Frater Mengajar di Pesantren, Why Not?

Seluruh mahasiswa Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur'an (STKQ) Al-Hikam Depok, Jawa Barat, melaksanakan masa pengabdiannya selama setahun penuh di pelbagai penjuru Indonesia. Program Tabadul Ustadz ini hasil kerjasama antara Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren - Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI dengan STKQ Al-Hikam Depok, anggaran tahun 2015. Dan saya dibekali tiket untuk pergi menuju tempat pembuangan Bung Karno, sebelum kemerdekaan Republik Indonesia.

Ketika mengetahui bahwa saya ditugaskan di Ende, Nusa Tenggara Timur, maka bayangan saya hanyalah Bung Karno. Sebelum berpisah dengan kawan yang bertugas di Karang Asam, Bali, saya mencari terus informasi mengenai Ende. Karena saya hanya diberitahukan nama Yayasan Walisanga Ende Flores, tapi sejarah pesantren, sejarah Ende dan hubungan antar-agama tidak sama sekali. Sampailah saya di bandara H. Hasan Aroeboesman, Ende. Di jemput oleh seorang perempuan dengan menggunakan mobil pesantren. Ternyata beliau pimpinannya.

Saya pun bertemu dengan santriwan dan santriwati Walisanga. Esok harinya, saya mendapatkan karya tulis Munandjar Widiyatmika yang berjudul Sejarah Agama Islam di Nusa Tenggara Timur. Proses penulisan buku ini dimulai sejak 1989 sampai terbit tahun 1995. Saya pun tercerahkan setelah membaca tulisan Pater Hendrikus Maku, SVD, MTh yang berjudul Pondok Pesantren Walisanga Ende: Lembaga Pendidikan Islam Yang Inklusif, yang kemudian tulisan itu dimasukkan dalam buku Wacana Identitas Muslim Pribumi NTT (2015).

***

 

Mempekerjakan calon pastor—yang disebut frater—di Gereja dan sekolah-sekolah Katolik adalah wajar dan hal biasa. Namun, mempekerjakan frater di pesantren itu luar biasa. Pertama, luar biasa karena umumnya pesantren diajar oleh kiai, ustadh, alumni pesantren atau habib, tapi pesantren Walisanga setiap tahunnya menerima frater menjadi guru. Dan tugas seorang frater, tidak saja mengajar ilmu-ilmu umum di sekolah MTs dan MAS (Madrasah Aliyah Swasta), tapi berperan dan berkecimpung dalam segala bidang.

“Ini pengalaman baru dalam hidup saya. Terkadang saya harus tidur bersama para santri hingga membangunkan mereka untuk shalat,” ujar Fr. Eksel. Begitulah kesan Fr. Eksel saat mengisahkan kisah hidupnya bersama para santri. Ada juga salah satu frater, Vitalis Nasruddin berkicau, "sudah lama tidak mendengar adzan, jadi kangen sama PonPes Walisanga."

Kedua, pada saat SVD membuka sayap dengan misi awal para misionaris, mereka mencoba membangun kerukunan dan mewujudkan pesan kitab suci pada umat beragama lain. Pada saat itu, gereja sangat bersifat eksklusif. Sebagaimana ungkapan Pater Amandus Klau SVD saat dialog Kerukunan Umat Beragama dengan topik Ende dan Perbedaanya yang berlangsung di Pondok Pesantren Walisanga Ende, yaitu:

“Serikat Sabda Allah sudah membangun dialog dengan umat Muslim sejak kehadirannya di Ende pada tahun 1915. Dan hal ini bisa disebut sebagai suatu terobosan berani, karena saat itu Gereja universal masih cukup tertutup bagi agama-agama lain.Saat itu Gereja masih berpandangan bahwa di luar Gereja tidak ada keselamatan atau extra ecclesia nulla salus, tetapi SVD sudah berani hidup berdampingan dan bekerja sama dengan umat Muslim di Ende. Kita tahu, Gereja baru mulai membuka diri bagi agama-agama lain sejak Konsili Vatikan II (1962-1965)."

Kerja sama ini pertama kali disebabkan pertemuan dua kawan sejawat, antara Pater Nikolaus Hayon SVD—saat itu sebagai berstatus sebagai provinsial SVD Ende—dengan H. Mahmud Eka, pendiri Pondok Pesantren Walisanga. Yang kedua-duanya berteman sejak sekolah di Sekolah Rakyat. Dan pada tahun 1998, para frater dari Ledalero mulai menjalankan tahun orientasi misioner (TOM) di Pesantren Walisanga Ende, dan kerjasama ini terus berlanjut sampai sekarang.

Ini sebuah gebrakan baru di dunia pendidikan Islam, khususnya di Indonesia. Bagaimana pesantren harus bersifat terbuka dan inklusif. Sekalipun pada awal-awalnya, banyak hembusan angin katolisasi, namun sepengetahuan penulis, sampai saat ini tidak ada santriwan dan santriwati yang pindah agama. Maka jika ada, fenomena pindah agama itu hanya "kebetulan sosial" saja.

Para frater yang tinggal di pesantren dengan doktrin, "kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Gal 5:14). Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW, "siapa yang tak mengasihi manusia, maka Allah tak akan mengasihinya." Tapi, umat Muslim kerap mengabaikannya. Lebih senang duduk di kursi yang nyaman, lebih sejuk hidup dalam satu warna, satu ideologi, satu organisasi dan lain sebagainya. Akhirnya, satu sama lain hanya mementingkan kelompoknya, sedangkan lainnya terabaikan.

Dari frater yang mengajar di pesantren tidak dibayar. Mereka bekerja sesuai intruksi dari komunitas SVD, yaitu: membantu dan menolong sesama manusia tanpa melihat status agamanya. Dan lebih menariknya, bahwa para frater itu hanya diberikan sangu perbulan dari komunitas, berkisar 100 sampai 150 ribu.



Hal ini juga berlaku untuk para pater, bruder dan sejenisnya yang tergabung dalam komunitas. Setiap hasil pendapatan mereka di luar komunitas, diserahkan ke komunitas. Apakah umat Islam bisa seperti itu?. Itulah yang terlintas di benak saya sejak mengetahui seluk beluk Serikat Sabda Allah (SVD) di Ende.

Memang, di dalam kitab suci umat Muslim terdapat ayat Al-Qur'an yang berbunyi, "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu sebelum kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)." Dan jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu" (Qs. Al-Baqarah [2]: 120).

Ayat tersebut tidak bisa secara terus dijadikan patokan, yang akhirnya terus menerus kita terjebak dalam "toleransi yang semu". Model kerjasama yang dilakukan oleh Walisanga dengan SVD, setidaknya bisa menjawab pertanyaan tentang klaim setiap agama sebagai pencipta damai dan perekat kehidupan integratif antarumat beragama.

Selama ini, sekalipun agama bukan kausa tunggal, tapi karena agama, antar sesama manusia berkelahi, dan sulit rasanya bergandengan tangan. Apalagi menyatu dalam satu wadah yang berbeda secara fundamental, serta kepercayaan yang berbeda-beda. Sebaiknya, kita kembali mempertanyakan, di mana kehadiran agama yang ideal itu, sebagai entitas ajaran dari Tuhan, bisa membahagiakan kehidupan manusia, baik di dunia dan akhirat.

Di satu sisi, selama ini sebagian umat Muslim dalam memandang status frater hanya sebagai sosok manusia yang kerap memindahkan keyakinan orang lain. Sebenarnya, misi Kristenisasi, yang mencoba mengajak orang pindah agama, juga terdapat di dalam tubuh umat Muslim. Kita mengenal konsep Islamisasi yang luas, yang salah satunya adalah mengajak non-Muslim masuk ke dalam Islam. Tapi, itu bukan penghalang—sekali lagi bukan penghalang—untuk membina kerjasama yang baik.

Dalam urusan agama, kita berprinsip "untukmu agamamu, dan untukku agamaku", tapi dalam hubungan sosial (muamalah) kita terus bersatu padu mewujudkan kebahagian di dunia. Menghilangkan dera kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, ketidakadilan, ketertindasan dan lain sebagainya. Jika kita bisa bersama, mengapa kita harus berpisah dan bertengkar. Indahnya rajutan toleransi antara Walisanga dengan SVD. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *