sana, hal ini berbeda dengan daerah lain yang hanya diwakili oleh satu orang. Kebijakan ini diambil oleh Ibnu Mujahid dengan argument bahwasannya ketiga imam dari Kuffah tersebut memiliki keistimewaan yang berbeda satu dengan lainnya.

Pemilihan Ibn Mujahid sehingga menghasilkan tujuh imam tersebut melalui proses yang panjang dan seleksi yang mendetail. Ia berijtihad dengan rentang waktu yang lama tanpa kenal lelah mempelajari setiap ragam bacaan siang dan malam, sehingga dapat menghadirkan satu rumusan yang paten. Para ulama ahli qiraat pada masa itupun dengan sigap dan seksama menerima dan mengikuti buah karya Ibn Mujahid serta menjadikan kitabnya sebagai inspirasi dalam melahirkan karya-karya agung berikutnya. Atas dasar itulah Ibnu Mujahid merumuskan kitabnya dengan mengacu kepada tujuh imam perawi tersebut. Didalam kitabnya dijelaskan juga secara detail dan terperinci mengenai perbedaan masing-masing imam perawi.

Dalam mengklasifikasi bacaan, Ibnu Mujahid merupakan orang yang sangt selektif dalam memilih dan memilah. Hanya bacaan yang memenuhi standar lah yang bisa diterima dan masuk kedalam bukunya. Walaupun bacaan lain telah masyhur di kalangan ummat serta dibawakan oleh seorang tokoh ternama, namun jika tidak sesuai dengan kaidah yang diberlakukan oleh Ibnu Mujahid, maka bacaan tersebut akan ditolak. Adapun parameter yang dipakai oleh Ibnu Mujahid adalah;[14]

  1. Kesesuaian dengan kaidah Nahwu (tata Bahasa Arab)

  2. Kesesuaian dengan Rasm Utsmani

  3. Periwayatan melalui sanad yang shahih


Rumusan yang dipakai oleh Ibn Mujahid ini telah disepakati oleh jumhur ulama pada masa itu serta dijadikan pedoman utama dalam menentukan diterima atau ditolaknya suatu ragam bacaan. Bahkan Imam al-Jazary juga mengabadikan parameter tersebut dalam bait Thayyibatu al-Nasyr seperti berikut ini:[15]

??????? ??? ?????? ?????? ???????? * ??????? ????????? ???????????? ??????????


??????? ?????????? ???? ?????????? * ???????? ??????????? ???????????


??????????? ????????? ?????? ???????? * ?????????? ???? ??????? ??? ??????????


“Setiap qiraat yang sesuai dengan wajah nahwu (Bahasa), memungkinkan tercakup oleh rasm utsmani, dan memiliki sanad shahih adalah (termasuk) Al-Qur`an. Inilah ketiga rukun (diterimanya qiraat), sewaktu ada salah satu rukun yang cacat, maka pastikan kesyudzdzudzannya seandainya ada pada qiraat sab’ah”[16]

 Dalam merumuskan buku, Ibn Mujahid berpedoman pada tujuh Imam perawi qiraat yang terkemuka pada zaman itu serta menggunakan tiga klasifikasi diatas untuk melakukan seleksi. Lalu timbul satu pertanyaan; bagaimanakah nasib qiraat lain yang selain qiraat tujuh?

Pemilihan tujuh ragam bacaan versi Ibn Mujahid bukan berarti menafikan bacaan lain, namun ia mengklasifikasikan sebagai bacaan yang syadzdzah karena tidak memenuhi standar yang ada, atau dengan kata lain menjadikan tujuh ragam bacaan tersebut berada dalam tingkatan tertinggi dari segi sanad dan periwayatan.

Ibn Junni juga memperjelas argumen Ibn Mujahid dengan membagi qiraat dalam dua bagian yaitu, Pertama: adalah qiraat yang telah disepakati oleh para ulama ahli qiraat pada masa itu dan dari seluruh daerah kekuasaan islam, sebagaimana yang telah dirumuskan Ibn Mujahid dalam bukunya Kitab al-Sab’ah. Kedua: adalah segala macam bentuk qiraat selain dari qiraat yang tujuh, atau yang biasa kita sebut sebagai qiraat syadzdzah.

Ibn Junni mendefinisikan syadzdzah menurutnya adalah bukan berarti suatu wajah qiraat dihukumi dhaif atau lemah dan bahkan tertolak. Dinamakan syadzdzah karena sedikitnya ahli qiraat yang meriwayatkan pada masa itu, serta kurang popular jika dibandingkan dengan qiraat tujuh. Ukuran sedikit disini juga bukan berarti sedikitnya perawi sehingga mengurangi kadar kemutawatirannya.[17]

Karakteristik Kitab Al-Sab’ah

Tidak berlebihan rasanya jika menyebut Kitab al-Sab’ah merupakan kitab suci utama bagi para pegiat serta pemerhati ilmu qiraat. Karena keberadaan kitab al-Sab’ah ini yang telah memicu munculnya karya-karya lain yang sejenis dalam hal ilmu qiraat. Kitab al-Sab’ah telah dibukukan dalam satu jilid besar pada masa modern ini setelah melewati beragam kajian filologi yang diusung oleh Dr. Syauqi Dhaif.

Sebagai tokoh yang pertama memproklamirkan qiraah tujuh, Ibn Mujahid mengawali pembahasan dalam bukunya dengan pengenalan terhadap para perawi qiraah lengkap dengan nasab masing-masing perawi, juga menjelaskan runtutan sanad-sanad mereka yang sampai kepada Rasulullah saw. kemudian memaparkan argumentasi atas dasar apa pemilihan para perawi tersebut.[18] Pengenalan terhadap para perawi ini dipaparkan dengan sangat gamblang sebanyak 48 halaman, mulai dari halaman 53 hingga akhir halaman 101.

Dalam kitab al-Sab’ah ini, Perawi qiraat yang pertama kali disebut adalah Imam Nafi’. Hal ini sangatlah wajar dan dapat dimaklumi mengingat Ibn Mujahid lebih banyak mengenal riwayat Nafi’ dibanding riwayat lainnya. Sebagaimana sanad keilmuan qiraat yang ia dapat dan ia setorkan kepada gurunya Abdurrahman ibn Abdus sebanyak 20 kali hataman lebih. Juga runtutan sanad yang bersambung langsung kepada Rasulullah saw. juga melalui riwayat Nafi’.

Didalam bukunya (Kitab al-Sab’ah) disebutkan bahwasanya jika seluruh imam qiraat tujuh bersepakat pada satu bacaan dan tidak terjadi perbedaan didalamnya, maka ia menggunakan sebutan dengan istilah lafadz (??? ????) sebagai perwakilan, dan bila terdapat perbedaan bacaan didalamnya baru ia akan menjelaskan perbedaan tersebut dengan rinci.

Pada pembahasan pertama langsung mengarah kepada surat al-Fatihah. Ibn Mujahid menjelaskan dengan sangat detail dan rinci setiap bagian yang terdapat perbedaan didalamnya beserta hujjah atau landasan hukum masing-masing perawi. Seperti ketika memaparkan perbedaan bacaan pada ayat ke 4 surat al-Fatihah: (??? ??? ?????) dengan menetapkan alif atau meniadakannya.

Ulama ahli qiraah berbeda pandangan dalam hal ini, ‘Ashim dan al-Kisai mengacu pada penetapan alif dan dibaca panjang selayaknya mad dengan berargumen dengan adanya wujud mad dalam Surat Ali Imron ayat 26 ((???? ?????serta kandungan makna yang lebih luas karena mencakup arti kata isim dan fiil. Adapun argument yang dibangun oleh para ahli qiraah lain dengan memendekkan lafal (??? ??? ?????) tanpa adanya alif dan mad adalah bersumber dari surat al-Hasyr ayat 22 ((??? ??????serta surat al-Nas ayat 2 (??? ?????).

Setelah menyelesaikan seluruh ragam perbedaan yang terdapat pada surat al-Fatihah, Ibn Mujahid tidak langsung menuju ke surat al-baqarah sebagaimana urutan surat yang ada dalam mushaf. Ibn Mujahid lebih mengedepankan pembasahan tentang Idgham dengan penjabaran yang panjang serta memaparkan pendapat-pendapat ulama  tentang Idgham, tanpa membedakan antara Igham dalam pandangan Abu ‘Amr ibn al-‘Alaa dengan perawi lainnya.

Pembahasan berikutnya mengarah kepada apa yang disebut sebagai Farsy al-Ahruf. Adapun metode ini adalah metode yang dianut oleh Ibn Mahran dalam dua kitabnya; al-Ghayah fi al-Qiraat al-‘Asyr dan al-Mabsuth fi al-Qiraat al-‘Asyr. Disebutkan pula bahwa ‘Ali ibn Umar ad-Daraquthni adalah yang pertama kali membuka pembagian Bab Kaidah Ushul sebelum Farsy al-Ahruf, ad-Dani pun mengamini pembagian itu.

Sedangkan Kaidah ushul yang digunakan oleh Ibn Mujahid berkisar antara hukum mim jama’, hukum ha’ kinayah, idgham, hamz, mad dan qashr, imalah, hukum nun mati dan tanwin, dll.[19] Setelah menyelesaikan pembahasan tentang Idgham, Ibnu Mujahid melanjutkan pembahasan berikutnya sesuai dengan urutan surat yang ada pada mushaf al-Quran, mulai dari surat al-Baqarah hingga surat al-Nas.

Jika menilik pada pemaparan Ibn Mujahid dalam kitabnya, dapat disimpulkan bahwasannya sistematika yang digunakan dalam penulisannya tergolong mudah dipahami dan tidak menyulitkan. Karena seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Ibn Mujahid selalu menjelaskan dengan cermat dan detail setiap kali terdapat perbedaan dalam segi bacaan dari masing-masing perawi, disertai dengan angumen yang menguatkan.

Adapun metode yang digunakan dalam penulisan Kitab as-Sab’ah adalah metode deskriptif analisis. Hal tersebut dapat diketahui dari penjelasan serta pendapat yang tersirat dari perbedaan bacaan para Imam qiraat.

***


Sejarah Kehidupan Al-Dani


Nama lengkapnya adalah ‘Utsman ibn Sa’id ibn ‘Utsman ibn Sa’id ibn ‘Umar Abu ‘Amr al-Dani al-Qurthubi. Sebutan ad-Dani yang melekat pada dirinya merupakan nisbat kepada tanah kelahirannya, yaitu sebuah kota kecil di Andalusia (Spanyol bagia selatan) bernama al-Danniyyah. Ad-Dani  lahir pada tahun 371 H. di kota yang berada dalam pemerintahan Daulah Umayyah di Andalusia pada masa itu.[20]

Selain terkenal dengan sebutan ad-Dani, menurut al-Dzahabi, beliau juga lebih dikenal pada masa itu dengan sebutan ibn al-Shairafi, sedangkan pada masa sekarang lebih masyhur sebagai al-Dani.

Namanya selalu dikait-kaitkan dengan ilmu qiraat sebagaimana ikatan antara imam syibawaih dengan ilmu nahwu, serta ikatan antara imam bukhari dengan ilmu hadits.[21] Ibnu al-Jazary dalam Thabaqah al-Qurra’nya menejalskan bahwasannya al-Dani termasuk seorang yang terkemuka dan menjadi rujukan para qari dan perawi qiraat. Dikisahkan dari gurunya al-Hafizh ‘Abdullah Muhammad ibn Khalil bahwa kesaksia sebagian ahli qiraah pada masa itu, tidak dijumpai seorang yang melebihi al-Dani dalam hal hafalannya serta kedalaman penguasaannya terhadap ilmu qiraah.

Perjalanan spiritual keilmuannya dimulai pada tahun 386 H. dan menjelajah ke daerah timur atau semenanjung arab dan sekitarnya pada tahun 397 H. hingga memutuskan untuk tinggal di Mesir selama satu tahun. Pada tahun 399 H. beliau menunaikan ibadah haji ke Makkah. Selama rentang waktu beberapa tahun berada di daerah timur, beliau maksimalkan dengan berguru dan mengambil sanad keilmuan kepada para ulama.

Al-Dani pun kembali ke Andalus pasca menunaikan ibadah haji. Beliau tercatat tinggal selama kurun waktu 45 tahun di Andalus dan menjadi imam qiraah disana. Al-Dani wafat pada hari Senin pertengahan bulan Syawwal tahun 444 H. dan dikebumikan di Daniyah. Lautan manusia tampak tatkala proses dikebumikannya al-Dani, menggambarkan betapa kehilangan seorang ulama besar.

Sanad Keilmuan Al-Dani

Di dalam kitabnya al-Arjuzah al-Munabbahah, al-Dani memaparkan bahwa ia telah mengambil beragam cabang keilmuan islam dari beberapa guru. Bahkan disebutkan jumlah guru yang telah ia ambil ibroh nya tidak kurang dari 70 orang ahli, pada riwayat lain disebut juga berjumlah 90 orang.[22]

Ahmetoo menempatkan dari sekian banyak guru al-Dani, diantara yang paling masyhur di kalangan masyarakat Andalus adalah Abu Marwan ‘Ubaidillah ibn Salamah dan Muhammad Yusuf al-Qurthubi atau yang dikenal sebagai al-Najjad (w. 386 H), al-Najjad merupakan paman dari al-Dani. Dari keduanya itu al-Dani mengambil sanad riwayat Nafi’, dan dari Ibn Salamah ia mengambil riwayat Ibn ‘Amir, namun kedua gurunya tersebut tidak termaktub dalam al-Arjuzah nya.

Diantara sekian banyak ulama ahli qiraat lain yang menjadi guru dari al-Dani ialah:[23]

  1. Abu al-Fath Faris ibn Ahmad al-Dlarir

  2. Abu al-Qasim Abd al-Aziz ibn Ja’far al-Farisy (w. 413)

  3. Abu Muslim Muhammad ibn Ahmad ibn ‘Ali al-Katib (w. 403)

  4. Khalaf ibn Ibrahim ibn Ja’far al-Khaqani al-Masry (w. 402)

  5. Abu al-Hasan Thahir ibn Ghalbut (w. 399)

  6. Abu Muhammad Abdullah al-Mashahifi

  7. Ahmad ibn ‘Umar al-Qhadli al-Jiziy

  8. Abu Muhammad Abd al-Rahman ibn ‘Umar al-Mu’dil

  9. Muhammad ibn Abd al-Wahid al-Baghdadi

  10. Muhammad ibn Abu ‘Amr al-Baghandi


Selain banyaknya guru yang menjadi sumber keilmuan beliau, banyak pula tokoh-tokoh islam terkemuka yang lahir dar majelis ilmu pimpinan beliau. Oleh karenanya, Abu ‘Amr al-Dani disebut juga sebagai ka’bah nya para santri, dan juga imam nya para imam pada masa itu. Jika menlik pada keluasan ilmunya, para ulama menjadikan al-Dani sebagi sumber rujukan apabila menemukan perbedaan. Dari sekian banyak muridnya yang terkenal adalah Abu Sulaiman ibn Najah yang telah mengarang sebuah buku dalam cabang ilmu rasm ‘Utsmani dengan judul al-Tanzil fi al-Rasm. Abu Sulaiman ibn Najah mempunyai seorang murid bernama ‘Ali ibn Hudzail yang darinya belajar seseorang yang nantinya menjadi ahli qiraat terkemuka pula, ia adalah al-Qasim ibn Fairou al-Syathibi.

Murid-murid al-Dani lainnya yang tidak kalah terkenal antara lain, ibnu al-Bayyaz dan Ahmad Abd al-Malik ibn Abi Hamzah yang mana merupakan sosok terakhir perawi kitab al-Taisir sebelum al-Dani wafat. Tercatat pula tokoh lain yang sempat menimba ilmu kepada al-Dani diantaranya, Khalaf ibn Ibrahim al-Thalithi, Abdullah ibn Sahal al-Anshari, al-‘Ash ibn Khalaf Abu Bakar al-Isybili pengarang kitab al-Tadzkirah wa al-Tahdzib, Muhammad ibn ‘Isa ibn al-Farg al-Maghami, juga Muhammad ibn Ibrahim ibn Ilyas yang lebih dikenal dengan ibn Syu’aib.

Kitab al-Taisir

Ahli sejarawan memaparkan bahwa al-Dani merupakan salahsatu ulama yang produktif menghasilkan karya, disebutkan ada sekitar 120 buah buku hasil pemikirannya, dengan sebagaian besar berbicara seputar ulumul qur’an. Adapun jumlah kitabnya yang membincang tentang ilmu qiraat berjumlah 36 buah dengan 16 buku yang terkenal dikalangan ahli qiraat, tiga diantaranya telah dibukukan dengan judul al-Taisir fi al-Qiraat al-Sab’, al-Ta’rif fi Ikhtilaf al-Ruwat ‘an Nafi’, dan terakhir adalah kitab Mufradat al-Qurra al-Sab’.

Jika sebelumnya Ibn Mujahid datang dengan kitab al-Sab’ah nya serta menjelaskan sebab-sebab pemilihan dan ijtihadnya terhadap tujuh imam, serta menyebutkan sejarah sanad-sanadnya beserta riwayat Kaidah Ushul dan ikhtilaf Farsy al-Huruf nya, namun sangat disayangkan pada masa setelah Ibn Mujahid wafat hal itu banyak ditinggalkan. Masyarakat ahli qiraat seakan enggan mengikuti alur yang telah digariskan oleh Ibn Mujahid melalui tujuh qiraatnya, banyak diantaranya yang meriwayatkan dengan delapan ragam bacaan, bahkan tidak sedikit yang meriwayatkan sepuluh ragam.[24]

Atas dasar itulah al-Dani mencoba merumuskan kembali pemilihan bacaan qiraah dengan tujuh imam perawi melalui dua kitabnya yang fenomenal; al-Jami’ dan al-Taisir fi al-Qiraat al-Sab’. Kitab al-Jami’ cenderung lebih sulit bila dibandingnkan dengan al-Taisir, karena didalamnya menjelaskan dengan panjang lebar perbedaan bacaan para imam. Berbeda dengan al-Taisir yang lebih mudah difahami. Menurut al-Dani, dihadirkannya al-Taisir ini bertujuan untuk memudahkan para pemerhati ilmu qiraat dalam menyelami ragam tujuh perbedaan. Atau dalam istilah yang digaungkan adalah sahlan maisura, artinya buku ini akan lebih familiar dikalangan para santri, juga mudah dipahami bagi para pemula. Disebutkan pula bahwa kitab al-Taisir adalah kitab paling shahih yang dikarang dalam cabang ilmu qiraat.

Kitab al-Taisir ini juga menjadi inspirasi tersendiri bagi al-Syathibi dalam merumuskan bait-bait nadzamnya. Seperti halnya dengan al-Taisir, nadzam milik al-Syathibi juga sangat terkenal dan familiar dikalangan pemerhati ilmu qiraat. Bahkan kumpulan nadzam yang dirangkum dalam kitab berjudul Hirz al-Amani wa Wajh al-Tahani seakan menjadi bacaan wajib bagi merekan yang hendak mempelajari dan mengahafalkan ilmu qiraah tujuh.

Karakteristik Kitab al-Taisir

Adapun metode yang digunakan al-Dani dalam bukunya al-Taisir adalah lebih menitikberatkan apa yang telah dirumuskan sebelumnya oleh Ibn Mujahid, dengan memaparkan setiap perbedaan bacaan yang ada disertai dengan argument masing-masing riwayat, kemudian merangkumnya dengan sangat ringkas sehingga mengerucut menjadi dua riwayat dari setiap qari.[25] Para perawi imam tujuh yang masyhur adalah:

  1. Qalun (w. 220 H) dan Warsy (w. 197 H) meriwayatkan dari Imam Nafi’.

  2. Qunbul (w. 291 H) dan al-Bazzi (w. 250 H) meriwayatkan dari Imam ibn Katsir.

  3. Al-Duri (w. 246 H) dan al-Susi (w. 261 H) meriwayatkan dari Imam Abu ‘Amr.

  4. Hisyam (w. 245 H) dan ibn Dzakwan (w. 242 H) meriwayatkan dari Imam ibn ‘Amir.

  5. Syu’bah (w. 193 H) dan Hafs (w. 180 H) meriwayatkan dari Imam ‘Ashim.

  6. Khalaf (w. 229 H) dan Khallad (w. 220 H) meriwayatkan dari Imam Hamzah.

  7. Abu al-Harrits (w. 240 H) dan Hafs al-Duri meriwayatkan dari Imam al-Kisa’i.


Al-Dani dalam al-Taisir tidak menjelaskan perbedaan ragam bacaan dari satu surat ke surat yang lain. Berbeda dengan Ibn Mujahid yang memaparkan penjelasan tentang seluruh perbedaan dari suatu surat kemudian beralih ke surat lainnya, al-Dani lebih memfokuskan pada ragam perbedaan kaidah Ushul serta Farsy al-Huruf nya. Misalkan pada halaman 18 dijelaskan tentang ragam perbedaan bacaan pada surat al-Fatihah, pembahasan selanjutnya pada halaman 19 berbicara tentang Idgham, kemudian dilanjutkan pada halaman 20 dengan pembahasan bertemunya dua huruf dalam satu kalimat atau dilain kalimat.[26]

Jika mengacu kepada isi kitab al-Taisir, akan ditemukan beberapa kesamaan dengan kitab al-Sab’ah karya Ibn Mujahid dalam sistematika penulisannya. Pada halaman-halaman awal sebelum masuk kedalam pembahasan, kedua kitab tersebut menyuguhkan daftar imam perawi qiraat serta sanad yang menyambung sampai kepada Rasulullah SAW. dengan menyebutkan secara mendetail mulai dari nasab, riwayat sanad keilmuan, serta riwayat hidup hingga wafatnya tokoh tersebut.

Pada kitab al-Taisir ini terdapat pembagian pembahasan menjadi beberapa bab yang menjelaskan satu tema tertentu, dan diantara bab-bab tersebut sebagian terbagi menjadi beberapa Fasl. Model penulisan seperti ini seakan mengingatkan pada sistematika kepenulisan yang banyak dianut ulama-ulama salaf terdahulu dalam mengarang kitabnya. Misalkan pada kitab Fath al-Bari fi Syarh Shahih al-Bukhari karya ibn Hajr al-‘Asqalani mengkalsifikasikan pembahasan hadits-hadits Nabi SAW. berdasarkan tema dan membaginya kedalam bab-bab dan beberapa sub-bab.

Lalu dalam menjelaskan perbedaan bacaan para imam, al-Dani dalam al-Taisir nya langsung menuju ke poin pembahasan tanpa disertai hujjah atau argument masing-masing imam layaknya Kitab al-Sab’ah karya Ibn Mujahid. Tentu hal ini menjadi satu kelebihan yang ditawarkan al-Dani bagi pemerhati ilmu qiraat sehingga dapat mempercepat proses hafalan qiraat tujuh.

Dalam surat al-Fatihah misalnya ketika memaparkan perbedaan bacaan pada ayat ke empat, dengan gamblang dijelaskan melalui ibaratnya:

??? ???? ???????? "??? ??? ?????" ?????? ???????? ???? ???.


Bila hanya melihat teks tersebut dengan sekilas dan seksama, pemahaman akan perbedaan bacaan pada ayat ke empat surat al-Fatihah akan dengan mudah dipahami. Bahwa Imam ‘Ashim dan al-Kisa’i membaca panjang dengan mad, berbeda dengan para imam perawi lain yang membaca pendek tanpa mad. Itulah salah satu contoh satu hal yang ditawarkan oleh al-Dani dalam bukunya kepada para pegiat ilmu qiraat; kemudahan.

 

Pembahasan tentang ilmu qiraah diakui masih menyisakan banyak perdebatan. Semua perdebatan itu berawal dari titik kata sab’ah dan ahruf yang terdokumentasikan dalam hadis Rasulillah Muhammad SAW. Ibnu Mujahid ikut menafsirkan makna tersebut dengan bilangan tertentu, yakni tujuh qiraah sebagaimana yang tercermin dalam konsep qiraah sab’ah-nya.

Di mana rumusannya tentang tujuh orang imam ini dimunculkan Ibnu Mujahid karena banyaknya qiraah pada saat itu. Sehingga ada sebuah upaya untuk menyederhanakan guna menghindari adanya kebingungan di tengah-tengah kaum Muslimin. Sekalipun demikian, ilmu ini cukup rumit dipelajari. Pemilihan itu didasarkan atas terpenuhinya kriteria yang telah dicetuskan oleh para ahli Al-Qur’an.

Footnote:

[1]Jalâl Al-Dîn Al-Suyû?i, Al-Itqân fî ’Ulûm Al-Qur‘ân, Jilid 1, (Kairo: Dâr Al-Turâ? Al-Ta’lîm wa Al-Tarbiyyah fî Al-Islâm.), h. 443.

[2]Abû ‘Abdullâh ibn Mu?ammad ibn Suraih Al-Raiyânî Al-Andalûsî, Al-Kâfi Qirâ‘ah Al-Sab’ (Beirut: D?r al-Kit?b Al-’Ilmiyyah, 2000), h. 15.

[3]Tim Tafsir Kemenag, Mukaddimah Alquran dan Tafsirnya (Jakarta: Lajnah Balitbang Kemenag, 2008), h. 316.

[4]Abî ‘Alî Al-Hasan ibn ’Abd Al-Gaffâr Al-Fârisî, Al-Hujjah li Al-Qurrâ‘i Al-Sab’ah, Juz 1 (Beirut: D?r al-Ma’m?n al-Tur??, 1984), h. 4.

[5]Syamsuddin Abi al-Khair Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Ali ibn al-Jazary al-Dimasyqi al-Syafii, Ghayatun Nihayah fi Thabaqaatil Qurra’, (Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2006), h. 128

[6]Abdurrahman ibn Abdus Abu al-Za’ra’ al-Baghdadi merupakan seorang yang terkenal akan ketsiqahan dan kedhabitannya. Beliau merupakan murid dari Abu Amr ad-Duri. Diantara banyak murid ad-Duri, Abdurrahman ibn Abdus merupakan murid yang paling cemerlang diantara murid-murid yang lain. Dalam belajar qira’at, Ibn Mujahid mengambil riwayat Nafi’secara tuntas sekitar dua puluh kali khatam. Dalam hal qira’at, Ibn Mujahid juga belajar qira’at riwayat al-Kisai, Abu Amr dan Hamzah.  lihat Ghayatun Nihayah fi Thabaqaatil Qurra’, h. 337-338

[7]Nama lengakapnya adalah Hafs ibn Umar ibn Abdul Aziz ibn Shibhan ibn ‘Adiy ibn Shibhan, ia tercatat sebagai salah seorang imam dan guru dari ahli qiraat pada zamannya. Ia juga dikenal sebagai seorang yang pertama kali mengumpulkan riwayat qiraat. Disebutkan juga bahwa seluruh ragam bacaan qiraat telah tuntas ia rekam, baik qiraat yang shahih sampai dengan qiraat Syadzdzah. Ia wafat pada bulan Syawal tahun 246 H. lihat Ghayatun Nihayah fi Thabaqaatil Qurra’, h. 230-232

[8]Romlah Widayati dkk. Ilmu Qiro’at 1 Memahami Bacaan Imam Qiro’at Tujuh. (Ciputat: IIQ Press, 2015), Cet. Ke-II, h. 33-34

[9]M. Hasbi ash-Shiddieqy. Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an dan Tafsir. (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2012) h. 84

[10]Ibn Mujahid, Kitab al-Sab’ah fi al-Qiraat. (Kairo: Daar al-Ma’arif, 2009), h. 15

[11]Syauqi Dlaif dalam pengantar tahqiq terhadap Kitab as-Sab’ah karya Ibn Mujahid menjelaskan secara rinci proses perjalanan spiritual Ibn Mujahid dalam mencari sanad keilmuan qiraat. Mulai dari tanah kelahirannya di Baghdad sampai dengan berbagai kota lain yang menjadi sentral keilmuan islam pada masa itu. Lihat Ibn Mujahid, Kitab al-Sab’ah fi al-Qiraat. h. 14

[12]Muhammad Mukhtar, Tarikh al-Qira’at fi al-Masyriq wa al-Maghrib, (Rabat: Isesco Iznan, 2001), h. 121

[13]Ibn Mujahid, Kitab al-Sab’ah fi al-Qiraat, h. 18

[14] Ibn Mujahid, Kitab al-Sab’ah fi al-Qiraat, hal. 17

[15] Ibn al-Jazari, Thayyibatu al-Nasyr fi al-Qiraat al-‘Asyr, (Madinah: Maktabah Daar al-Huda, 2000) Cet. Ke-II, hal. 32

[16]Romlah Widayati dkk., BUKU I (Modul 1&2) Pembelajaran Ilmu Qiraat, (Jakarta: IIQ Press, 2010), Cet. Ke-I, h. 14

[17]Ibn Mujahid, Kitab al-Sab’ah fi al-Qiraat, h. 20

[18]Muhammad Mukhtar, Tarikh al-Qira’at fi al-Masyriq wa al-Maghrib, h. 129

[19]Muhammad Mukhtar, Tarikh al-Qira’at fi al-Masyriq wa al-Maghrib, h. 130

[20]Syamsuddin Abi al-Khair Muhammad ibnu Muhammad ibnu Muhammad ibnu Ali ibnu al-Jazary al-Dimasyqi al-Syafii, 2006. Ghayatun Nihayah fi Thabaqaatil Qurra’. h. 447

[21]Dr. Muhammad Mukhtar, 2001. Tarikh al-Qira’at fi al-Masyriq wa al-Maghrib. h. 251

[22]Abu ‘Amar ‘Utsman ibn Sa’id ibn ‘Utsman ibn Sa’id al-Dani al-Andalusi. Al-Arjuzah al-Munabbahah ‘ala Asmai al-Qurra’ wa al-Ruwaat. (Saudi: Daar al-Mughni) h. 19

[23]Dr. Muhammad Mukhtar, 2001. Tarikh al-Qira’at fi al-Masyriq wa al-Maghrib, h. 252-254

[24] Dr. Muhammad Mukhtar, 2001. Tarikh al-Qira’at fi al-Masyriq wa al-Maghrib. h. 259

[25]Abdul Halim ibn Muhammad al-hadi Qobah, 1999. Al-Qira’at al-Qur’aniyyah. (Beirut: Dar al-Gharb al-Islami). h. 45

[26]Abu ‘Amr ‘Utsman ibn Sa’id al-Dani al-Andalusi, 1984. Al-Taisir fi al-Qiraat al-Sab’. (Beirut: Daar al-Kitab al-Arabi) h. 18-20

Ditulis oleh Muhammad Makmun Rasyid dan Minan
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *