Gema Pancasila dan Khilafah (2)

Al-Qur`ân akan terus berkembang seiring dengan akselerasi perkembangan sosial dan budaya seseorang, hal ini bisa kita lihat dari banyaknya penafsiran terhadap sebuah teks di dalam Al-Qur`ân, memunculkan metode baru, membuat kitab tafsir-tafsir, jurnal ilmu-ilmu Al-Qur`ân dan lain sebagainya. Pemahaman seseorang akan terus mengalami evolusi, di mana ia akan selalu berusaha mendialogkan teks Al-Qur`ân dengan kondisi sosialnya.

Disinilah letak kemukjizatan Al-Qur`ân atau bahasa lainnya shâlihun li kulli zamân wa makân, walaupun Al-Qur`ân diturunkan pada masa lalu dengan kondisi sosial dan budaya yang berbeda tetapi teks-nya mengandung nilai-nilai universal, sedangkan universalitas umat Islam terletak pada kemampuannya menjawab problematika yang ada sekarang ini.

Saat ini yang belum tuntas dibahas oleh para akademisi yaitu paradigma profetik (Islam). Pencetuk paradigma baru ini, Kuntowijoyo saat membahas Qs. Ali Imrân [3]: 110 pun masih “ngambang”. Harus ada solusi baru dalam menafsirkan ayat ini, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Yang dalam sistem kerjanya tidak bisa dilepaskan dari “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung (Qs. Ali Imrân [3]: 104). Pemisahan kedua ayat dan pemahaman yang tekstualis membuat fenomena fundamentalis-religius berkembang pesat dewasa ini. Maka pemahaman yang radik dan holistik menjadi kebutuhan akademisi untuk melerai perbedaan yang bias konflik.

Hizbut Tahrir Indonesia dalam Manifesto Hizbut Tahrir untuk Indonesia; Indonesia, Khilafah dan Penyatuan Kembali Dunia Islam (2009) memiliki pandangan yang berbeda dengan Kuntowijoyo. HTI menganggap, meskipun jumlah umat Islam saat ini banyak, baik kualitas dan kuantitasnya tapi tetap tidak bisa disebut sebagai umat yang terbaik. Mengapa masyarakat Muslim Indonesia (khususnya), tidak bisa dikatakan khairu ummah?, HTI mengatakan: “berpangkal pada tidak adanya kedaulatan asy-Syari’. Tidak ditetapkannya sistem Islam di tengah-tengah masyarakat. Masalah utama ini kemudian memicu terjadinya berbagai persoalan ikutan… tidak diterapkannya sistem Islam telah nyata membawa negara ini dalam keterpurukan.”

Masyarakat yang dicekoki paham ini bisa dengan cepat menyetujui dan pada saat itu, gema Khilafah mulai disuntik ke dalam saraf-saraf otak masyarakat Indonesia. Gemanya adalah “tak diragukan lagi, bahwa satu-satunya jalan untuk membebaskan umat dari keadaan yang penuh kesulitan dan kehinaan ini adalah dengan menegakkan kembali Daulah Khilafah.”

Masyarakat yang tak tahu dan mengerti logika berpikir dan gaya penyajian HTI, akan mudah terbius dan berpotensi dijadikan kader. Ditambah kelicikan dakwah HTI dalam memantik suara masyarakat berupa sajian firman-firman Allah dan hadis Rasulillah Muhammad SAW.

Kelicikan itu bisa tampak, misalnya membuat acara dan perkumpulan yang mengatasnamakan ulama (Baca: Pernyataan Ulama Dalam Silaturahmi Ulama dan Pengasuh Pondok Pesantren Jawa Timur Di PP Nurul Ulum Jember). Semua ulama yang terkumpul dan menandatangani itu bukan dari ulama kita, malaikan tokoh-tokoh yang mengatanasnamakan ulama dan mereka itu HTI semuanya. Dengan demikian, wajar jika konsensusnya adalah “pentingnya menegakkan Khilafah”. Semuanya itu dilakukan demi meraup simpatisan belaka.
Gema Khilafah itu diiringi dengan pertanyaan dari syabab-syabab HTI, seperti: “Benarkah Bendera Merah Putih Adalah Bendera Rasulullah?”. Pertanyaan ini untuk menggiring masyarakat memahami bahwa bendera Rasulullah itu seperti bendera yang sering dikibarkan HTI di mana-mana, termasuk di atas gunung dan pantai, yang notabene tidak ada penghuninya.

HTI di samping tidak mengakui ideologi Pancasila sebagai ideologi negara, juga tidak mengakui sang saka merah putih. Maukah anak-anak kita kelak menjadi orang-orang yang tidak menghargai perjuangan para leluhur bangsa ini?.
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *