Bahaya Virus Malas & GR

Malas bisa bermakna positif dan negatif, namun abah membicarakan "negatif"-nya malas dan virus berbahaya yang berpotensi merasuki siapa saja. Malas bermakna positif manakala diartikan: (M)enggapai (A)llah (L)ewat (A)turan-Nya (S)elalu. Malas memang sesuatu yang tidak kita inginkan hinggap di diri, tapi ia akan menempel ketika diri kosong cahaya Ilahi.

Virus GR pun kerap menghinggapi seseorang, manakala kerendahan hilang dari jiwa, batiniyah tak terisi oleh siraman Ilahiyah. Oleh karena itu, saat mengaji kitab Al-Hikam, abah Hasyim sangat menekankan pentingnya kerendahan hati. "Tanamlah dirimu dalam “tanah” kerendahan (kurang di kenal), karena segala sesuatu yang tumbuh dari benih yang tidak di tanam terlebih dahulu, maka tidak akan berbuah dengan sempurna."

Dua hal itu harus diberantas dan dibuang sejauh-jauhnya. Abah mengatakan:




"Malas dan GR, itu dua penyakitmu yang harus kamu berantas sendiri. GR itu kegeden rumangsa, merasa lebih dari ukuran yang sesungguhnya".



Sesekali abah berguyon, kalau beli peci itu sesuai ukuran, kalau butuhnya 5 ya lima jangan 6, nanti kalau kepalanya "menggok" kanan, pecinya tidak ikut. Karenanya, sesuatu itu harus dilakukan sesuai ukurannya. Menjauhi sifat malas itu bukan perkara mudah, karenanya dalam setiap usai shalat, kita dianjurkan berdoa:



“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sikap malas, kejenuhan kehampaan, dan kejemuan)"

Banyak hadis yang melarang kita bersikap malas sebagaimana sejarah mencatat ketika Imam Shadiq berkata kepada sebagian sahabatnya:
“Waspadalah kalian dari bersikap malas dan jemu karena keduanya merupakan kunci segala keburukan. Sesungguhnya orang yang bersikap malas tidak akan menunaikan hak, dan orang yang bersikap jemu tidak akan bersabar dalam menunaikan hak.”

Nasihat-nasihat abah kepada santri, jarang mengungkapkan sumber rujukannya. Tapi di dalam setiap ucapannya, jika ditelusuri memiliki akar dan "cantolan"-nya masing-masing. Salah satu kepiawaian abah adalah membuat sesuatu yang sulit menjadi mudah. Baginya itu tugas, agar apa yang menjadi keinginan kita tersampaikan dengan baik dan benar.

Abah juga berpesan jangan hanya karena Al-Qur'an sudah hafal tuntas, membuat kita jumawa dan besar kepala.
"Merasa hafal Qur'an, merasa sudah begini, merasa sudah begitu, akhirnya ini menurunkan daya juangmu terhadap kesulitan. Padahal kamu akan besar dengan kesulitan bukan dengan kesenangan"

Pelbagai perasaan itu memang merasuki jiwa setiap insan, namun sangat berpotensi menghambat lajunya kesuksesan seseorang. Merasa surga sudah di tangan karena sesuai janji hadis Nabi Muhammad SAW atas penghafal Al-Qur'an. Akhirnya shalat malas-malasan. Abah berguyon:
"Kita itu mengerti bahwa shalat (yang) wajib itu, sehari lima kali. Tapi banyak di antara kita yang lima hari sekali"

Guyonan substantif itu bisa menjadi renungan kita. Agar jangan malas shalat dan GR karena Al-Qur'an sudah dihafal. Berjuang terus hingga akhir hayat menjemput, belajar dewasa dari kesulitan bukan dari kesenangan semata, belajar memberikan kemudahan kepada orang lain bukan mempersulit liyan. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *