Kala Tuhan Mempersatukan Dua Insan


"Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman"


—Qs. Al-Baqarah [2]: 223



Bicara wanita selalu menarik, baik ditilik dari segi manapun, karena wanita itu sendiri diberi sifat oleh Allah SWT sebagai perhiasan kehidupan. Perhiasan itu baik atau buruk akan mampu menarik mangsa untuk menikmatinya. Perempuan menjadi posisi rawan dikala sekelilingnya menjadikan dirinya sebagai alat pengembaraan hawa nafsu, dari hal tersebut mengindikasikan bahwa perempuan akan  menjadi  perhiasan  yang baik  dikala  yang menguasainya baik  pula, keberadaan perempuan pun diwarnai oleh lingkungan (sosial-budaya).

Pertautan dua insan dalam mahligai tidak akan pernah terlupakan. Manusia secara biologis, menginginkan hubungan asmara yang romantis, penuh keindahan dan ketentraman. Di samping itu juga, mahligai pernikahan mubarakah ditujukan untuk mengikat keberkahan dari-Nya. Dalam pernikahan, cinta dan kasih sayang, tidak menjadi patokan kebahagiaan rumah tangga. Dalam setiap ajaran agama, keberkahan di atas jalinan ikatan suci adalah keniscayaan mutlak.

Keberkahan itu juga, menutup celah-celah kekurangan di antara pelbagai kelemahan yang ada dalam dua insan, melabur dinding yang suram dan tidak berkilap. Keberkahan yang melimpah di antara kedua insan, membuat mereka satu sama lain, mengajak untuk mengarungi bahtera rumah tangga dengan riuh sakinah, mawaddah, dan warahmah. Kehilangan keberkahan di dalam rumah tangga, membuat generasi abad modern hanya menjadikan pertautan dua insan sebagai tradisi dan wadah pemuas birahi.

Muslim menganggap bahwa pernikahan merupakan salah satu bentuk aktifitas horizontal yang memiliki nilai vertikal (ibadah). Ada tiga kelompok dalam hal ini, yaitu: pertama: nikah bukan ibadah. Argumentasi ini disandarkan kepada pendapat ulama Syafi’iyah. Di mana menikah itu perbuatan dunia layaknya jual beli. “Sesungguhnya pernikahan itu bagian dari (penyaluran) syahwat dan bukan bagian dari upaya pendekatan diri kepada Tuhan. Sesungguhnya pernikahan bukanlah ibadah” atau meminjam bahasa Syaikh Wahbah Zuhaili “tujuan dari pernikahan adalah untuk melampiaskan hawa nafsu” (?????? ??? ???? ???? ?????).

Kedua: nikah adalah ibadah. Apakah orang-orang kaya telah pergi dengan membawa pahala, mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka. Rasulullah SAW menjawab: bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian jalan untuk bersedekah, sesungguhnya setiap tashbih merupakan sedekah, setiap takbir merupakan sedekah, setiap tahmid merupakan sedekah, setiap tahlil merupakan sedekah, amar makruf nahi munkar merupakan sedekah dan di dalam kelamin salah seorang di antara kalian terdapat sedekah (??? ??? ????? ????).

Mereka bertanya: Ya Rasulullah, masakah dikatakan berpahala seseorang di antara kami yang menyalurkan syahwatnya?. Nabi menjawab: bagaimana pendapat kalian seandainya hal tersebut disalurkan di jalan yang haram, bukankah baginya dosa, mereka berkata: betul (bala). Nabi bersabda: demikianlah halnya jika hal tersebut diletakkan pada jalan yang halal, maka baginya mendapatkan pahala.” (Imam Al-Muhaddistin Al-Hafhiz Abi Bakar Ahmad bin Al-Husain Ibnu Ali Al-Baihaqi, Al-Sunan Al-Kubro li Al-Baihaqi, Mesir: Al-Faruq Al-Hadistah, 2006)

Ketiga: nikah itu hanya bagi orang yang membutuhkan dan mempunyai finansial cukup. “Pernikahan dianjurkan bagi orang yang membutuhkan” (?????? ????? ?????? ????). (Wahbah Al-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, Beirut: Dar Al-Fikr, 2007). Ketika dirinya tidak merasa membutuhkan untuk menikah, maka tidak ada paksaan untuknya.

Ada satu ungkapan yang patut direnungi sebelum membahas tafsir pernikahan perspektif Al-Qur'an.
"Tak ada yang perlu dilebih-lebihkan. Tak ada yang pantas disepelekan. Apapun keadaannya bergantung pada cara menyikapinya.

Hidup ini bukan tentang membanggakan diri. Namun tentang merendahkan hati. Hidup ini bukan tentang merendahkan diri. Namun tentang MEYAKINKAN HATI"

—Gigih Kurniawan



Disaat seseorang merasa bahwa perempuan itu akan bersama dengannya kelak hari, maka di saat itulah ia mencoba untuk "meyakinkan hatinya". Menyakinkan bahwa kamu bisa bersamanya, dalam suka dan duka. Dalam proses itu, Anda tidak lagi berbicara seputar kelebihan dan kekurangan, tapi penyikapan keduanya. Kelebihan dan kekurangan adalah cobaan, dan setiap cobaan membutuhkan penyikapan yang bijaksana.
"Barang siapa takut menghadapi PERSOALAN, ia sebenarnya takut menghadapi KEMAJUAN"

—Bung Karno



Penyikapan itu disebabkan adanya perbedaan cinta sebelum dan sesudah menikah. Sebelum menikah, sama-sama saling merahasiakan apa yang tak pantas diucapkan, demi simpatik lawannya. Tak bisa dipungkiri, bahwa cinta itu juga komersialisasi. Namun, saat menikah, tak ada yang bisa ditutupi. Al-Qur'an menggunakan istilah "afdha" dalam menganalogikakan pasangan suami-istri. Ia bagaikan keterbukaan angksa raya. Keduanya saling tersingkap satu sama lain.

Perbedaan berikutnya, antara manusia dengan binatang adalah dalam segi manajemen waktu dalam mengatur hubungan seksual. Allah berfirman dalam Al-Qur'an, "(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (Qs. Al-Syura [42]: 11).

Ayat tersebut memberikan pesan awal bahwa manusia berbeda saat melakukan hubungan seksual dan di saat melahirkan anaknya. Binatang jantan bisa seketika waktu meninggalkan betina (pasangan intimnya), sebelum anaknya besar. Manusia tidak lah demikian, ia harus menyapi dan membesarkannya. Sedangkan ayat Qs. Al-Baqarah [2]: 223, tidak saja membicarakan hubungan seksual semata, melainkan seorang suami adalah petani yang berfungsi merawat tanamannya (istrinya). Ia merawatnya sampai dewasa, memberikan siraman rohani dan memberikan pelajaran agama. Sebagai petani, suami tetap memperlakukan tanamannya dengan cara yang makruf.

Istri juga tetap memperhatikan, sebagaimana yang ditulis oleh M. Quraish Shihab dalam Pengantin Al-Qur'an (Jakarta: Lentera Hati, 2014):
"Peliharalah waktu-waktu makan dan tidur suamimu, keterlambatan makan menimbulkan emosi dan kurang tidur membangkitkan amarah."

Pasangan suami-istri terus memanjatkan doa agar saling dewasa dalam menahkodai rumah tangga. Nabi Muhammad SAW pun menganjurkan sebelum tidur berdoa:
"Ya Allah, kuserahkan diriku kepada-Mu, kuarahkan wajahku menuju ke hadirat-Mu, kuserahkan persoalan kepada-Mu, kusandarkan punggung (kemampuan)-ku kepada-Mu. Tiada tempat berlindung, tiada juga tempat keselamatan dari-Mu kecuali kepada-Mu. Aku percaya kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan dan Nabi-Mu yang Engkau utus."

Semoga RIA & SAM selalu diberikan kebahagian dan kesejahteraan dalam mengarungi kehidupan barunya. "Aku adalah engkau dan engkau adalah aku. Jiwamu jiwaku dan dirimu diriku." Ikat erat pernyataan itu, semoga kelak melahirkan anak yang saleh dan salehah, diberikan kelancarkan rejeki dan dianugerahi kemampuan untuk memikul amanah dari Allah SWT. Amin

Makmun Rasyid


Masjid Al-Tin, 09 April 2017

Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *