Hidup Bersama Pater dan Frater

Saya, akan melanjutkan tulisan pengalaman berdakwah bersama orang-orang Katolik, di Ende. Sebaiknya, Anda membaca terlebih dahulu, tulisan sebelum ini, melintas batas menerobos prasangka. Baiklah!

Saya akan mengawali dengan doktrin-doktrin agama Islam, bahwa Islam tidak mengajarkan “berprasangka buruk”, melainkan “waspada”. Prasangka dan waspada, dua hal yang berbeda, baik secara definisi, aplikasi dan implikasi serta penerapannya. Di internal kita (umat Muslim), tidak semua umat Muslim, dewasa dalam menyikapi perbedaan. Perbedaan dalam batas-batas tertentu, dipertentangkan sampai berujung konflik. KH. Hasyim Muzadi selalu mengajarkan bahwa perbedaan adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa, sedangkan pertikaian adala larangan-Nya. Biarlah yang berbeda tetap berbeda, yang beda jangan disamakan, dan yang sama jangan dibeda-bedakan.

Berprasangka buruk kepada siap pun dalam Islam tidak dibolehkan, selama belum ada indikasi jelas seseorang ingin mencederai kita. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa” (Qs. Al-Hujurat [49]: 12).

Ayat ini diperkuat dengan hadis Nabi Muhammad SAW, yakni: “hati-hati kalian dari persangkaan yang buruk (zhan) karena zhan itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalian mencari-cari aurat/cacat/cela orang lain. Jangan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi….. (Bukhari-Muslim). Ringkasnya, “tuhmah” atau tuduhan tanpa sebab, sangat dilarang dalam Islam.

Lalu, mengapa sebahagian umat Muslim menuduh non-Muslim, secara serampangan dan bersifat global, sedangkan non-Muslim (faktanya) tidak semuanya ekstrim (radikal dalam tindakan)? apakah di internal umat Islam, semua “moderat” dan tidak ada sama sekali gerakan ekstrim?, seperti ISIS, Syiah Zaidiyah dan Ismailiyah, Khawarij, bahkan Wahabi!. Disini, kita harus objektif dalam melihat dan memandang segala sesuatu, termasuk melihat non-Muslim. Saya, kira Anda [pembaca tulisan ini], bisa tidak sepakat dalam hal ini, tapi ini fakta yang tak terelakkan. Iya bukan?.

Pada sore hari, tanggal 08 Januari 2016, saya menerima undangan Pater Philipus Tule, SVD untuk menjadi pemateri di gedung Biara Suster CIY Ende, NTT. Ini membuat saya sangat berbahagia. Tema yang saya usung adalah “satu keluarga beda ibu” (ikhwatun li `illati ummahatuhum syatta wa dinuhum wahid). Gagasan ini saya ambil dari hadis Nabi Muhamamd SAW, yang jarang ditampilkan oleh umat Muslim ketika berdakwah dengan umat Kristiani dan Katolik. Padahal, Muhammad ibn Ism?il ibn Ibrahim Al-Bukh?ri dalam kitabnya Shahîh Al-Bukhari (2002) menyebutkan bahwa “Islam, Yahudi dan Kristen sebagai saudara namun beda ibu.”

Secara ringkas materi yang saya sampaikan begini, ketiganya memiliki titik kesamaan, yang bermuara pada sikap kepasrahan dan ketundukan kepada Tuhan. Islam dan Kristen masih satu trah dengan Nabi Ibrahim. Kristen lahir dari Nabi Isa dan Islam lahir dari Nabi Muhammad Saw. Keduanya bertemu pada Nabi Ibrahim. Nabi Isa berasal dari keturunan Ishak (putra Nabi Ibrahim) yang kemudian menurunkan Bani Israil. Sementara Nabi Muhammad SAW keturunan Nabi Ismail, saudara seayah dengan Nabi Ishak, yang juga menurunkan bangsa Arab.

Esok harinya, saya dan segenap pengurus Pondok Pesantren Walisanga, dikunjungi kembali oleh Pater Philipus Tule, SVD dan suster-suster di Pondok Pesantren Walisanga. Saya pun kembali memberikan sajian, seputar Al-Qur’an, masjid sebagai tempat ibadah umat Muslim, dan dunia pesantren. Ini akan menjadi bekal para suster, sebelum ditempatkan ke pelbagai pelosok tanah air. Sekat-sekat buruk, saya hilangkan, namun ada beberapa kunci materi yang tidak boleh disampaikan, karena setiap agama memiliki “titik perbedaan mendasar”.

Sebagai umat Muslim, hafal Al-Qur’an, tentunya saya tidak akan menggadaikan akidah saya, ini tidak bisa ditawar. Tetapi, jika umat Muslim hanya mengaji dan mengembangkan ajaran Islam kepada sesama umat Muslim, untuk apa Tuhan menciptakan pelbagai agama di muka bumi ini?. Karenanya itulah, dakwah dalam pengertian luas, menyebarkan ajaran Islam dengan damai kepada siapa pun, tanpa paksaan.
“Dalam masalah agama dan keyakinan sama sekali tidak ada paksaan. Dan petunjuk pun sangat jelas dibandingkan kesesatan. Karena itu, barangsiapa yang mengingkari thagut-thagut dan beriman kepada Allah Swt, pasti ia telah berpegang kepada tali Allah yang teguh yang tidak akan terpisah darinya. Dan Allah Mahamendengar dan Mengetahui” (Qs. Al-Baqarah [2]: 256).

Bahkan, Nabi Muhammad SAW, tidak memiliki otoritas dalam memberikan hidayah kepada manusia. Bukankah begitu?.

Dalam berdakwah bersama pater dan frater, saya pun tidak menggunakan bahasa-bahasa agama. Diskusi di depan televisi, bercanda tawa sambil menghirup udara segara, ditemani secangkir, disitulah masing-masing kami memberikan wacana baru dan berbagi seputar isu-isu yang berkembang, sesuai keyakinan dan akidah pilihan kami masing-masing. Taman Baca United [TBU] Ende, menjadi saksi diskusi-diskusi saya dan para frater dari umat Katolik, setiap hari.

Dengan tidak ada unsur melecehkan, mereka dengan senang hari berbagi pengalaman mereka, wawasan tentang ke-Tuhan-an, ajaran-ajaran mereka kepada saya. Apakah saya masuk Katolik? tidak. Begitulah, kita bisa menimba wawasan keagamaan kepada siapa pun, termasuk pada umat Katolik.

Saya banyak menimba tentang konsep “memanusiakan manusia” kepada para pater dan frater. Bukankah dalam Islam telah diajarkan via surah al-Ma’un tentang konsep ini. Bahwa pendusta agama, bukan siapa-siapa, melainkan orang-orang yang berakidah, tetapi tidak sampai pada tingkat kemanusian, enggan memberi kepada manusia yang lemah dan tak berdaya. Namun, konsep ini, tidak dipraktekkan, hanya menjadi pajangan di lembaran suci, kitab suci Al-Qur’an. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *