Hakikat Beragama Mensyaratkan 'Kebebasan'


“Tidak ada agama dengan paksaan, sebagaimana tidak ada cinta dengan paksaan”



Jawdat Sa’id


 

Keluhuran manusia terletak pada kebebasannya. Tanpa adanya kebebasan, maka tidak ada tanggung jawab atau taklif dan balasan dari Allah terkait perbuatan baik dan buruk. Kebebasan itu pula merupakan bagian dari kemerdekaan sejati manusia. Dan kemerdekaan manusia merupakan asas kebersamaan yang hakiki. Watak dasar manusia adalah suka memilih, memilih sesuatu yang akan dilakukan menurut olah pikirnya, terlepas disandarkan pada sumber ajaran yang dianutnya atau tidak, tapi proses pemilihan syarat akan kerja akal. Allah melengkapi potensi dan akal, salah satunya untuk memilih jalan yang baik dan menjalani yang benar.

Kebebasan beragama dan toleransi telah termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an, “tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Qs. Al-Baqarah [2]: 256).

Ayat tersebut jelas senafas dengan ajakan Nabi Muhammad pada Raihanah binti Zaid, seorang budak perempuannya, ketika Raihanah ditawari masuk Islam, ia lebih memilih agama Yahudi, namun pada akhirnya Raihanah memilih masuk Islam atas kesadarannya. Kasus ini bisa kita jadikan teladan, dan jika kita tautankan pada ayat di atas, maka keberagamaan yang baik adalah yang didasarkan pada pilihan (kondisi normal) dan tanpa tekanan sedikit pun atau jenis apapun. Hal ini bisa dilihat dari redaksi la yang bermakna la linafyi Al-Jins atau menafikan seluruh jenis paksaan apapun, khususnya dalam hal agama.

Di samping itu pula, seruan ayat ini bersifat umum, tujuannya jelas tapi model paksaannya tidak dijelaskan satu pun. Ayat ini, tidak ada nasakh-nya, sesuatu yang membatalkannya. Ia terus berdiri dan menjadi sandaran dalam praktek dakwah dan penyebaran agama. Di dalam menyampaikan ajaran Islam, seseorang tidak dibenarkan untuk memaksakan pemikirannya, keyakinannya dan sampai berpendapat bahwa darah selainnya halal. Ini sungguh tidak dibolehkan dalam Islam. Karena ayat ini adalah salah satu ayat “penghormatan manusia”.

Nabi Muhammad SAW pernah diperingatkan oleh Allah SWT, bahwa dirinya hanyalah penyampai, dan dalam menyampaikan tidak boleh memaksa. “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka” (Qs. Al-Ghasiyah [88]: 21-22). Ayat ini mengajarkan akan ke-privatan esensi keimanan, sedangkan seseorang yang sudah beriman untuk mengekspresikannya ke dalam kehidupan nyata, sebagai aktualisasi penghayatan dirinya atas agama yang dianutnya.

Maka bebas dalam memilih adalah bersifat mutlak. Semua keterpaksaan hanya akan melahirkan superficial dan psedo-religiosity, sebuah kepalsuan dan ketidaksejatian dalam beragama. “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya. Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya” (Qs. Yunus [10]: 99-100).

Meminjam istilah Cak Nur, dalam konteks ini, “kehidupan harus ditempuh dengan penuh kebebasan.” Pilihannya pun didasarkan pada pilihan rasional yang tidak boleh bertentangan dengan norma-norma tertinggi. Dan dengan cara-cara yang santun sajalah, keberagamaan sejati (genuine and sincere religioisity) akan tercapai dengan sempurna."Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir." Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek” (Qs. Al-Kahfi [18]: 29). Ayat ini memuat gagasan bahwa Allah memposisikan manusia sebagai makhluk yang berakal. Dengan akal itulah, pilihannya sudah melewati berbagai proses, kesalahan akan dibalas dengan azab dan kebenaran akan dibalas dengan kebahagiaan.

Ajaran Islam sungguh komprehensif, coba kita buka lembaran-lembaran terdahulu, mulai dari naskah Magna Charta (1215), Petition of Right (1628), Habeas Corpus Act (1679), Bill of Rights (1688), The Declaration of Rights (1776), Declaration des Droits de L’Homme et du Citoyen (1789), De Burgelijke en Staatkundige Grondregels (1789), Right of Selfdetermination (1918), The Four Freedoms (1941) dan The Universal Declaration of Human Rights (1948), yang kesemuaannya masih bersifat parsial, tidak se-komprehensif ajaran Islam. Lebih-lebih, 14 abad yang lalu, Islam sudah memproklamirkan hak dasar kehidupannya, dan terakhir kali Nabi Muhammad SAW memproklamirkan sebelum wafat di Padang Arafah 632 M, saat beliau melakukan haji Wada’.

Apa yang membedakan konsep kebebasan dalam perspektif filsafat Barat dan Islam, yaitu: kebebasan beragama dalam Islam bukan berarti bebas dari agama, sedangkan perspektif Barat bebas beragama sampai pada tatanan berada di luar organisasi keagamaan, misalnya: ateis. Tapi, sebenarnya sangkar ateisme itu sendiri sudah terbongkar. Mengapa runtuh? karena hal itu bertentangan dengan kemauan Tuhan yang ingin manusianya beragama, yang juga sesuatu yang tidak bisa ditentang manusia namun coba ditentang. Konsep ateisme atau orang yang ingin bebas dari beragama sejatinya, mereka membuat diri mereka kehilangan sifat kemanusiaan hakiki dan kehilangan hati nurani.

Yang di maksud penulis dalam judul “hakikat beragama mengsyaratkan kebebasan” adalah bukan konsep yang berpendirian apa saja dan bebas tanpa batas tanpa ikatan. Karena jika demikian konsep yang diinginkan, maka kesimpulannya adalah orang akan bebas percaya atau tidak percaya kepada Tuhan, bebas beragama atau tidak beragama sekalipun. Dan ini tidak masuk dalam kamus Islam.

Mengapa hal itu tidak masuk dalam kamus Islam, karena umat Muslim dikatakan manusia karena mereka memiliki akal dan potensi yang diberikan oleh-Nya. Dan dalam Islam, kata “akal” memiliki arti “mengikat”. Dalam konteks ke-Indonesiaan, seseorang yang tidak beragama pun bertentangan dengan sila pertama Pancasila, yakni: Ketuhanan Yang Maha Esa. Jika bebas tidak beragama atau tidak beragama sama sekali, menunjukkan matinya sila pertama Pancasila Republik Indonesia. Padahal, “Ketuhanan Yang Maha Esa adalah urat tunggang Pancasila,” ujar Hamka, pakar tafsir Al-Qur’an Al-Karim.

Arnold J. Toynbee dalam bukunya The Preaching of Islam: A History of the Propagation of the Muslim Faith (1913) mengatakan bahwa “dari adanya hubungan cinta kasih yang terjalin antara orang-orang Kristen dan umat Islam dari bangsa Arab, dapatlah kita katakan bahwa kekuatan bukan merupakan faktor utama dalam mengubah manusia menjadi Islam. Muhammad sendiri telah mengadakan suatu perjanjian dengan berbagai kabilah Kristen dan menyanggupi untuk memberikan perlindungan dan kemerdekaan kepada mereka dalam melakukan upacara keagamaan. Di samping itu, beliau juga memberikan kebebasan kepada pemuka gereja untuk menikmati hak dan authority tradisional mereka dalam suasana aman dan tentram.” Itulah ungkapan seorang sarjana Kristen Inggris terhadap sifat toleransi Islam. []

*Ende, 2016
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *