Kala Ramadhan Hanya (Menjadi) Rutinitas

Manusia terlahir ke muka bumi secara fitri. Dalam perjalanan hidupnya, manusia dihadapkan pelbagai macam ujian dan tantangan, baik secara lahiriyah dan batiniyah. Di saat Tuhan memerintahkan dirinya beribadah, manusia yang terikat janji sebelum dimasukkannya ruh ke dalam jasad, banyak yang lari dari pertanggung jawaban dan tidak sanggup menerima konsekuensi atas ikatan primordial itu. Ada yang konsisten dalam membangun hubungan baik dengan-Nya dan ada yang tak menghiraukan eksistensi-Nya.

Ramadhan, bulan pencuci jiwa, di mana 11 bulan sebelumnya manusia berlumuran dosa dan noda, baik kepada-Nya maupun sesama manusia. Betapa sayangnya Tuhan pada manusia, meski jutaan dosa menumpuk dan menempel dalam diri. Bukankah begitu indah kasih-Nya? namun sangat sedikit manusia yang bersyukur pada-Nya.

Ramadhan pula, kerap dianggap oleh sebagian masyarakat, sekedar rutinitas tahunan, layaknya bulan-bulan berikutnya. Kongkritnya fenomena ini, betapa banyak di saat Ramadhan datang dan berlangsung, manusia tak ubahnya keledai dan binatang buas yang kehidupannya hanya dicurahkan memangsa dan mengeruk alam semesta. Dalam perspektif yang berbeda, “urusan ibadah, kan urusan privat; biarkan urusan moral ditanggung masing-masing individu”. Namun di sisi lain, mengacu logika demikian, kerap menggeser orientasi kehidupan manusia di dunia.

Dalam Ramadhan, “Napasmu menjadi tasbih; tidurmu menjadi ibadah; amalmu diterima; doamu dikabulkan”.

Semua tugas yang diberikan-Nya, bukan untuk-Nya tapi untuk manusia. Kebaikan dan ketaatan, tdk memberi-Nya apa². Bahkan kedurhakaan dan kemunafikan, tidak merugikan-Nya. Semuanya untuk manusia. Seyogyanya pula, manusia mewujudkan kebenaran, kebaikan dan keindahan, dari teori menuju aplikasi.

Ramadhan adalah “sepotong surga” yang dihidangkan malaikat. Kepergiannya, rntah jiwa ini gundah gulana atau membiarkannya pergi tanpa jejak. Entah pipi yang mulus dibasahi oleh derasnya tetesan air mata dan berbinar-binar atau melepaskannya laksana anak panah keluar dari busur & tak menginginkannya kembali.

Ramadhan, bulan pendidikan. Mendidik manusia untuk selalu menghilangkan daki-daki dosa yang menempel di sekujur tubuh. Dan menghantarkan manusia menjadi seorang yang berhati bestari, layaknya kuburan misteri. Berhati bersih, tanda kepemilikan pengetahuan ketuhanan yang amat luas.

Saat Ramadhan tiba, pedepokan-pedepokan tanpa elok; ada yang mengaji huruf dan aksara, adapula yang menulis sastra. Taman² merekah bak bunga warna-warni. Laki-laki perempuan berwajah penuh kebahagiaan. Mereka melantukan shalawat, mengaji dan bernyanyi riang. Tapi apakah setelah Ramadhan tiada, keindahan taman surga itu masih ada?

Tuhan, apakah “aku” termasuk manusia yang hanya menyibukkan diri untuk bertemu dengan seorang ibu, untuk melepaskan kerinduanku pada perempuan yang melahirkanku? Seorang ibu yang dilukiskan seperti “semilir angin sejuk yang mengembuskan napas kedamaian dan kasih sayang ke seluruh ruang kehidupan”. Namun aku tak gelisah Ramadhan meninggalkanku; aku tak rindu padanya; bahkan aku tak berharap berjumpa dengannya. Jika ia, ampuni aku Tuhan.

Apakah aku termasuk manusia yang menganggap entitas Ramdhan tak berharga? Identitas penuh cacat? Atau wujud yang engkau hidangkan tapi aku sia-siakan bahkan ku rendahkan? Jika aku masuk kategori itu, ampuni aku... Oh Tuhanku! Pintaku pada-Mu, Sang Maha Perkasa.

Setidaknya, kepergian Ramadhan dan oleh-olehnya adalah tidak menjadikan perkataan tak berdasar dan omongan negatif menjadi kebiasaan kita. Pendidikan selama Ramadhan, setidaknya satu nilai penting di tengah arus dan derasnya berita bohong menyebar di lini-lini media sosial.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah PERKATAAN YANG BENAR, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar” (Qs. Al-Ahzâb [33]: 70-71).

Dan dalam mengaplikasikan salah satu nilai dari Pancasila adalah melihat makna dari sebuah perkataan yang membawa kepada kebaikan. Sebab, banyak pula perkataan yang terkesan baik padahal tidak baik, dikarenakan dibungkus oleh ragam kaidah ilmiah. Sebab pula, manusia-manusia yang tercerahkan adalah mereka-mereka yang mencari kebenaran dari sebuah makna bukan kata. Sedangkan manusia-manusia yang terkungkung pola pikirnya dan fanatik akan mencari kebenaran dari kata bukan makna.

“Setiap kata, pendapat atau pikiran yang memberikanmu kebaikan dan menjauhkanmu dari keburukan adalah HIKMAH KEBIJAKSANAAN” (Abu Bakar bin Duraid).


Perintah Qur'an dan pernyataan di atas bisa dibawa dalam kehidupan sehari-hari di tengah fitnah dan caci maki yang tak terelakkan. Gelar semakin tinggi dan jabatan semakin menumpuk, justru menjadi lilitan dalam kehidupannya. Sampai takbir dikumandangkan pun, "goreng menggoreng" belum usai. Semuanya karena belum lolos dari ibadah puasa yang mendidik manusia agar menundukkan egoisme pribadi, kelompok dan perkumpulan. Menghindarkan manusia dari merasa yang paling benar.

Maaf-maafan menjadi formalitas semata. Kirim-kiriman ucapan selamat Idul Fitri menjadi rutinitas dan ucapan tahunan saja. Setelahnya? Bukti kegagalan dan Ramadhan hanya menjadi rutinitas adalah mereka-mereka yang tidak tercerahkan akan kembali ke profesi yang setiap harinya menebar kebencian dan mengadu domba satu sama lain. Literasi tidak lagi membawa perdamaian, melainkan menjadi malapetaka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *