Harapan Kemenangan di Bawah Kepemimpinan ‘Atha Abu Rasytah Sirna

Saya semenjak menerima berita hiburan bahwa Felix Yanuar Siauw ditolak di beberapa tempat, saya tidak mengangkat status seperti dahulu kala. Dalam pembacaan saya terhadap berita yang berseliwiran, dalam benak saya yang terlintas adalah “Mengapa Hizbut Tahrir Indonesia” getol dan masif menyebarkan paham mereka, beberapa tahun belakangan ini. Job-job aktivis dan tokoh HTI, menurut informasi yang saya terima, cukup menggiurkan.

Banyaknya ini menjadi berita manis di kalangan internal HTI, karena acara-acara secara umum—setelah adanya warning dari pemerintah—tidak terlalu masif (seperti sebelumnya) menggunakan slogan yang “keras”, kecuali acara inti HTI dan “mashiroh” (istilah lain untuk menghaluskan dari bahasa demo). Acara-acara yang bertemakan remaja dan safari dakwah, sebagaimana tema-tema umumnya masyarakat Nusantara, mulai digunakan oleh aktivis-aktivis HTI.

Setidaknya terdapat beberapa hal, yaitu: menyembunyikan identitas anti-Pancasila yang menurut HTI “tidak mencukupi” dalam mengatur urusan persoalan bangsa yang rumit, di samping status Pancasila dalam internal HTI hanyalah falsafah biasa yang bisa digantikan kapan saja; masyarakat di kelas bawah, bisa diberikan amunisi bahwa yang menolak tokoh-tokoh HTI adalah Muslim. Cara berpikir ini diikuti oleh pertanyaan: “Apakah itu Muslim yang baik?, masa orang berdakwah dihalang-halangi”.

Virus selanjutnya, “pasti liberal, pengusung paham sukulerisme, pendukung paham komunisme dan lain sebagainya”; balutan tema yang halus menjadi ajang penambah dukungan. Misalnya, saya ambil kasus Felix Y Siauw. Setelah ditolak di Semarang, ia berkesempatan menjadi pembicara inti di masjid Warung Minin, Depok. Dalam ceramahnya, ia curhat (namun tidak menyebutkan ormas dan tempat di mana dia mengalami kejadian penolakan) tentang betapa banyak pendakwah yang ditolak saat berdakwah. Saat pendakwah menyampaikan pesan-pesan keislaman, dia ditolak. Tapi bagi pendakwah, meneruskan perjalanan tersebut adalah kebaikan daripada menghentikannya. Karena pertolongan Allah sudah semakin dekat; setelah masyarakat simpati, maka tahapan menyebarkan doktrin akan bereaksi. Yang ujungnya: Indonesia tidak bisa diselesaikan dengan sistem demokrasi dan menganut Negara Pancasila yang sudah kecampuran paham liberalisme, sekulerisme dan komunisme. Satu-satunya solusi adalah Khilafah.

Tiga Amir Tertinggi HT/HTI

Tiga amir Hizbut Tahrir, memiliki peran yang berbeda-beda, sekalipun tugasnya utamanya sama: menyebarkan paham Khilafah Islamiyah. Pertama, Taqiyuddin Al-Nabhani (1909-1977). Beliau adalah pendiri, pencetus dan amir pertama Hizbut Tahrir. Biografi utuh tentang Taqiyuddin Al-Nabhani (1909-1977) baru akan diterbitkan oleh Hizbut Tahrir Indonesia di Bandung. Selama ini, masyarakat bahkan kader HTI sendiripun tidak mengetahui silsilah nasab dan jalur keilmuwan amir pertama ini. Maka menerbitkan biografi kecil (kitabnya tidak tebal) ini penting, untuk menepis anggapan bahwa Taqiyuddin Al-Nabhani (1909-1977) tidak jelas silsilah keilmuwannya.

Di samping itu, salah satu yang dikatakan oleh kader-kader HTI, khususnya di Indonesia, bahwa jarangnya masyarakat mengenali pemikiran, biografi utuh dan apa-apa tentang HTI, selalu mengambil rujukan kepada ungkapan Taufiq Abdul Hadi, seorang mantan Ketua Kabinet Jordan pada era 1953-an. Salah satu ungkapannya, yang penulis sangat hafal adalah “Sesungguhnya (bagi penguasa), Hizbut Tahrir jauh lebih berbahaya daripada Parti Komunis. Segenap kekuatan dikerahkan untuk menghalang aktiviti dan perkembangannya. Tatkala Syeikh Taqiyuddin Al-Nabhani meninggal pada tahun 1977, seluruh media di negeri Arab dan negeri Islam lainnya dilarang dari membuat segala liputan mahupun ucapan takziah.”

Amir ini cukup produktif dalam menulis. Namun di masanya, ada satu masa di mana adanya undang-undang yang melarang kitab-kitabnya beredar luas, sebagaimana yang pernah dialami oleh Pramodya Ananta Tour dkk. Untuk tetap menyebarkan paham-paham Khilafah, Taqiyuddin tetap menulis selebaran-selebaran dan kitab-kitab, tetapi menggunakan nama Hizbut Tahrir. Misalnya, Kaifa Hudimat Al-Khilafah, Al-Fikru Al-Islami, Naqdlul Isytirakiyah Al-Marksiyah dan lain-lain. Bagi kader-kader HT/HTI, amir ini dikenal dengan masa pembentukan dan penumbuhan kehidupan ruang (kelompok) politik.

Kedua, Abdul Qadim Zallum (1924-2003). Seorang keturunan dari nasab Zallum, ayahnya pernah menjadi guru pada masa Daulah Khilafah Abbasiyah. Paman dari ayahnya pun memiliki peran pentig pada masa Daulah Khilafah Utsmaniyah, Abdul Ghafar Yunus Zallum. Sebelum Taqiyuddin Al-Nabhani wafat, Abdul Qadim Zallum memang sangat dipercayai. Di samping seorang pembantu yang paling dipercanyai Taqiyuddin, Abdul Qadim Zallum sering menerima tugas berat dari majikannya, Taqiyuddin Al-Nabhani.

Di masa kepemimpinannya, paham HTI semakin menyebar luas sampai Asia Tengah dan Asia Tenggara, Eropa dan lainnya. Seingat penulis, beliau memimpin kurang lebih 25 tahunan dan di masa tuanya, di usianya yang kurang 80 tahunan mengundurkan diri dan kepemimpinan HTI beralih ke anggota lain. 40 hari setelah mengundurkan diri, Abdul Qadim Zallum wafat bulan Maret tahun 2003 di Beirut.

Karya-karyanya tidak terlalu banyak dibandingkan amir pertama, ada tiga kitab yang menjadi pamungkas untuk melihat sosoknya, yaitu: kitab yang membahas tentang demokrasi sistem kufur (Al-Dimuqrathiyah Nizamul Kufri), bagaimana upaya Amerika menghancurkan Islam yang kitab ini diberi judul Al-Hamlah Al-Shalibiyah lil Jurj Busy ala Al-Muslimin (Serangan Amerika untuk Menghancurkan Islam). Kitab ini menjadi sinyal keras, bahwa ingin ditegakkannya Khilafah Islamiyah itu lebih kepada emosi terhadap Barat dibandingkan dakwah sebagai panggilan Ilahiyah. Dan Indonesia menjadi tempat percobaan setelah negara-negara lain menolak eksistensinya HT. Dan ketiga, kitab yang membicarakan tentang benturan antar peradaban, kitab ini diberi judul olehnya Hatmiyah Shira’ Al-Hadharat (Keniscayaan Benturan Antar Peradaban). Masa ini pun dikenal sebagai masa pengaktifan dan pengembangan dakwah HT ke seantero dunia.

Ketiga, Atha’ Abu Rasytah. Setelah pengundurn diri dari Abdul Qadim Zallum, ketua Dewan Mazhalim Hizbut Tahrir mengumumkan bahwa amir penggantinya adalah Atha Abu Rasytah. Ia terpilih pada 13 April 2003 sampai saat ini. Maka pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini “Masa Kemenangan?” merupakan inti tulisan ini. Di mana, di bawah kepemimpinannya ini HT/HTI mendapat pertolongan dari Allah untuk menaklukan belahan dunia dan berada di bawah konsepsi Khilafah.

Untuk membaca karya-karyanya, bisa merujuk ke link http://archive.hizb-ut-tahrir.info/arabic/index.php/htameer, di mana karya beliau yang menjadi andalan kader HTI adalah Taisiru Al-Wushul ila Al-Ushul (Cara Mudah Menguasai Ushul Fikih). Semasa kepemimpinannya, penulis hanya mengetahui bahwa beliau baru mengeluarkan lima kitab dab pada tahun 2006, beliau mengeluarkan kitab yang menjadi revisi dan penyempurna dari kitab Masyru’ Al-Dustur Daulah Khilafah (Rancangan Konstitusi Daulah Khilafah). Masa ini, saat ini, adalah masa yang ditunggu kader-kader HT/HTI, yaitu: masanya meraih kemenangan atas izin Allah.

Akhirnya, penulis mendapatkan jawaban. Mengapa di Indonesia, gerakan pendoktrinan konsep Khilafah Islamiyah sejak tahun 2000-an semakin masif, bahkan di tahun 2016 dan 2017, HTI tambah ganas layaknya harimau. Tokoh-tokoh HTI tidak segan-segan bertamu ke tokoh-tokoh yang sejatinya diketahui oleh mereka menolak gagasan Khilafah, tetapi tetap bertamu. Bertamu ini dibalut dalam selimut “silaturrahmi”. Apapun motif dan niat baiknya, tetapi gaya seperti ini ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa HTI bisa merangkul, HTI bisa diterima oleh siapa saja dan lainnya.

Demikian tulisan singkat saya terhadap fenomena phobia Felix atau anti Felix. Hematnya, penolakan itu karena pemahamannya yang ingin membongkar (bukan menambal) sistem kebangsaan dan kenegaraan Negara Indonesia, bukan Felixnya sebagai Muslim. Saran saya, Felix mencoba merubah pemahamannya dan kembali berdakwah dengan manhaj Ahlu Sunnah wal Jamaah seperti NU dan Muhammadiyah. Maksudnya, dalam berdakwah dan memaparkan konsepsi kenegaraan dan kebangsaan, meniru model orang tua negeri ini. Agar tidak terjadi keos di mana-mana kemudian hari. Harapan kemenangan akan sirna manakala HTI beserta kader-kadernya melawan arus yang ada, bahkan sirna itu akan semakin tampak manakala sudah dicap negara sebagai pemberontak dan keos dengan pemerintah. Mari ambil jalan yang aman, yaitu: BERDAKWAH TANPA GAUNGAN KHILAFAH ISLAMIYAH. Salam ukhuwah!

Pasar Rebo, 09 Juli 2017
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *