Benarkah Ada Polisi Cinta Sunnah di Internal Kepolisian?

 

Jagat maya dan media sosial kembali ramai pasca saya menulis status berkenaan dengan Polisi Cinta Sunnah. Status itu pun dimuat di beberapa website dengan mengatasnamakan diri saya. Penyebaran masif itu pun menyertakan link dua website bukan link status Facebook pribadi saya. Dua link tersebut dengan judul sama yaitu: wislah dan hwmi.

Website “wislah” lebih dulu mengupload pada 26 April 2021, baru kemudian “hwmi” pada tanggal 27 April 2021. Disini website "hwmi" mengambil utuh dari website “wislah”. Dimana website “wislah” membuat judul sendiri atas status saya dan menambakan tulisan “Belakangan ini, di kota kelahiran saya, Gorontalo, muncul kelompok Polisi Cinta Sunnah. Sebagaimana namanya, kelompok ini beranggotakan para personel kepolisian yang masih aktif, namun memiliki ekspresi keagamaan yang sama.Penambahan paragraf itu dibuat oleh editor “wislah” bernama Noval Maliki. Walaupun kini, artikel tersebut telah di-edit oleh editor Noval Maliki atas permintaan saya.

Saya baru sadar, berita yang tersebar itu menyertakan dari dua liputan tersebut. Baik di platform WhatsApp secara khusus maupun platform media sosial lainnya. Tentunya penambahan paragraf itu memiliki konsekuensi yang berbeda, baik secara penekanan maupun dampak yang menyertainya. Salah satu dampak atau citra yang timbul di media sosial adalah penyerangan terhadap institusi kepolisian daerah Gorontalo. Kemudian konteks status saya pun hilang. Mengapa? sebelum status itu dimunculkan saya telah melakukan kontra Salafi-Wahabi di Facebook. Salah satu sorotan saya adalah fenomena Polisi Cintas Sunnah di Provinsi Gorontalo sebagai objek kajian dan bukti adanya eksistensi Polisi Cinta Sunnah itu.

Contoh bukti Polisi Cinta Sunnah wilayah Gorontalo bersama tokoh Salafi Firanda Andirja

Maka dalam status Facebook saya, penekanan utamanya adalah kemungkinan hilangnya faktor: “nasionalismenya menurun” dan “minim informasi pergerakan keagamaan yang bersifat transnasional”. Saya berbicara ini bukan tanpa dasar. Anda bisa membaca tulisan asli saya di Media Sang Khalifah dengan judul “Dilema Polisi Cinta Sunnah di Internal Kepolisian”. Dimana dalam artikel ini, saya menggunakan diksi “akan mudah menjadi teroris” (lihat paragraf terakhir).

Mengapa? kawan-kawan yang tergabung di grup Polisi Cinta Sunnah ini kesulitan menentukan sikap haluan beragamanya. Maka jika ada pemeriksaan oleh Kepala Devisi Profesi dan Pengamanan (Propam) misalnya, mereka akan mengatakan saya memang Salafi tapi tetap Pancasialis dan Nasionalis. Jawaban itu sebenarnya mengarah kepada varian Salafi-Hijazi bukan Salafi-Haraki atau Salafi-Jihadi.

Istilah salafi ini dipopulerkan oleh Nashiruddin Al-Bani sekitar tahun 1980-an di Madinah. Salafi ini dikembangkan oleh Al-Bani untuk gerakan pemurnian ajaran Islam, mengampanyekan dan memberantas segala sesuatu yang dianggap bid’ah seperti Tahlilan, Maulidan, Ziarah Kubur dan sejenisnya. Dalam konteks Indonesia, praktik itu sudah membudaya dalam organisasi Nahdlatul Ulama. Kenapa Al-Bani tidak menggunakan istilah Wahabi? setidaknya untuk menghilangkan faktor dan pemujaan terhadap pendiri Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahab.

Tapi baik Salafi maupun Wahabi, keduanya memiliki tujuan yang sama: memurnikan Islam dari kesyirikan dan kebid'ahan. Nah, disinilah persepsi itu berbeda dengan kelompok NU-Muhammadiyah. Apa yang dipersepsikan sebagai sesuatu yang syirik dan bid'ah oleh Salafi-Wahabi dan tidak boleh dilakukan, tapi oleh NU-Muhammadiyah diperbolehkan selama tidak menggoyahkan keimanan. Perbedaan keduanya hanya pada aspek pelebaran cakupan ragam pembatal keislaman atau bid'ah-bid'ah di dunia ini. Dari Salafi inilah kemudian melahirkan tiga varian: Salafi-Hijazi, Salafi-Haraki dan Salafi-Jihadi.

Untuk mempermudah bacaan Anda terkait perbedaan tiga varian itu, silahkan klik tulisan Sekretaris Jenderal Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama dengan judul Fenomena PT Pelni dan Jejaring Salafi-Wahabi (mohon dibaca tuntas agar mengerti). Ringkasnya, ketiga varian itu tetap sama: sama-sama tidak sepakat pada praktik beragama yang dilakukan oleh NU-Muhammadiyah. Kedua organisasi dikenal bagian dari kelompok Ahlussunah wal Jamaah. Sebuah kelompok yang moderat. Maka di Indonesia, dua kelompok ini yang terus menerus mengusung “moderasi beragama”. Dan topik tidak akan disosialisasikan oleh kelompok Salafi-Wahabi. Baik Salafi maupun Wahabi dalam internal Islam bukanlah kategori kelompok Ahlussunal wal Jamaah.

Menurut Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi dalam kitabnya Al-Salafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarakah la Mazhab Islami (1990) menegaskan bahwa salafi sebagai mazhab merupakan fenomena baru dalam internal Islam. Karena mazhab ini muncul dari benih-benih pemikiran Ibnu Taimiyah sebagai tokoh pembela ortodoksi Islam yang paling keras. Dalam buku Wasathiyah Islam disebutkan bahwa Ibnu Taimiyah ini pemuka puritanisme Islam. Sebuah paham absolutis yang tidak mengenal kompromi dalam beragama dan cenderung memandang realitas pluralis sebagai suatu bentuk kontamniasi atas kebenaran sejati.

Inilah kesamaan pemikiran Polisi Cinta Sunnah dengan pemikiran Ibnu Taimiyah (lihat gambar dari grup Polisi Cinta Sunnah Official). Bagi Ibnu Taimiyah penolakan terhadap tradisi dan praktik keagamaan sufi adalah keniscayaan. Lagi-lagi, pemikiran yang menolak itu berkembang di internal Polisi Cinta Sunnah. Adapun yang melakukan praktik itu di Indonesia adalah Nahdlatul Ulama. Disinilah yang saya katakan potensi konflik horizontal itu akan terjadi jika dibiarkan begitu saja. Hanya tinggal menunggu alarm kapan diaktikan sebagaimana Wahabi menjadi otak dibalik pertikaian Sunni-Syiah di beberapa negara.

Contoh materi di grup Polisi Cinta Sunnah yang menolak adat istiadat, tradisi dan kearifan lokal

Disini saya menekankan bahwa potensi konflik horizontal itu akan mudah terjadi manakala pemikiran seperti di atas yang berkembang. Jika menganggap sekedar menjalankan ajaran Islam. Tentunya saat ini tidak ada lagi Nabi dan rasul. Yang ada hanyalah teks dan tafsiran terhadap teks itu. Tafsiran terhadap teks ajaran Islam itu melahirkan ragam kelompok, aliran dan mazhab. Maka penting pula memilih kita mengikuti kelompok, aliran dan mazhab apa dalam beragama ini.

Lantas, saya menyerang institusi kepolisian ataukah menjaga institusi kepolisian dari ragam potensi bahaya, khususnya yang berkaitan dengan praktik beragama kita di Indonesia? 

Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Sejumlah bukunya yang sudah diterbitkan ialah Politisasi Agama (Kalimaya Publishing, 2015); Kemukjizatan Menghafal Al-Qur`an (Quanta Emk, 2015); HTI: Gagal Paham Khilafah (Pustaka Compass, 2016); Sebuah Rumah Tanpa Pintu (Al-Hikam Press, 2016); The Five Principles of Life (segera terbit); Rasulullah Way of Life dan buku 25 volume yang masih ditulisnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *