Cinta Al-Qur'an


“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” (Qs. Al-Anfâl [8]: 2)



Kosakata Al-Qur`ân berjumlah sebanyak 77.439, hurufnya 323.015. surahnya 114, sedangkan ayatnya menurut Ibnu Abbas 6.616 ayat, menurut penduduk Makkah 6.213 ayat, menurut penduduk Madinah 6.214 ayat, menurut penduduk Basrah 6.216 ayat dan penduduk Kufah 6.236 ayat.

Titik perbedaan perhitungan dari jumlah ayat Al-Qur`ân, di dalam kajian Ilmu Al-Qur`ân dan Tafsir, setidaknya ada dua sebab, yaitu: pertama: Nabi Muhammad SAW pernah berhenti pada suatu ayat tertentu, di satu pihak menganggap itu bukan akhir ayat, anggapan lain menyatakan itu akhir ayat. Kedua: perbedaan di dalam menghitung Fawâtih Al-Suwâr (permulaan surat) yang terdiri dari Al-Ahruf Al-Muqâtha`ah.

Kehebatan magik dan daya tarik Al-Qur`ân, dari ayat-ayat yang begitu banyak, selalu menyilaukan mata. Ia merupakan bacaan sempurna dan pancaran cahaya ilahi selalu merasuki jiwa-jiwa para pecinta al-Qur`ân. Al-Qur`ân tidak saja diperuntukkan bagi mereka yang beragama Islam, tetapi untuk seluruh alam semesta. Ditengah-tengah al-Qur`ân akan dijumpai kalimat “perdamaian”, sebagai simbol kelemahlembutan dan kasih sayang ajaran Islam. Hati dan jiwa yang selalu disirami oleh untaian-untaian kalimat Allah, akan membentuk jiwa yang lemah lembut dan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai al-Qur`ân. Al-Qur`ân disatu sisi juga, mampu memancarkan cahaya yang berbeda-beda sesuai dengan pemikiran yang membacanya.

Makna dari Qs. Al-Anfâl [8]: 2 menjadi bukti kuat dan tanda kecintaan nomor satu seseorang pada Al-Qur`ân. Hatinya bergetar, merasa dipanggil dan tersungkur sujud kepada-Nya, dengan penuh kepasrahan dan penuh introspeksi diri, dikala ayat-ayat yang ia dengar berupa teguran. Bukti kecintaan seseorang pada Al-Qur`ân, diabad modern saat ini adalah banyak tumbuh kembangnya para penghafal Al-Qur`ân. Tak ada satu kitab-pun yang mampu dihafal oleh penganut agamanya, kecuali Al-Qur`ân.

Tahfîdz al-Qur`ân (Menghafal al-Qur`ân) merupakan bagian dari menjaga keaslian dan keorisinilitasannya. Pelbagai metode dan teknik bermunculan, guna meningkatkan kualitas dan kuantitas seseorang di dalam menghafal. Artinya, kedekatan seorang hamba, kejernihan jiwa raga, kebersihan hati dari hal-hal yang tidak dibolehkan oleh penghafal Al-Qur`ân, mampu membuat dirinya hafal 30 juz.

Mengulang-ngulang bacaan ayat Al-Qur`ân akan menimbulkan pesan baru, menambah gagasan baru dan menambah kesucian jiwa dan hati. Seseorang yang diberikan kemudahan menghafal Al-Qur`ân, juga wujud dan bukti bahwa sang pemilik Al-Qur`ân menjadikan hambanya tersebut, orang yang paling utama diantara hamba-hamba lainnya. Kedekatan seorang penghafal Al-Qur`ân, akan mendatangkan mamah Allah.

Sejarah Para Pecinta Al-Qur`ân

Imam Syafi`i begitu cintanya ia pada Al-Qur`ân, dihafalkannya saat usia tujuh tahun; Sahl bin `Abdullah Al-Tastari menghafal Al-Qur`ân saat usinya antara enam dan tujuh tahun; Imam Nawawi menghafal Al-Qur`ân pada usia sepuluh tahunan; Ibnu al-Jauzi saat usia 13 tahun sudah hafal al-Qur`ân dan usia 17 tahun sudah menguasai Qirâ`atu Al-Sab`ah; Faishal bin Da`sy Al-Qohthani (Riyadh), dengan asbab sering mendengar bacaan murattal ia mampu menghafal Al-Qur`ân; Syaikh al-Azhar memuji seorang bocah kelas tiga Sekolah Dasar di Mesir, anak ajaib yang mampu menghafal Al-Qur`ân, hadis-hadis, Fikih dan mahir berpidato diatas mimbar; Halmana Bilal Aghitasy menghafal Al-Qur`ân sejak umur dua tahun dan usia 14 tahun ia sudah hafal 30 juz Al-Qur`ân. Dan sederet kisah para penghafal Al-Qur`ân, baik yang ada di luar negeri maupun di Indonesia.

Indonesia, mayoritas muslim terbanyak di dunia, tentunya tidak kalah banyaknya para penghafal Al-Qur`ân. Indonesia telah melahirkan jutaan para penghafal Al-Qur`ân, dengan kualitas baik. Hal ini disebabkan, tumbuh kecintaan dan kegemaraan seorang peserta didik, generasi muda untuk menghafal dan mendalami ayat-ayat Al-Qur`ân. Tak diragukan lagi, bagi para pecinta Al-Qur`ân, menghafal dan mendalami kandungan Al-Qur`ân akan melahirkan buah yang manis. Membuat kesejahteraan lahiriyah dan batiniyah. Pelbagai mukjizat selalu ‘menjelma’ dalam berbagai bentuk wujudnya. Kegelisahan akan diangkat oleh-Nya. Gonjang-ganjing dunia ibarat rintangan semata dan tidak membuat dirinya terhalangi oleh gemerlapnya dunia, karena baginya, Al-Qur`ân adalah sinar yang terang benderang ditengah gemerlapnya dunia.

Cinta kepada Al-Qur`ân melebihi cinta kepada seorang kekasih. Ia syifâ`u lima fî Al-Sudûr atau obat penerang hati, bagi jiwa-jiwa yang sedang galau akan dunia. Kekasih terkadang membuat kita suka dan duka, tetapi Al-Qur`ân selalu dirasakan manis oleh para pecintanya. Tiada bacaan terindah di abad modern, selain membaca Al-Qur`ân. Manisnya Al-Qur`ân melebihi manisnya madu dan lezatnya keindahan dunia.

Cinta tanpa bukti dan wujud nyata dalam keadaan sehari-hari, itu belum cinta. Cinta akan terpatrikan dan akan dilakoni, sesuai dengan apa yang ia cintai. Saat ini, di satu sisi tumbuh kembangnya penghafal Al-Qur`ân begitu banyak, disisi lain, masyarakat kita di dalam rumah-rumahnya, masih banyak hanya menjadikan Al-Qur`ân pajangan dan hiasan belaka. Bagaikan kelompok shalawat terus berkembang namun maksiat juga merajalela. Pesantren-pesantren setiap tahunnya mengeluarkan para Huffâdz Al-Qur`ân namun masih banyak masyarakat yang acuh tak acuh kepada al-Qur`ân.
Sudahkah, kita mau berkorban membaca ayat-ayat Al-Qur`ân setiap habis shalat, bangun ditengah dinginnya cuaca malam dan empuknya kasur, dan membacanya disela-sela kerjaan kita?. Tak mudah menjawabnya.

Itulah cinta, bukti fakta dan bukti seorang hamba mencintai Allah dan rasul-Nya adalah mencintai Al-Qur`ân. Rasulullah Saw bersabda:
“Barangsiapa yang mencintai Al-Qur`ân maka berarti ia telah mencintai Allah dan rasul-Nya”

Konsekuensi dari hal itu selanjutnya adalah men-tadabburi-nya, memahaminya, menghayati serta sedikit demi sedikit, apa yang kita hafalkan dan kita baca, kita wujudkan dan dilakoni dalam kehidupan sehari-hari. Allah sangat mencela orang-orang munafik dikarenakan keenggananya untuk menghayati Al-Qur`ân. Tiada artinya bila Al-Qur`ân kita baca namun tak berbanding lurus dengan budi pekerti dan akhlâq Al-Karîmah kita. Melalui Qs. Al-Furqân [25]: 30 menjadi peringatan kepada kita, agar selalu mulâzamah dengan al-Qur`ân, tak membiarkannya berdebu di lemari, serta tak menghiraukannya dengan tidak menyentuh dan membacanya setiap hari. []


 

*Tulisan ini pernah dimuat dalam buku antologi Quantum Cinta: Aneka Hidangan Menu Jiwa (Malang: Genius Media, 2016), halaman 35-39.
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *