Ende: Kota Pluralis


“Jika semua agama memang benar sendiri, penting untuk diyakini bahwa surga Tuhan yang satu itu sendiri, terdiri banyak pintu dan kamar. Tiap pintu adalah jalan pemeluk tiap agama memasuki kamar surganya. Syarat memasuki surga ialah keikhlasan, pembebasan manusia dari kelaparan, penderitaan, kekerasan dan ketakutan, tanpa melihat agamanya. Inilah jalan universal surga bagi semua agama. Dari sini, kerjasama dan dialog pemeluk berbeda agama jadi mungkin”


—Abdul Munir Mulkhan



Sekumpulan kata-kata Abdul Munir Mulkhan dalam Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar (2002) di atas, cukup menjadi sorotan utama para peneliti di Institute For the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), seperti: Adnin Armas, Adian Husaini, Hamid Fahmy Zarkasyi dan lain-lain. Semangat untuk meluruskan konsepsi Islam tentang pluralisme terlalu berlebihan, seakan-akan konsep pluralisme—sebagaimana yang terdapat dalam buku Pluralisme Agama: Telaah Kritis Cendekiawan Muslim (2013)—hanya terletak pada gagasan “di mana semua agama dapat berdamai dan berjalan bersama menuju keselamatan dan kebenaran yang diinginkan semua manusia. Paham ini mewartakan pandangan baru tentang kebenaran, bahwa semua agama ialah jalan yang sama-sama sah dan sama pula benarnya menuju Tuhan yang sama.”

Kesimpulan itu pun memperkuat keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pada tanggal 29 Juli 2005 mengeluarkan fatwa mengharamkan umat Islam mengikuti paham pluralisme, sekulerisme dan liberalisme. Menurut MUI, “pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama relatif. Oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar, sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga.”

Sekelumit pemikiran INSIST dan MUI, jika kita bawa ke dalam konteks masyarakat Ende, luasnya Nusa Tenggara Timur, pemahaman itu akan mengilhami konflik. Beberapa bulan setelah MUI mengeluarkan fatwa itu, KH. Hasyim Muzadi—seorang pakar pemadam konflik yang juga sebagai Sekjen International Conference of Islamic Scholars (ICIS)—saat memberikan orasi ilmiahnya dalam Dialog Kerukunan Antara Pemerintah dan Tokoh Agama dan Pimpinan Lembaga Keagamaan Tingkat Provinsi NTT di Kupang, tanggal 15 November 2005, menanggapi fatwa MUI itu.

Menurut KH. Hasyim Muzadi, keputusan itu justru semakin membingungkan umat, padahal sesungguhnya yang diharamkan MUI adalah partai-isme. Menurutnya, “pluralisme sesungguhnya adalah penghargaan terhadap pluralitas dan bukan partai-isme.” Kesalahan-kesalahan semantik di dalam Islam ini, kerap menjadi bias konflik. Terlebih jika status keharaman tersebut bergeser sampai pada “doa bersama”. KH. Hasyim Muzadi memberi analogi pada sejumlah Hand Phone (HP), di mana Hand Phone itu dijejer tapi kalau nomornya lain, masuknya Short Message Service (SMS) juga akan berbeda. Kasus-kasus di mana doa bersama ini, banyak dijumpai di Ende dan luasnya Nusa Tenggara Timur.

***


Ende—sebutan lainnya yakni: Endeh, Nusa Ende, atau dalam literatur kuno menyebut kota itu dengan Inde atau Ynde—dikenal sebagai kota pluralis. Pancasila—sebagai ideologi bangsa-negara—yang begitu universal dan filosofis, berkat diasingkannya Bung Karno di Ende, pada tahun 1934 oleh Pemerintah Hindia Belanda. Dan pada saat Bung Karno diasingkan ke Ende, Serikat Sabda Allah (SVD) baru 19 tahun bermisi di Pulau Flores. Dan atas waktu yang cukup lama, persahabatan Bung Karno dengan para pastor, memicu dirinya untuk menggali toleransi agama yang kemudian dia rumuskan ke dalam ruh Pancasila.

Bung Karno saat berpidato pada tahun 1954 di Ende mengungkapkan, “saudara-saudaraku sebangsa setanah air, proses terbentuknya Pancasila ini memakan waktu lama, melalui limbah air mata, melalui pengorbanan fisik dan perasaan. Beberapa kali aku ditangkap Belanda, beberapa kali aku diadili, masuk tahanan dan dipenjara. Syukur alhamdulillah, aku dibuang dan dikucilkan di Pulau Flores, tinggal bersama saudara-saudaraku di sini selama lebih kurang empat tahun. Dalam kurun waktu empat tahun itu aku menggali, menggali, dan menggali. Semangatku tidak pupus karena disingkirkan ke Ende ini. Apa yang bertahun-tahun aku tekuni telah mengendap dan mengkristal. Budaya bangsaku, warisan leluhurku telah aku kaji menjadi lima butir mutiara yang tersimpan sejak dulu dalam kalbu bangsaku di persada tanah air Indonesia.” Demikian sumber-sumber merekam pidato Bung Karno.

Niat awal Pemerintah Hindia Belanda mengasingkan Bung Karno ke Ende agar semangat yang menggelora itu terpadamkan, tapi Tuhan berkehendak lain. Justru, Bung Karno menjadikan Ende sebagai laboratorium ideologi dan politik ke-Indonesiaan, yang mengeluarkan ide-ide brilian dan kemudian dikongkritkan dalam lima sila, setelah melewati diskusi panjang, yang disebut Piagam Jakarta.

Sampai saat ini, Ende merupakan jantungnya Flores. Kota bersejarah yang menyisakan keangkeran sejarah masih terus terukir rapi di dalam benak-benak masyarakat Indonesia, dan terekam di balik dinding situs Bung Karno di Ende. Meminjam bahasa Steph Tupeng Witin, “Ende ibarat pelita yang mengembuskan berkas-berkas cahaya untuk menerangi relung-relung Flores.” Dan kalau kita baca jiwa/motto dari koran Harian Umum Flores Pos adalah “Dari Nusa Bunga untuk Nusantara”.

Sebuah motto yang memiliki pesan, dimana pesan singkatnya adalah Ende—lebih luasnya NTT—adalah kiblat toleransi beragama Indonesia. Toleransi dan pluralisme yang tumbuh di Ende, tidak semu. Dan jika saja, para peneliti hidup dalam kurun waktu yang lama di Ende dan NTT, melihat dan menggali nilai-nilai yang bersemanyam di dalam rahim-rahim, maka kesimpulannya akan berbeda. Misalnya, doa bersama yang melibatkan umat Katolik atau istilahnya ka mea (perjamuan perpisahan).

Di dalam buku Wacana Identitas Muslim Pribumu NTT (2015) direkam bagaimana seorang pemimpin ritual adat melakukan wesa lela atau penyajian persembahan berupa beras dan ayam hidup, kemudian di sertai doa adat untuk arwah para leluhur di rumah tuan adat. Tradisi perpisahan persembahan seseorang sebelum berangkat ke tanah suci, Makkah. Adapun doa yang dibacakan yaitu:
Eee ‘embu kajo ‘iro ‘aro (Hai para leluhur kami)

Ta mata mudu re’e do’e (Yang telah wafat mendahului kami)

Mbe’o doa ghewo doa (Yang sebagian diingat, yang lain terlupa)

‘Ana embu miu Abdul Hamid [misalnya] (Anak cucumu Abdul Hamid [misalnya])


Ta tau ganti ngai (Sebagai pelanjut generasi)

Mo’o mbana ta ena rada ri’a (Semoga berjalan tanpa halangan)

Mo’o dora ena nete noa (Semoga berkelana tanpa rintangan)

Dheko oda fonga bheda rada agama (Mengikuti petunjuk tanpa rintangan)

Kami oa ena Nggae rade (Kami mohon Tuhan penguasa bumi)

Ne’e Ndewa reta (Dan Allah penguasa langit)

Tau sipo ri’a wadi sagho modo (Menjaga dan melindungi dia)

Pu'u poro todo (Sejak dia keluar rumah)

Mo’o imu mbana weka wa (Agar dia menemukan jalan mudah)

Jeka dau Mekka (Hingga di Makkah)

Mo’o dora imu nete noa (Agar dia berkelana di jalan lapang)

Jeka demba wado nua (Kembali ke kampong halaman)

Jika saja tetap menggunakan fatwa MUI, maka secara otomatis, doa bersama dan model perjamuan perpisahan seperti ini tidak boleh dilakukan umat Muslim. Tapi, sebagai penulis, saya memiliki pemikiran yang berbeda, bahwa toleransi yang sudah lama dirajut oleh masyarakat Ende, tidak boleh hilang karena disebabkan sebuah fatwa. Dengan syarat, toleransi yang tidak memiliki pengertian justikifasi. Toleransi yang memiliki pengertian justifikasi adalah salah seorang di antara penganut agama beribadah di luar tempat ibadah agamanya. Misalnya, umat Muslim ibadah di Gereja, orang katolik shalat di Masjid. Selama hal-hal semacam itu tidak dilakukan, maka tidak apa-apa.

Ende sebagai kota pluralis, masing-masing dari setiap penganut agama untuk memiliki kewaspadaan. Termasuk waspada pada segerombolan manusia yang ingin menurunkan dan merendahkan martabat Ende, dari kota Pluralis menjadi kota diskriminasi. Maka, sebagai umat Muslim, kita harus percaya bahwa pada dasarnya tiap agama berdiri di atas dan berasal dari satu esensi tak-berbentuk yang sama.

Keragaman yang ada di dunia adalah warna-warni dan realitas yang tidak bisa dipungkiri oleh satiap insan. Artinya, kebenaran setiap agama adalah setara. Setiap manusia memiliki wilayah subjektifitas masing-masing yang tidak boleh ditolak dan dilecehkan, sebagai upaya penghargaan atas pilihan rasional dirinya dalam mencari kebenaran transenden itu.

Transendentalisme, selalu mengajak bahwa tidak ada agama yang salah, yang salah adalah manusia itu sendiri, ketika dirinya merubah peraturan Tuhan dan menyelewengkan ajaran-Nya. “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (Qs. Al-Maidah [5]: 105). Bagi setiap penganut, meniscayakan dirinya untuk mengatakan bahwa agamanyalah yang istimewa. Tapi ingat, keistimewaan itu pun berlaku untuk orang lain. []

*Makmun Rasyid, Ende, 2016
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *