Dahulukan Akhlak di Atas Hukum

Status facebook seputar mengucapkan “selamat hari raya Imlek” membuat percekcokan di antara dua aliran pemikiran dalam Islam. Pertama, tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) yang menganut kaidah Al-Muhafadzatu `ala Al-Qodîmi Al-Shalih wa Al-Akhzu bi Al-Jadîdi Al-Ashlah (menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang sejalan dengan pilar agama) dan al-Adatu muhakkamatun ( adat atau budaya adalah hukum) dan kedua, tokoh muda Wahabi. Kelompok ini di dalam perkembangan paradigma berpikir, ‘tidak’ menguasai variabel-variabel penafsiran yang lazim digunakan dalam dunia interpretasi Al-Qur’an dan hadis (sabda Nabi Muhammad SAW). Dampaknya,  menghasilkan interpretasi yang kaku, rigit dan bahkan politis.

Dalam perjalanan keduanya, saya sepakat untuk mengistilahkan Wahabisme dengan neo-Khawarij. Kelompok Khawarij dalam sejarah Islam, memiliki paradigma berfikir yang kaku dan egoistik, sekte ekstrimis Islam periode awal yang kerap melakukan aksi kekerasan atas nama agama, berlandaskan pada interpretasi yang literal dan apologetis terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis.

[caption id="attachment_684" align="aligncenter" width="278"] Info Pendaftaran 085811874120[/caption]

Perdebatan keduanya bukanlah yang pertama kali. Maka kemudian muncullah pertanyaan-pertanyaan teologis; siapa yang kafir dan bukan, siapa yang keluar dari Islam dan siapa yang tetap konsisten keislamannya. Pertanyaan teologis semacam ini tercatat dalam buku-buku sejarah Islam (tarikh Al-Islam). Perdebatan yang memakan korban, saling menyalahkan, egosentrisme lebih muncul daripada diskusi ilmiah yang saling unjuk hujjah (argumentasi) yang rasional, holistik dan komprehensif.

Polemik itu berawal dari sabda Nabi Muhammad SAW yakni “man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum” (barangsiapa yang menyerupai suatu kaum/kelompok maka ia bagian daripadanya). Pertanyaannya adalah apa perbedaan makna dari menyerupai, mengikuti, menjalani, mengakui dan meyakini sebuah tradisi atau perayaan umat lain. Hadis ini acapkali menjadi argumentasi primer untuk ‘menyerang’ seseorang yang turut ikut serta merayakan tradisi umat lain. Misalnya, perayaan natal, tahun baru Masihiyah dan Imlek. Bagaimana kongklusi pemikiran kelompok tektualis, jika dihadapankan pada fenomena di Belanda, seorang muslim yang beribadah (shalat) di tempat gereja atau Capela orang Kristen?, Bagaimana seorang muslim yang ibadah di sebuah tempat yang terdapat salibnya?, dan lainnya.

Akankah konsep bahwa sesuatu yang tidak atau belum dikerjakan Nabi mutlak perbuatan bid`ah (sesuatu yang baru) dan bid`ah hanya memiliki makna sesat?. Bukankah Nabi Muhammad SAW hanya diberikan umur pendek yang tidak mengikuti seluruh perkembangan zaman, termasuk zaman abad modern.

HasyimAsy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama) pernah membuat fatwa melarang perayaan Maulid Nabi Muhammad yang menjadi tradisi umat muslim. Fatwa itu ditinjau dari sosio-historisnya, disebabkan faktor masuknya “acara negatif” yang membuat momentum “Maulid Nabi” hilang. Ringkasnya, KH. Hasyim Asy’ari membolehkan kembali, setelah budaya itu hilang sampai saat ini. Seandainya, Nabi Muhammad hidup pada zaman kini, apakah merayakan Imlek bersama kawan-kawan beretnis Thionghoa menjadikan status iman kita tidak stabil, menyakini ajaran mereka disebut sesat, bahkan kafir. Bukankah hukum itu terus berevolusi?.

Bukankah, di dalam tradisi Islam, ucapan “Aku berlindung kepada-Mu dari godaan syaitan yang terkutuk” dianjurkan untuk dibaca saat membaca Al-Qur’an. Alasanya, agar ke-Aku-an—istilah agama Islam disebut ananiyah atau egosentrisme—dalam diri seseorang mampu dikendalikan dengan baik. Di satu sisi, sifat ego lebih muncul dalam praktek keberagamaan dan muamalah dengan orang lain. Ego yang membenarkan diri sendiri, pendapat pribadi, ideologi dan mazhab kelompok, dan menyalahkan sikap dan keputusan pihak lain.

Bisakah kita bersikap seperti para ulama yang lebih cerdas dan mumpuni dalam bidang keislaman, untuk berusaha menerapkan bahwa pendapatku yang aku yakini benar, tetapi mengandung kesalahan. Dan pendapat orang lain salah, tetapi mengandung atau peluang untuk benar. Ibnu Hajar Al-Haitami menyatakan bahwa madzhabun? shawab yahtamilu Al-Khatha wa madzhabu gyairin? khatha yahtamilu Al-Shaw?b (mazhab kami benar, tetapi mengandung kesalahan, dan mazhab selain kami salah tetapi mengandung kebenaran). Hakikatnya, sinisme mengantarkan kita kepada pandangan yang mudah menyesatkan (misleading) dan itu merusak objektivitas kerangka berpikir.

Abu Hanifah (pemikir rasional dalam mazhab Fikih), guru Imam Malik (yang menjadikan tradisi hadis di Madinah sebagai hukum tertinggi dalam Fikihnya) selalu mengucapkan “ucapan kami ini hanyalah opini. Ini yang terbaik yang kami dapatkan. Jika ada orang baru dengan pendapat yang lebih baik daripada kami, ia adalah orang yang paling dekat kebenarannya daripada kami.” Karena opini yang berserakan tidak harus kita ikuti dan yakini, skeptisisme (ciri filsafat) harus selalu tumbuh dalam tradisi intelektual saat ini.

Misalnya, Abu Hamid Muhammad Ibn Muhamamd Ibn Muhammad Al-Thusi Al-Ghazali (dikenal Imam Ghazali) yang tidak sepakat pada pemikiran para filsuf dengan menulis kitab berjudul Incoherence of The Philosophers (1963)—terjemahan Sabih Ahmad Kamali, atas Tahafut Al-Falasifah—kemudian muncullah Ibn Rusyd dengan kitabnya Tahafuh Al-Tahafut (1964) yang mencoba merespon pemikiran Imam Al-Ghazali. Al-Qadhi Yahya ibn Said Al-Anshari menyatakan “tiada henti-hentinya pemberi fatwa terus mengeluarkan fatwanya. Satu menghalalkan dan lainnya mengharamkan. Orang yang mengharamkan tidak pernah memandang orang yang menghalalkan akan binasa karena penghalalannya. Demikian sebaliknya.”

Walaupun ahli ilmu itu memiliki otoritas dan ahli memberi keluasan. Terdapat perbedaan di sana-sini, namun tidak saling mengecam dan menjustifikasi satu sama lain. Itulah akhlak orang yang memiliki ilmu. Ilmu bukanlah pedang yang siap menghunus jiwa yang tidak disukainya. Jadikanlah perbedaan adalah anugerah terindah Allah bukan suatu azab yang sungguh menakutkan. Jadilah ahli ilmu yang memberi keluasan bukan yang menyempitkan. Tujuan syariat Islam adalah leluasa, leluasa pagi pemeluknya untuk memilih dan memilah, yang baik menurut dirinya, tanpa kecaman yang membabi buta.

Sesuatu yang berbeda janganlah disamakan, dan yang sama janganlah dibeda-bedakan sesuai kehendak nafsu intelektual yang dimiliki seseorang. Konseptual berpikir Nahdlatul Ulama yang menggabungkan antara hukum (termasuk Fikih), dakwah dan tasawuf (esoterisme dalam beragama) adalah sebuah budaya intelektual yang sempurna. Ahli Fikih akan menghalalkan dan mengharamkan tanpa sikap kompromitas, namun mursyid atau ahli hikmah (para Sufi) mencoba menarik perlahan-lahan yang haram menjadi halal. Itulah akhlak para sufisme dalam berdakwah. Dakwah yang disertai akhlak akan lebih menghujam kokoh pada orang lain ketimbang dakwah dakwah tanpa akhlak.

Dalam ruang lingkup akhlak, orang bersidekap pada waktu shalat dan yang mengikuti rukun-rukun dan syarat-syarat shalat, tidak bisa menjadi ukuran kesalehan dan kemulian seorang hamba. Karena pekerjaan itu adalah aturan buatan manusia (ijtihad ahli Fikih). Tetapi Nabi Muhammad SAW mengukur kesalehan seseorang dari akhlaknya. Jika akhlak harus diutamakan diatas hukum (termasuk Fikih) mengapa tidak dilakukan dalam konsep bersosial antar-pemeluk agama. Semoga Tuhan melegakan dada kita, memudahkan urusan kita, melepaskan lidah kita tanpa kendali, dan buatlah orang-orang paham pada pemikiran dan pembicaraanku. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *