Islam: Agama Rahmat

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam


---Qs. Al-Anbiya [21]: 107


Dalam sejarah agama-agama di dunia, ada dua paradok populer yang dikenal dalam keberagamaan kita, yaitu: pertama, agama sebagai wadah yang mampu membahagiakan manusia dunia-akhirat. Namun, dalam kenyataannya, kemiskinan terus meningkat, keterbelakangan terus di alami oleh mereka yang tinggal di pelosok, ketidakadilan terus menerpa masyarakat lemah, kebodohan terus meningkat setiap saat, ketertindasan terus dialami oleh kelompok minoritas.

Dan kedua, agama adalah pencipta kedamaian dan perekat hubungan, dan kitab Al-Qur’an sebagai kitab cinta dan toleransi. Namun, setelah pembawa agama (Nabi Muhammad SAW) wafat, tak banyak pemeluknya yang gagal membangun keharmonisan internal dan eksternal. Justru, semakin hari tampak banyak masyarakat yang pseudo religious (bergama semu). Akhirnya, pertikaian, pertengkaran, pembakaran rumah ibadah---baik Muslim ataupun non-Muslim.

Upaya untuk merajut benang yang telah retas itu pun terus diupayakan, baik menjalin kerjasama antar organisasi, kelompok maupun lintas agama. Lagi-lagi hanya menemukan pseudo harmony (kerukunan semu). Akhir-akhir ini pun, umat Muslim digerogoti oleh virus takfiri, yang bias negatifnya, bisa menihilkan eksistensi Islam sebagai agama rahmat. Pemikiran demikian, mampu menjadikan institutional religion (institusi agama) terganggu, karena pihak eksternal (umumnya) akan memberikan stempel negatif pada institusi, bukan pada pelaku secara individu.

[caption id="attachment_956" align="aligncenter" width="406"]                               Pemesanan Ke 082291433311[/caption]

Islam Agama Rahmat

Pakar Bahasa Arab, Al-Raghib Al-Isfahani/Al-Asfahani dalam kitab Al-Mufradat fi Gharibi Al-Qur'an mengajukan empat macam makna kata "rahmat", seperti: al-Riqqah [kelembutan], al-Ihsan [kebajikan], al-Khair [kebaikan], dan al-Ni'mah [kenikmatan]. Makna-makna tersebut diperkuat dengan ayat Qs. al-Qashah/28: 86.

Dalam konsep idealnya, Islam adalah agama yang menyempurnakan agama-agama sebelumnya. Ibarat bangunan rumah yang kekurangan satu batu bata, agama Islam menyempurnakan ajaran-ajaran sebelumnya. Lebih dari itu, Muslim tidak boleh menganut kepercayaan di luar Islam (Qs. Ali Imran/3: 85). Artinya, masuk Islam secara kaffah (kesempurnaan syariat Islam dan ajaran Nabi Muhammad SAW) dan tidak boleh ada keraguan terhadap Al-Qur’an (Qs. Al-Baqarah/2: 2). Konsep ini akan melahirkan penganut agama yang bisa membawa agama dengan penuh kerahmatan.

Ketika pemahaman Islam tidak komprehensif, maka yang lahir adalah pemahaman tekstual, rigid dan cenderung hitam-putih dalam melihat fenomena (kejadian) dan menghukumi perbuatan orang lain. Di satu pula, hal itu bisa menjadi salah satu penghalang hadirnya Islam dengan penuh kesejukan dan kedamaian. Benar adanya, apa yang dikatakan oleh Muhammad Abduh bahwa ketinggian “ajaran Islam tertutup oleh prilaku umat Muslim” sendiri (Al-Isl?m mahjûbun bil-Muslimîn). Bahkan Muhammad Iqbal menyatakan bahwa kemunduran kaum Muslimin bukanlah disebabkan ajaran agamanya, tetapi kesalahan terletak pada diri seorang Muslim.

Hasyim Muzadi mengatakan bahwa hakikat "semua ajaran agama mengajarkan perdamaian, kesejahteraan, kelemahlembutan dan toleransi. Jika terdapat kelompok agama melakukan anti-damai, anti-toleransi dan melakukan tindak kekerasan, pastikan bahwa dirinya telah membajak agama. Karena itu, agama harus dilepaskan dari setiap tindakan dan prilaku yang tidak sesuai dengan tujuan agama itu sendiri. Agama tidak dapat dijadikan alat untuk kepentingan politik atau ekonomi. Menciptakan perdamaian adalah kewajiban semua agama. Merebaknya Islam fobia dikarenakan tindakan dan perbuatan segelintir orang yang mengatasnamakan Islam untuk menjustifikasi tindak kekerasannya."

Oleh sebab itu, misi ayat Qs. Al-Anbiya [21]: 107 adalah jika saja aspek batiniyah (interaksi kepada Allah) dan lahiriyah (aspek muamalah, sosial dan kemasyarakatan) diperbaiki, Islam seperti payung yang melindungi semua aspek. Ia tidak saja memanyungi Muslim, tapi juga non-Muslim. Berteduh di bawah payung yang bernuansa Islam, tapi tanpa mengharuskan merek payung itu made in Islam.

Kita (umat Muslim) harus keluar dari kungkungan suasana yang suka mempersoalkan keyakinan orang lain, menuju memperbaiki negara-bangsa Republik Indonesia. Bagaimana umat Muslim memikirkan nasib Muslim lainnya yang kelaparan, yang miskin, melarat dan sejenisnya. Artinya, kita keluar menuju alam yang mementingkan kepentingan orang lain. Fariduddin Al-Aththar Al-Naisaburi, ia mengatakan: “untuk berpaling dari ala mini, dia (Imam Ali maskudnya) pakai tombaknya; Untuk berpaling dari alam sana, dia bersedekah dengan tiga butir gandum.” Ungkapan ini sejalan dengan firman Allah, “sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih(Qs. Al-Insan [76]: 9).

Artinya, meminjam istilah Murtadha Muthahhari, bagaimana kita berpindah dari Islam geografis menuju Islam Faktual. Islam faktual adalah sesuatu yang mengandung muatan spirtitual-samawi, Islam yang mampu mengantarkan seseorang kepada hakikat taslim hati yang memberikan tempat paling luas bagi kebenaran di dalam dadanya. Tapi, dia tidak saja mengimani, tapi lebih jauh ia mengamalkannya. Kalau sendi-sendi Islam ditegakkan dalam ranah sosial secara baik dan benar, bukan sesuatu yang mustahil, umat Islam akan mendapatkan kejayaannya seperti dahulu kala. Wallahu a’lam bi al-Shawab []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *