Hidup dan Mati Bersama Al-Qur'an

Dunia hanya tempat persinggahan. Tempat menanam benih-benih dan menuainya di akhirat kelak. Dunia bukanlah tujuan hidup melainkan tempat kehidupan sementara. Di dalamnya terdapat pelbagai macam perhiasan dan pernak-pernik yang bisa digunakan sebaik-baiknya?, namun ia memiliki sisi di mana manusia banyak tergelincir olehnya.


Tak dipungkiri lagi, di dalam menahkodai kehidupan selama di dunia ini, seseorang membutuhkan kamus kehidupan, yang meneranginya di kala gelap gulita mengitarinya dan memperindah di saat moralitas tinggal slogan belaka. Kamus itu bernama Al-Qur'an, yang termasuk salah satu dari pusaka yang ditinggalkan Nabi Muhammad SAW.


Abah Hasyim di mata santrinya, tidak saja sekedar tokoh dunia melainkan bapak kehidupan kami. Rangkulannya memadamkan gejolak emosi dan senyumannya menambah optimisme dalam membawa ajaran Rasulillah Muhammad SAW. Salah satu aspek "perintah" adalah "mempercantik batiniyah", yang dalam istilah Imam Ghazali disebut Tazkiyatu Al-Nafsi.




Rusaknya Indonesia bukan karena kekurangan orang pintar, tapi kurangnya orang "bertasawuf". Dan banyak pengajar tasawuf yang tidak bertasawuf



Al-Qur'an termasuk alat yang mampu menghiasi diri seseorang. Salah satu cara memperindah diri dan membersihkan kotoran jiwa yakni dengan Al-Qur'an. Oleh sebab itulah, abah selalu berpesan sesuatu yang tampak sepele namun cukup penting bagi seorang santri.




Jangan sampai kalian masuk Al-Hikam hafal 30 juz dan keluar tinggal juz 30 saja. Murajaahnya dijaga, ba'da subuh dan magrib



Pernyataan itu tidak sekedar perintah murajaah saja melainkan menyuruh seluruh santri Al-Hikam untuk menjadikan Al-Qur'an sebagai wirid kehidupan. Dengannya akan terpancar aura kebaikan dan kesejukan. Dengannya hidup akan menuai berkah. Dan berkah itu mendatangkan berkat.


Abah menyuruh santri-santri untuk khataman rutinan bulanan di masjid, yang fungsinya juga tidak sekedar mengulang-ulang hafalan, melainkan syiar kepada masyarakat. Perintah ini semakin jelas tatkala sebelum wafatnya, abah berpesan yang dikhususkan kepada warga Kukusan Depok.




Saya titip Al-Hikam Depok, rawat dan jaga. Jangan sampai masih ada yang tidak bisa baca Al-Qur'an lagi, yang tidak bisa baca bisa mengaji di Al-Hikam



Suatu waktu abah pernah memaparkan visinya kepada santri-santrinya, yang salah satunya adalah memberantas buta huruf. Visi ini tidak saja ia terapkan di Depok tapi ke seluruh Indonesia dengan cara menyebarkan santrinya per-daerah satu orang.


Abah tidak akan memberikan ijazah strata satu (S1) kepada santri-santrinya sebelum melakukan pengabdian selama satu tahun penuh, yang tujuannya adalah tidak saja membantu pondok di mana santri bernaung, melainkan memberantas buta huruf dan tulis-baca Al-Qur'an di pelosok-pelosok Indonesia.


Baru dua angkatan, abah dipanggil Pemilik Semesta, Allah Swt. Dan abah ingin di makamkan di Depok, yang salah satu tujuannya agar setiap hari "mendengar" santri-santrinya membaca Al-Qur'an. Santri-santrinya pun mengirimkan doa dan khataman Qur'an selama 40 hari berturut-turut tanpa putus.




"Mulailah khataman yang dihadiahkan kepada abah Hasyim. Jangan sampai putus tujuh langkah dari makam



Ungkapan yang diinstruksikan oleh KH. Hilmi Al-Shidqi Al-Araqi prosesi pemakaman selesai. Ternyata ini adalah wasiat abah Hasyim Muzadi sebelum wafatnya.




"Khataman Al-Qur'an dilaksanakan selama 40 hari sesuai amanat almarhum," ujar putra terakhirnya, Yusron Shidqi.



Semoga hadiah ini sampai dan abah ditempatkan ditempat yang selayak-layaknya. Amin []

Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *