Dokumentasiku, Warisan (yang) Anda 'Harus' Serap

Tubuh kurus-kurus dan baju-baju yang longgar, sebanyak 40 orang mendaftar menjadi santri abah Hasyim Muzadi. Kini semuanya gemuk-gemuk dan wajahnya berseri-seri. Sebagai "awaliyyun", santri pertama di Depok dan mahasiswa perdana STKQ Al-Hikam, saya sangat bersyukur. Tenaga pengajarnya kelas nasional dan internasional. Mengajari kami-kami yang pikirannya kosong, hanya terisi oleh 30 juz Al-Qur'an. Ya, syarat masuk STKQ Al-Hikam harus sudah selesai 30 juz.

Mulai dosen Bahasa Arabnya dari Sudan dan Mesir, hingga pengajar kelas nasional. Ilmu "Jarh wa Ta'dil" diajari di semester pertama, padahal "Mustolah Hadis" belum dikaji. Ilmu "Qiraat Sab'ah" diampu KH.Fathoni, ilmu "Ulumul Qur'an" diampu KH. Muhaimin, ilmu "Tafsir" diampu KH. Akhsin Sakho yang selama kuliah menjelaskan menggunakan Bahasa Arab, 10 persen Bahasa Indonesia. Saya yang dari umum, hanya pelanga pelongo, sedangkan karim kerabat ku sudah bertanya menggunakan Bahasa Arab.

Kampus Strata I (Satu) ini dalam pandangan saya, hanya diajar oleh para doktor dan profesor, kecuali Bahasa Arab dan Inggris. Sebuah keinginan abah dan kebijakanSaya bersyukur lagi dan sampai akhir hayatnya, kami santri-santrinya dikenalkan dan dipertemukan orang-orang besar. Dalam setiap acara nasional, saya menjadi notulensi tetap bersama Ust. Sofiuddin. Sedangkan bagian dokumentasi dipegang Ust. Syauqu Habibi. Sampai sekarang, saya terus mentranskip video-video abah Hasyim dan suatu saat akan diterbitkan dan di launching.

Ikut berperan dalam setiap diskusi nasional, tentunya sedikit banyak bersyukur bisa menyerap ilmu-ilmu dan petuah-petuah abah Hasyim Muzadi. Dokumentasi abah Hasyim adalah salah satu warisan yang harus di-booming-kan oleh santri-santrinya dan siapa saja pecinta pemikirannya. Namun abah berpesan, "tafsirkan sebisanya" atau tafsirkan "bi qadri uqulika".

Jika kita korelasikan dengan salah satu pesan pendidikan abah kepada santri-santrinya, agar berlaku jujur. Di dalam menafsirkan pemikiran abah Hasyim Muzadi, harus jujur. Baik sumbernya, siapa yang mentraskipnya dan kejujuran menampilkan data. Abah mengajarkan kemudahan bukan kesulitan. Karena (setahu saya), salah satu prinsip abah adalah "mempermudah urusan orang lain".

Saat hari pertama abah di alam kubur, yang terlintas adalah mendokumentasikan pemikirannya, mengumpulkan artikelnya yang bertebaran di koran-koran dan lain sebagainya. Agar tepat pada 40 harinya, paginya khataman Al-Qur'an kubro dan siangnya ditutup dengan launching buku tentang pemikiran abah Hasyim. Semoga terwujud. Amin []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *