Kala Ekspresi Beragama Penuh Pengamanan

Beragama kita, semakin hari, semakin mundur. Kemajuan populasi tidak seiring dengan kemajuan cara beragama yang santai, damai dan penuh kebebasan berekspresi. Kebebasan berekspresi yang dijamin oleh konstitusi masih dibalut oleh “rasa ketidakpastian” dalam bentuk keamanan. Walaupun koridornya sudah jelas, yakni: selama kebebasan itu tidak melawan konstitusi, menabrak undang-undang dan menafikan eksistensi Pancasila sebagai payung untuk seluruh agama-agama, kelompok dan etnis yang ada.

Aroma beragama kita masih diselimuti oleh keangkuhan mayoritas dan selalu mengucilkan minoritas. Islam sebagai agama mayoritas, dalam beberapa dekade dan tahun terakhir dibawa oleh penganut yang tidak mampu menampilkan kebaikan, kebenaran dan keindahan dalam menyajikan dan mensuplai kepada khalayak. Ditambah polemik internal Islam selalu saja tampil dengan wajah “muram”. Sebagai sebuah akibat dari pergesekan yang terus ada dan saling menafikan satu dengan lainnya. Penafian dan gesekan itu mengakibatkan efek kepada sekeliling yang berbeda, baik secara agama ataupun mazhab.

Konsensus tentang pengejawantahan ritual sejak awal berdirinya negara ini belum teraplikasikan dengan baik. Ini dibuktikan dengan setiap saja, ritual ibadah non-Muslim terus dijaga secara ketat dan di bawah pengamanan yang “super opordosis”. Pengamanan itu seperti pengamanan pelantikan sebuah pejabat negara. Hantu berupa ekstrimisme, radikalisme dan terorisme, antara wujud nyata dengan wujud yang diciptakan agar ada. Ketidakjelasan itu mengakibatkan penganut-penganut agama dalam mengekspresikan diselimuti oleh “ketakutan”.

Kondisi ini sejak gerakan transnasional masuk ke Indonesia tak pernah habisnya. Fenomena-fenomena pembakaran dan pengsegelan tempat ibadah seakan-akan bentuk yang terlegitimasi oleh agama. Lebih-lebih penjegalan terhadap sebuah ekspresi adalah sebuah kepuasan tersendiri. Paradigma beragama dan bergenara kita tampak kacau dan penuh ambiguitas. Ditambah pendekatan idealis yang ditampilkan di media sosial merupakan wajah yang menyimpang, tidak saja menyurutkan dan menyusutkan makna ideologi murni Pancasila menjadi ideologi praktis yang dikendalikan oleh pemegang kekuasaan, tapi pendekatan idealis dalam beragama kerap dimainkan secara serampangan.

Dalam konteks internal umat Islam sendiri, walaupun eksistensi organisasi made in Indonesia terus berupaya menanamkan paradigma wasyatiyah dan ajaran yang kontekstual, tapi disaat bersamaan apa yang terus disuarakan di atas mimbar sejak era Munawir Sjadzali, yang dituangkannya dalam sebuah naskah “Polemik Reaktualisasi Islam” (1987) untuk kemajuan pemikiran Islam dan reaktualisasi pemahaman yang “kolot”. Bahkan saat itu, da’wah bil Lisan diragukan efektivitasnya dan segera harus digantikan dengan da’wah bil hal yang dikonsepsikan mampu merubah wajah masyarakat, yang dalam istilah Muhammadiyah kala itu sebagai qoryah tayyibah.

Cita-cita itu belum sepenuhnya wujud dan membumi. Mengapa? Banyak kelompok yang tidak mampu mendeteksi pengikutnya dengan baik. Kelompok transnasional yang selama ini menjadi isu kontroversial, ia tidak saja menyatu dalam sebuah wadah yang dibentuknya, melainkan masuk kesana-kemari dengan wajah dan persembunyian identitas. Ibarat seperti seorang penyakitan panu di sekujur tubuhnya, tapi orang lain berkata lain padanya, di mana dikatakan bahwa ia berkulit putih. Ketidakmampuan mendeteksi itu ditambah ketidakjelasan arah dari deradikalisasi yang terus dikoarkan oleh pihak terkait yang berwewenang menanganinya.

Ketidakseriusan dan ketidakefektifan program deradikalisasi selama ini, yang juga ditambah ketidakseriusan menghambat dan pengawasan di media sosial terhadap hal-hal negatif yang kerap mengganggu dan memicu kepada sebuah tindakan, mengakibatkan jamur terus bertumbuhan. Pembibitan jamur yang berada di ruang kecil namun sistematis di segala sisi membuat kewalahan organ-organ besar menghadapinya. Belum lagi sistem penanganan dari organ besar kerap menggunakan sistem babat alas. Maksudnya, ibarat rumput di sekeliling jagung, tapi karena semangat yang berapi-api membuat jagungnya pun ikut terparas. Inilah yang membuat kita, rakyat Indonesia, tidak merasakan panen-panen.

Bibit-bibit yang sudah menjamur ke segala penjuru memang membutuhkan penanganan serius dan terukur. Jangan sampai menembak nyamuk dengan menggunakan meriam atau menembak lalat menggunakan senapan M-16. Sesuatu yang tidak dipungkiri adalah pemberian obat dan dosis yang pas. Karena kecanggihan alat teknologi yang dimainkan generasi modern banyak mengakibatkan blunder-blunder, yang kadang kala datang dari pejabat yang berwenang. Ingin mengobati justru menambah bibit-bibit “kekerasan”.

Jamur yang telah dipupuk sejak pasca-reformasi itu siap dipanen dan dipetik oleh siapa saja, tidak saja mereka yang bercocok tanam tapi kadang pula digunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk meraup simpati dan lebih-lebih digunakan dalam konteks politik dan ekonomi. Jika jamur-jamur itu tidak bisa dibabat habis, alias tidak menangani dari hilirnya, maka ekspresi beragama akan terus diselimuti hantu bergentayangan yang tidak saja bersifat fisik, tapi non-fisik.

Sebagai masyarakat Indonesia, semua dari kita menginginkan beragama penuh kedamaian dan kesopanan. Tapi agama jika tidak dilindungi oleh negara, maka agama akan hancur. Namun juga, bukan berarti agama diatur oleh negara. Karena akan membuat penganut agama gerah, akan kehilangan inovasi dan kreatif.

Perlindungan agama dari negara itu tidak selalu bersifat fisik berupa penggunaan institusi keamanan, melainkan mencari terobosan terbaik dalam mendidik dan mengoperasionalkan alat-alat, agar masyarakat tambah dewasa dalam beragama dan bernegara.
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *