Islam Yang Mengayomi

Beliau seorang ulama besar, seorang ulama yang selalu mendinginkan suasana, selalu menyejukkan hati kita, seorang guru bangsa yang menjaga kebhinekaan di negara kita, Indonesia"

Ir. H. Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia

Islam menjadi agama penyempurna, dari agama-agama samawi yang ada di dunia ini. Ia seperti sebuah rumah yang kekurangan satu batu bata, dan Islam menyempurnakannya. Islam tidak menafikan agama-agama sebelumnya, melainkan Islam mengisi kekosongan dan apa-apa yang perlu diperbaharui, diperbaharuilah. Sejarah sederhana itu, membuat penulis berpendapat bahwa hakikatnya Islam memiliki tugas utamanya, yaitu mengayomi. Mengayomi seluruh elemen, lintas suku dan etnis, lintas agama dan budaya. Islam bukanlah agama yang kerap memukul sesuatu yang tidak sama. Ketidaksamaan yang ada, memiliki cara tersendiri dalam menyikapinya.

Sebagai agama pengayom, Islam bukan alat pukul dan dijadikan alat untuk mengeruk kepentingan pribadi. Hanyalah mereka yang bisa menjadi pengayom, mereka-mereka yang secara spiritualnya selesai. Adapun mereka yang secara imannya belum selesai, maka langkahnya masih berpotensi diiringi dengan nafsu birahinya. Kacamata yang digunakan pula, kacamata kemanusiaan semata, sedangkan kacamata ketuhanan akan terabaikan. Islam menginginkan, bahwa kacamata ketuhanan dan kemanusiaan harus berjalan di rel yang sama. Alias tidak bisa memakai salah satunya.

Buku, Islam Yang Mengayomi yang saya tulis, sebagai syarh atas pemikiran KH. Hasyim Muzadi dalam ragam persoalan. Mulai perspektifnya tentang Islam yang selalu hadir dengan wajah penuh kedamaian dan kerahmatan, persoalan keumatan dan kerukunan sampai refleksi pribadi penulis, selama bersamanya dan “nyantri” di pondoknya, Pesantren Al-Hikam. Buku ini merupakan volume pertama dari beberapa volume yang ada.

 



Buku ini berisikan pemikiran KH. Hasyim Muzadi, yang berupaya mewariskan nilai luhur dan melestarikan perjuangannya. Pemikiran-pemikiran KH. Hasyim Muzadi dalam buku ini, penulis merujuknya kepada rekaman-rekaman yang didokumentasian Pondok Pesantren Al-Hikam. Penulis meramuny dan men-syarh semampu dan sekuat penulis. Artinya, kekeliruan dalam memahaminya, sebagai bentuk kekurang pengetahun penulis. Namun, kekurangan-kekurangan yang ada, (semoga) tidak menjadi batu sandung atas kemulian dan keindahan serta kesejukan pemikiran KH. Hasyim Muzadi.

Saya haturkan pula, kepada teman-teman dan guru-guru yang telah memberikan dan menuliskan apresiasinya dan endors-nya untuk buku ini. Di antaranya:

"Salah satu fungsi penulisan buku pemikiran tokoh adalah upaya mewariskan nilai luhur dan melestarikan perjuangannya. Saya mengapresiasi penulisan dan penerbitan buku ini, semoga menjadi warsan yang 'mendamaikan'."
KH. Muh. Yusron Shidqi, Lc, putra KH. A. Hasyim Muzadi

"Saya mengapresiasi pemikiran KH. A. Hasyim Muzadi dalam buku Islam Yang Mengayomi karya santrinya, Makmun Rasyid. Buku ini mengupas Islam perspektif KH. A. Hasyim Muzadi secara mendalam. Layak dibaca!"
Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si, Gubernur Jawa Timur (2018-2023)

"Alm. Dr. KH. A. Hasyim Muzadi merupakan ulama bertaraf internasional yang sangat dihormati karena pandangannya yang moderat, toleran, serta menyuarakan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Pemikirannya bisa dibaca melalui karya Makmun Rasyid"
Prof. Dr. der Soz Gumilar Rusliwa Somantri, Mantan Rektor Universitas Indonesia (2007-2012)

"Buku ini bukan sekedar mendokumentasikan, tetapi lebih dari itu. Buku ini merupakan syarh dari matan (gagasan dan pemikiran) KH. A. Hasyim Muzadi. Membaca buku ini serasa KH. Hasyim Muzadi masih berada di tengah-tengah kita"
Prof. Dr. H. Nadirsyah Hosen, LLM., MA (Hons)., Ph.D., Rais Syuriah PCI NU Autralia, New Zealand & Dosen Senior Monash Law School

“Memahami pemikiran dan sikap KH. Hasyim Muzadi harus dirunut dari triologi cintanya. KH. Hasyim itu orang yang sangat mencintai NU, ajaran Ahlussunnah wal Jamaah al-Nahdliyyah dan NKRI. Kecintaan kiai terhadap tiga elemen ini mewarnai pemikiran, sikap dan perjuangannya dalam perannya yang baik sebagai pendidik, organisatoris, dai, ulama, negarawan dan peran-peran lainnya, baik ditingkat nasional maupun internasional. Tema-tema yang ada di buku Makmun Rasyid ini adalah sebagian dari percikan pemikiran kiai Hasyim yang bersumber dari trilogi cintanya. Selamat membaca!.”
H. Arif Zamhari, Ph.D, Direktur Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an (STKQ) Al-Hikam Depok & Direktur Institute Hasyim Muzadi (2017-2019)

 “Buku Makmun Rasyid ini mampu mendedahkan sebagian pemikiran KH. Hasyim Muzadi secara mudah dan sangat representative. Mudah-mudahan buku ini menjadi salah satu wasilah dalam menelaah pemikiran kiai Hasyim”
KH. Cholil Nafis, Ph.D, Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat

“KH. Hasyim Muzadi seorang kiai yang alim, organisator ulung, politisi sekaligus negarawan. Jejak pemikirannya bisa ditemukan dalam karya santrinya, Makmun Rasyid. Buku yang bergizi dan mencerahkan. Selamat membaca!”
—KH. MH. Misbahus Salam, Penulis buku Islam Rahmatan lil Alamin: Pemikiran & Aksi KH. Hasyim Muzadi

 “Ada dua hal yang kutakutkan semasa hidupku: aku takut kehilangan-Nya, kehilangan Rasulullah SAW dan aku takut kehilangan kenangan dan suri tauladan orang-orang baik. Buku ini, mengingatkanku kembali tentang hal itu... Dan buku yang baik adalah buku yang mengingatkan...”
—Kang Maman, Penulis Buku, NoTulen Indonesia Lawak Klub, Sahabat Literasi Kemdikbud & Duta Literasi Iluni

Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *