Haji: Sebagai Tangga Makrifatullah

Islam merupakan agama yang mendahulukan kebenaran dan keobjektifan. Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa berita mensyaratkan adanya kejujuran dalam menyampaikan berita. Nabi pun memerintahkan untuk mengklarifikasi kepada sumber yang dapat dipercaya.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (Qs. Al-Hujurât [49]: 6).

Nabi yang berkapasitas sebagai seorang yang ma’shum tentunya dijamin oleh Allah SWT dengan menyematkan sifat-sifat mulia, yaitu: shidiq, amanah, tabligh dan fatonah. Keempat sifat itulah sebagai bukti kongkrit bahwa Nabi Muhammad SAW tidak akan menyampaikan syariat dengan tahrîf, pengurangan atau melebih-lebihkan. Tranformasi itu terjadi secara murni, baik yang terkodifikasi dalam Al-Qur’an, hadis Qudsi maupun hadis-hadis yang terakreditasi oleh para muhadits.

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (Qs. Al-Mâidah [5]: 67).

Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, namun hadis-hadis belum semuanya terdokumentasikan—sebagaimana halnya Al-Qur’an Al-Karim—maka tongkat estafet beralih kepada sahabat-sahabat terdekat Nabi. Sahabat-sahabat Nabi tidak mendapat jaminan kema’shuman, namun dalam sabdanya, Nabi Muhammad memberikan ungkapan yang cukup jelas untuk menggambarkan eksistensi orang-orang terdekatnya, “ashâbî ka Al-Nujûmi bi-ayyihim iqtadaitum ihtadaitum” (Para sahabatku bagai bintang-bintang di langit, yang mana pun kamu ikuti niscaya kamu pasti mendapat petunjuk). Mengapa demikian? Disebabkan konsep keadilan dan kejujuran Nabi Muhammad sudah menyemai dalam diri-diri mereka.

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”(Qs. Al-Taubah [9]: 100).

Ayat Al-Qur’an tersebut diafirmasi lagi oleh hadis Rasulillah Muhammad SAW, khairu Al-Nhâsi qarnî tsumma Al-Ladzî yalûnahum, tsumma Al-Ladzî yalûnahum, tsumma yajî’u aqwâmun tasbiqu syahâdatu ahadihim yamînahu wa yamînuhu syahâdatahu (Sebaik-baik generasi adalah pada masaku, kemudian disusul generasi berikutnya [sahabat], kemudian generasi berikutnya lagi [tabi’in], kemudian datang beberapa generasi yang mana mereka mendahulukan kesaksian atas sumpah dan kadang pula mendahulukan sumpah atas kesaksian).

Hadis tersebut juga menjadi indikasi kuat atas kegelisahan yang ada dalam diri Nabi. Nabi sudah memprediksi bahwa ada zaman yang rusak, maka upaya pemeliharaan dan meminimalisir kesalahan penyampaian dalam sebuah berita pun harus segera dibakukan.

Ketika Nabi Muhammad masih hidup, konsep klarifikasi hadis dan konsep jarh wa ta’dil belum terkonsepkan secara baku. Zaman itu tidak diperlukan teori-teori ilmiah untuk menguji kesahihan sebuah hadis, disebabkan upaya klarifikasi langsung ditanyakan kepada Nabi Muhammad SAW. Sahabat-sahabat Nabi—sebagaimana yang dinyatakan oleh Mustafa Shiba’i dalam Al-Sunnah wa Makânatuhâ fî Al-Tasyrî’ Al-Islâmi (1998)—seperti Abu Bakar Al-Shiddiq, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, istrinya A’isyah, Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Ubadah bin Samit adalah orang-orang yang selalu meneliti hadis. Sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Ustman bin Affan menggunakan konsep tathabbut dan istishhad, sedangkan Ali bin Abi Thalib lebih cenderung menggunakan konsep istihlaf dalam menguji sebuah hadis.

Fase-fase berikutnya, muncul kumpulan hadis-hadis seperti: jawâmi’, masânid, ma’âjim, maghâzy wa siyar, sunan dan sejenisnya. Kemudian muncul lagi konsep-konsep baku sebagai alat uji kesahihan, seperti: thabaqât, marâsil, jarh wa ta’dîl dan lain sebagainya. Namun, jamak diketahui di kalangan muhadits bahwasanya ketika seseorang menyatakan kelemahan sanad hadis tidak menjadikan kelemahan itu berlaku di matan. Ulama hadis-hadis pun membuat kriteria kesahihan hadis, seperti: ittishâl (ketersambungan sanad), dabt atau adâlah. Jika keduanya terpenuhi maka disebut sebagai muhadits yang tsiqah.

Sedangkan upaya menjaga kesahihan matan dibuatlah konsep baku oleh para ahli hadis, seperti: mengkomparasikan sebuah hadis dengan hadis-hadis lainnya—yang dalam metode tafsir disebut dengan maudhû’i. Sebuah upaya untuk mengetahui adanya tambahan kata, penduluan dan pengakhiran, penambahan dan pengurangan, perubahan tanda berhenti, perubahan harakat dan tanda baca dan jika ingin lebih dalam lagi dilihat syarah-nya.

Kata pengantar ini tidak cukup holistik dan komprehensif untuk mewakili gagasan dan pemikiran penulis tentang hadis-hadis. Sebuah upaya yang dilakukan oleh pembuat buku ini harus disambut dengan baik. Mengingat kerja dan publikasi hadis-hadis tidak boleh berhenti, apalagi berhenti hanya di pesantren-pesantren saja.

Hadis-hadis dan kajian yang menyertainya harus lebih digalakkan di kampus-kampus swasta dan negeri. Mustahil seorang penganut agama Islam mampu memahami sosok pribadi Nabi Muhammad tanpa memahami dua sumber primer, Al-Qur’an Al-Karim dan hadis Rasulillah Muhammad SAW.

Tidak ada gading yang tak retak, buku Haji: Sebuah Tangga Makrifatullah ini masih banyak kekurangannya, utamanya masih kering dari penjelasan terhadap sajian sanad dan matannya. Namun, kekurangan itu jangan sampai membuat kesejukan dan kesyahduan membaca buku ini. Semoga buku ini menjadi tambahan wawasan dan khazanah keislaman. []

Depok, 11 Januari 2017
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *