Dustanya Umat Nabi Muhammad

 

“"Berdustalah mereka yang menikmati sembahyang, namun melupakan nasib orang-orang yang tersingkirkan dan menderita secara sosial"
––Moeslim Abdurrahman, Islam Yang Memihak (2005)



 

Bulan yang penuh perayaan, dari perayaan kecil hingga perayaan besar. Perayaan adalah bentuk luapan jati diri seseorang. Seseorang yang tak membutuhkan perayaan––entah alasan apapun yang melatarbelakanginya––menunjukkan bahwa ia gagal dalam beragama dan berbudaya. Mengapa? Perayaan merupakan wadah penyambung alur sejarah, baik sejarah masa silam maupun budaya yang baru. Pemahaman bahwa perayaan adalah keniscayaan merupakan sesuatu yang logis. Setiap orang ingin menampakkan: dari mana ia berasal dan menengok sejarah klasik tentang agamanya. Dengan demikian, perayaan menjadi kebutuhan seseorang untuk mengetahui asal usul dirinya dan agamanya, termasuk perayaan maulid Nabi Muhammad SAW.

Perayaan yang mengekspresikan adanya hubungan eksistensial, antara dirinya dengan objek yang dirayakannya. Hubungan erat antara umat dengan pemimpin agamanya. Hubungan yang terajut kuat sekalipun jasad telah memisahkannya. Nabi Muhammad SAW telah wafat, banyak umatnya yang tak bersanding duduk mesra bersamanya, tapi ajaran dan sumbangsihnya terus diteladani oleh umatnya. Tapi, apakah segudang ajarannya, umatnya tak melakukan dosa? Dosa yang banyak dilakukan umatnya adalah “penyingkiran” sistematis bahwa Nabi memberikan pesan terkait ekonomi. Ia berulang-ulang membacakan doktrin Tuhan kepada umatnya, ekonomi merupakan hal esensial yang menentukan kehidupan, kehidupan yang sejahtera membuat suasana beragama pun akan lebih baik. Perut yang kosong membuat aktivitas ibadah pada-Nya tak nikmat. Namun, perut yang kenyang––secara berlebihan dalam mengkonsumsi––membuat umatnya lupa akan ke-syahduan bermesraan pada Tuhan.

Nabi Muhammad kerap menyuarakan pentingnya “pemerataan”, “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya” (Qs. Al-Hasyr [59]: 7). Firman Tuhan ini tak sekadar ‘curahan’ hati-Nya, melainkan sisi penting dalam kehidupan manusia. Perut kosong terkadang menjerumuskan manusia kepada hal-hal bias negatif. Kriminalitas––umumnya dan kebanyakan––berasal dari gejala: ketidakpuasan terhadap income dan lingkungan yang tidak kondusif.

Pengagungan di mana-mana, tak akan berarti bilamana aspek ekonomi orang lain tak terpenuhi bahkan tak terpikirkan. Urusan perut bukan urusan pemerintah semata, tapi urusan orang-orang yang berkecukupan, rezeki yang berlebihan dan kekayaan yang berlimpah. Akhirnya, banyak orang mengaku beriman pada-Nya, shalat sepanjang malam, namun melupakan tetangga. Namun, masih lebih ia shalat daripada tidak shalat. Perayaan maulid Nabi Muhammad, jangan sampai berhenti pada aspek perayaan dan pengagungan semata, tetapi ada aspek penting yang harus kita teladani: memberdayakan potensi manusia, mengelola ekonomi dengan baik yang berujung pada pemerataan dan memanusiakan manusia itu sendiri.

Sampai pada tatanan praktek, umat beragama hendaknya melakukan reinterpretasi terhadap teks agama dengan kunci-kunci yang lebih membebaskan. Harapan pembacaan itu membuat seseorang peka pada realitas sosial yang terjadi secara memihak kepada manusia, kemanusiaan dan keadilan. Teks-teks Al-Qur’an bukanlah teks mati yang tidak bisa dihidupkan, melainkan kematian teks ketika tak ada penafsiran dan pembaruan terhadapnya. Menarik mencermati pemikiran Moelim Abdurrhaman, cita-cita “(yang) Islami” sebenarnya adalah upaya rekonstruksi yang terus menerus, bagaimana mengatasi jurang antara yang ideal dan aktual. Tujuannya, Islam sebagai agama tidak saja dirayakan setiap tahunnya yang berkali-kali, melainkan mampu dijadikan referensi yang mampu menghadang hegemoni, kapitalisme yang menghantam ekonomi Muslim saat ini dan khususnya bisa menjadi kekuatan bagi kerja-kerja kamanusiaan yang bersifat emansipatoris.

Mengapa semua ini diperlukan? Karena Islam harus menjadi counter symbolic. Di mana saat ini, antara mustadh’afin dan yang menindas, antara yang lapar dan rakus, terasa sekali di janutng nadir kita. Ini sebuah human and learning (pembelajaran manusia) yang harus dicarikan solusinya. Jangan sampai, agama––khususnya oleh umat Muslim––kembali dipertanyakan layaknya Bertrand Russell yang menulis: “Apakah Agama Memberi Sumbangan Berharga Bagi Peradaban?”. Lebih jauh lagi, jangan sampai persepsi “ibadah manusia merdeka” adalah ibadah seseorang yang tak beragama. Dalam pandangan Islam, beragama mengsyaratkan keyakinan akan wujud Tuhan yang permanen dalam diri. Kritikan keras atau coup de grace yang dilakukan Russell lebih keras daripada Sigmund Freud, termasuk gagasannya dalam buku The Future of Illusion (1927). Freud menganggap bahwa agama adalah ilusi. Ia tegas menyatakan: bahwa agama di masa lalu penting bagi peradaban, tetapi agama sekarang ini kehilangan kekuatannya untuk membendung anarki.

Penulis tidak akan masuk lebih dalam tentang Russell dalam Russell on Religion (1999), tapi adanya penghayatan kembali makna maulid Nabi Muhammad SAW. Ada kajian yang lebih serius dari sekedar perayaan tanpa wujud kongkrit (amal nyata), yaitu: julukan nabi sebagai “humanisasi spiritualitas” yang telah terjebak dalam fatalisme akibat krisis moral. Di samping perayaan, ada wujud nyata yang dilakukan umat Muslim yaitu: keluar dari a classless society dan “masyarakat tidak berkelas”. Masyarakat yang tidak membedakan suku, agama, ras dan ideologi. Semuanya bukti inklusivisme agama Islam.

Dalam rangka maulid Nabi Muhammad SAW ini, kita jadikan “renaisance etika profetis” sebagai sarana untuk menggapai peradaban baru yang lebih sejuk nan anggun. Ada pesan penting dari perayaan ini––menurut KH. Hasyim Muzadi, yaitu: pertama, prinsip kesederajatan dan keadilan, dan kedua, prinsip inklusivisme (keterbukaan). Kedua prinsip ini kemudian dimodifikasi oleh kelompok Sunni dan ahli sunnah wal-jamâ’ah menjadi i’tidâl (konsisten), tawâzun (seimbang), tasâmuh (toleran) dan tawasuth (moderat). Yang semuanya menjadi landasan ideal sekaligus operasional mazhab Sunni dalam menjalin hubungan sosial-kemasyarakatan. Wa-qad jama’a al-Asrâra wa al-Amra kullahu Muhammadun al-Mab’ûtsu lil-khalqi rahmatan (Nabi mengumpulkan segala ‘rahasia’ dan segala kesempurnaan. Nabi Muhammad diutus bagi seluruh mahluk sebagai rahmat). Dustanya umat Nabi Muhammad adalah mereka-mereka yang mengaku beriman namun hubungan sosial-kemasyarakatnnya rusak (tidak baik). Umat yang baik adalah seimbang antara hablun minallâhi (hubungan dengan Tuhan) dan hablun minannâsi (hubungan sesama manusia).  Wallâhu a’lam bil-shawâb []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *