Indonesia Kehilangan Sang Perekat Bangsa

Semesta menangis. Langit bersedih. Bumi menangis mengeluarkan air, ia tak mau ketinggalan menyentuh sosok mulia. Santri-santri mengaji, sesekali tersedu-sedu.

Para tokoh lintas golongan dan mazhab bersatu. Tak kenal anti tahlil dan anti pancasila, mereka bersatu melantunkan untaian suci. Sosok istimewa di belahan dunia yang tiada duanya. Ucapannya bisa ditiru tapi prilakunya sulit ditiru. Jejaknya bisa ditulis ribuan halaman, tapi susah diimplementasikan. Pemikirannya tak kunjung habis dikaji, tapi sulit meniru konsistensinya.

Sosok mulia itu kini tiada. Rakyat Indonesia memenuhi lapangan Al-Hikam. Sosok humoris tapi setiap kalimatnya menyimpan sejuta makna. Diksi dan retorikanya mampu membungkam lawan bicaranya. Ia sosok yang menginginkan kejujuran bersemayam di bumi Nusantara. Jika bersamanya, katakan tidak jika tak tau, katakan iya jika mengerti secara utuh. Seorang ulama yang mampu memilah dan memilih serta menjabarkan persoalan agama dan negara dengan mengkategorikan terlebih dahulu.

Di dalam setiap pengajiannya bersama santri-santri, ia menuntut kami memetakan sebelum menjabarkan. Membuat folder sebelum memberikan kepada orang lain. Ia sosok yang mampu menjabarkan persoalan pelik menjadi mudah. Ia pernah berkata, tugas ulama membuat yang sulit menjadi mudah. Permudah urusan orang lain, dirimu akan dipermudah juga.
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *