Fikih Aqalliyat dan Ucapan Natal


“Salam sejahtera (semoga) dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku, hari aku wafat, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”



Fkih Islam adalah sebuah tafsir (pandangan) ulama terhadap Al-Qur`an dan hadis. Sebagai sebuah tafsir, maka kebenarannya bersifat relatif, relatifitas hukum Fikih menafikan konsensus yang bersifat absolut. Konsensus ulama Fikih (orang yang memiliki otoritas mengeluarkan fatwa) dipengaruhi oleh subjektifitas dirinya, dan perumusan Fikih tersebut berdampak signifikan terhadap hasil produksinya. Subjektifitas tidak saja dilatarbelakangi oleh pengetahuan kognitif seseorang, tetapi sosio-historis-nya. Karena itulah, di dalam Islam dikenal dengan Fikih Hijaz, Fikih Hanafi, Fikih Maliki, Fikih Syafi`i, Fikih Hanbali, Fikih Ja`fari dan lain sebagainya.

Fikih Aktsariyyat (mayoritas) dan Fikih ‘aqaliyyat (minoritas) tentunya memiliki karakter Fikih yang berbeda. Fikih Mayoritas tidak boleh mengarah kepada diskriminasi dan eks-komunikasi kelompok minoritas. Fikih mayoritas yang terkadang konservatif harus direkonstruksi kembali, agar kembali menjadi Fikih adaptif, Fikih ini akan mampu untuk meniti zaman yang terus berubah.

Kaidah Ushul Fikih (legal maxim) menyatakan hal ini dengan tegas, yaitu: Al-Hukmu yataghayyaru bi tagghayyuri Al-Azminah wa Al-Amkinah (hukum berubah sesuai dengan perubahan zaman dan tempat) dan La Yunkaru tagayyuru Al-Ahkam bi Tagayyur Al-Azman (tidak dapat dipungkiri perubahan zaman keniscayaan adanya perubahan hukum).

Ini terbukti dengan kasus pakar Fikih, Imam Syafi`i yang merekonstruksi qaul qadim-nya (pendapat pertamanya) dengan qaul jadid-nya saat di Timur Tengah. Mengapa demikian? Abu Ishaq Ibrahim Ibn Musa Al-Syatibi dalam kitabnya Al-Muwafaqat fi Ushul Al-Syari`ah  (2003)—di dalam riwayat judul kitab ini awalnya Al-Ta’rif bi Asrar Al-Taklif—dengan tegas menjawabnya, bahwa syariat datang untuk kemaslahatan hamba, baik di dunia maupun di akhirat. Syariah diketahui dan dipahami oleh seluruh umat manusia sesuai keberadaan, dan syariah merupakan wadah seseorang untuk melepaskan dirinya dari kungkungan yang terus mengikatnya.

Salah satu bentuk produk Ilmu Fikih yakni hukum mengucapkan “Selamat Natal” untuk umat Kristiani. Kita ketahui, bahwasanya tidak seluruh peringatan dan perayaan agama memiliki landasan tekstual-historis keagamaan yang kuat. Salah satunya adalah perayaan natal dan segala pernak-pernik yang melekat pada hari perayaan tersebut. Namun, bukan berarti, umat Kristiani tidak merayakannya. Misalnya, Sinterklass, dengan memakai baju merah yang sedang membagi-bagikan hadiah. Zwater piet (peci hitam) yang berperan memukuli anak-anak nakal. Sampai saat ini, terasa kurang lengkap jika Natal-an tanpa Sinterklass. Begitu pula pohon natal.

Artinya, Natal yang ‘hidup’ sejak berabad-abad itu tidak perlu selalu kita sodorkan pada pertanyaan seputar kebenaran tekstual-historis perayaan Natal, melainkan substansi mendalam yang dapat diresapi, dijiwai serta nilai luhur yang terkandung dalam perayaan itu, kemudian diimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari, sebagai bentuk aktualisasi ketauhidan yang totalitas.

Pernyataan Gus Mus (sastrawan muslim Indonesia) melemparkan lelucon yang cukup mendalam. Ia mengatakan “engkau tidak butuh dalil untuk memuliakan dirimu, tapi kenapa engkau menuntut dalil untuk memuliakan Nabi Muhammad?.” Di dalam Islam, melalui informasi yang terdapat di dalam kitab Lathaiful Ma`arif Fima Li-Mawasim Al-‘Ami Mina Al-Wadzaifi (1999) karya Ibnu Rajab Al-Hanbali mengakui adanya ikhtilaf (perbedaan) tentang tanggal kelahiran Nabi Muhammad Saw, tetapi mayoritas umat Islam sepakat pendapat Ibnu Hisyam di dalam kitab monumentalnya Al-Sirah Al-Nabawiyah (1995), bahwa Nabi Muhammad SAW lahir pada tanggal 12 Rabi`ul Awal.

Begitu pula dengan umat Kristiani, di mana 25 Desember diyakini sebagai lahirnya Yesus, maka umat Islam harus menghormati perayaan tersebut. Sejatinya, natal tidak sepenuhnya hanya berkutat pada perayaan dan saling memberi hadiah. Yang paling esensial adalah mengakui kejumudan diri, sebagai bentuk sikap pasrah atas kebertauhidan yang diyakini oleh umat Kristiani. Natal menjadi sebuah intropeksi diri, saat kelahiran-Nya, Yusuf dan Maria yang sedang mengalami hamil tua sedang berjalan di tengah malam, di sebuah kota bernama Bethlehem.

Dengan kondisi perut melilit, ia tetap tabah dan sabar menghadapi cobaan itu. Di dalam Islam pun begitu, sebelum terjadinya Hijrah, umat muslim diasingkan oleh kaum Qurasih Makkah. Namun Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya tetap tabah juga.

Fatwa Haram Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengucapkan natal kepada umat Kristiani, harus kita kontekstualisasikan, di mana produk Fikih tersebut lahir, pada kondisi apa dan penyebabnya apa. Inti, dari ‘pengharaman’ itu, pertama, tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Kedua, mengucapkan natal merupakan sarana untuk membenarkan keyakinan umat Kristiani. Kedua argumentasi itulah yang terus mengiang-ngiang di sebahagian kalangan Islam.

Padahal, sebuah oxymoron untuk umat Islam, jika kita mengakui dan menyakini iman kita kuat dan bertakwa, tetapi di satu sisi, kita takut di kala umat lain berdakwah atas keyakinan yang dipilihnya. Pengekangan itu merupakan bentuk kelemahan iman kita. Karena, jika iman kita kuat, maka tidak perlu takut terhadap perubahan yang mengitari kehidupan kita.

Dengan dasar dan basis teologis yang komprehensif, sejatinya Fikih tidak lagi berkutat pada ruang kecil. Fikih harus lebih kontekstual dengan cara mengembangkan hukum kontemporer yang lebih sesuai dengan kondisi zaman. Oleh karena itu, dengan kondisi masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dihuni oleh banyak kelompok Kristen, baik Katolik maupun Protestan, umat Islam harus lebih fleksibel dan mengadaptasikan Ilmu Fikih yang sudah dipelajari.

Dan karena hal ini—status hukum mengucapkan natal—masuk dalam ruang lingkup Fikih. Maka tidak boleh menyalahkan umat Islam yang turut merayakan Natal. Karena yang merayakan Natal memiliki landasan juga, sebagaimana yang tidak membolehkan memiliki landasan argumentasi.

Pengharaman “mengucapkan Natal” harus ditinjau lagi, mengapa? Karena, pertama, mengucapkan selamat Natal tidak paralel dan identik dengan pengakuan. Kedua, melalui dalil Qs. Maryam [19]: 33, di mana Nabi Isa Al-Masih pernah berkata “salam sejahtera untukku pada hari kelahiranku, wafatku dan kebangkitanku”.

Di lain ayat Al-Qur`an, Allah memberikan ucapan selamat, tidak saja kepada Nabi Isa, seperti kepada Nabi Nuh “salam kesejahteraan dilimpahkan buah Nuh di seluruh alam” (Qs. Al-Saffat [37]: 79). Nabi Ibrahim “salam sejahtera buat Ibrahim” (Qs. Al-Saffat [79]: 109). Nabi Harun (Qs. Al-Saffat [79]: 120), Nabi Ilyas (Qs. Al-Saffat [79]: 130).

Allah SWT memberikan ucapan selamat kepada Nabi Isa. Semestinya, merayakan natal sesungguhnya memperingati kelahiran utusan Tuhan, yakni Isa Al-Masih. Sebab, Isa Al-Masih bukan saja milik umat Kristiani secara komunal, melainkan untuk semua orang yang mengimaninya. Sekali lagi, penulis tegaskan dengan ungkapan yang lain, universalisme Islam terletak pada kemampuannya dalam menjawab segala problematika zaman. Itulah ruh dan substansi Ilmu Fikih. Dan mengucapkan “selamat natal” kepada umat Kristiani dibolehkan tanpa ada paksaan sedikitpun. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *