Al-Qur'an: Lautan Ilmu (yang) Tak Bertepi

Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur'an (STKQ) Al-Hikam, diresmikan 09 Januari 2011. Peresmian itu ditandai dengan orasi ilmiah dari Syaikh Wahbah Zuhaili, Prof. M. Quraish Shihab dan Prof. Tolchah Hasan. Adapun tuan rumah diwakili sendiri oleh abah Hasyim. Pertama mendengar guru-guru besar bertaraf internasional itu, sangat langsung terkesima pada sosok abah Hasyim. Mampu mendatangkan orang-orang besar, yang terkadang sulit didatangkan ke acara-acara biasanya.

Budaya beda pendapat dan perbedaan sebuah keniscayaan tampak pada kala itu, saat azan Dzuhur dikumandangkan maka segenap hadirin terdiam. Kemudian terjadilah percakapan antara dua guru besar Al-Qur'an seputar boleh atau tidaknya melanjutkan kajian ke Al-Qur'an-an. Prof. Quraish mengatakan, mazhab saya: "kita teruskan sampai selesai", adapun Prof. Wahbah: "tidak apa-apa jikalau itu ada dalilnya, sambil diiringi oleh senyum khasnya". Hadirin pun mulai membuka senyumannya.

KH. Hasyim Muzadi, sejak awal kedatangan 40 santrinya ke Al-Hikam Depok, doktrin yang ia ucapkan adalah "Menghafal Al-Qur'an bukanlah akhir perjalananmu, melainkan awal (tahap pertama) perjalananmu. Al-Qur'an lautan ilmu tak bertepi. Semakin digali semakin memancarkan cahaya Ilahi." Doktrin ini diutarakan, disebabkan karena banyak penghafal Qur'an yang merasa tuntas saat usai "mukammal" 30 juz. Kesehariannya hanya menunggu khataman dan tahlilan di kampungnya. Ijazah bukanlah sesuatu yang penting untuk dimiliki. Semua pola pikir itu ingin dirubah oleh abah Hasyim.

Al-Qur'an itu mulia dan derajatmu akan dimuliakan oleh-Nya, maka perlahan-lahan naiklah. Seandainya sudah naik jangan menurunkan derajatmu. Sebuah gagasan yang diselipi doktrin Ibnu 'Athaillah, yang kitabnya menjadi pamungkas di Ponpes Al-Hikam; Ijazah itu memang tidak ditanyai malaikat di dalam kuburan tapi saat di dunia bisa mendukung karir dan pengalaman hidupmu. Saat mengucapkan ini, Habib Munzir dan Roma Irama pun tersenyum; Tahlilan dan khataman itu jangan jadikan mata pencaharianmu, karena itu bagian hidupmu. Kembangkanlah dirimu sebaik-baiknya, selama tak ada batas yang menghalangimu.

Abah melanjutkan, kuliah itu mampu memperluas wawasanmu dan membuat seseorang dewasa dan bijaksana dalam menilai sesuatu. Kuliah bisa membuatmu mengerti ragam pemikiran di dunia ini. Mengerti dan mengetahui hal itu mampu membuatmu lihai mengkategorisasikan sesuatu dengan baik dan benar. Lebih penting lagi, saya (abah) mengajarkan pemikiran Kemukjizatan Al-Qur'an agar kalian (kami santri-santrinya) memahami bahwa di dunia ini tidak semuanya seperti kalian semua yang sudah beriman dan Muslim sejak keluar dari rahim seorang ibu, tapi ada orang yang mendapatkan hidayah melalui penelitian dan pencarian ilmiah. Fungsinya buat kalian (kami santri-santrinya) agar keimanan semakin bertambah dan memperkuat pilihan keyakinan. Maka jadilah pilihan itu pilihan rasional bukan sekedar ikut namun tak mengerti hakikat keberimanan.

Al-Qur'an itu mampu mendatangkan hidayah, ia sarana menjemput hidayah milik-Nya. Al-Qur'an lautan tak bertepi, karenanya ia dikaji lintas iman dan keyakinan, mencari sesuatu yang tersurat dan tersirat di balik dua apitan kertas tebal. Oleh karena itu, pesan abah kepada kami (santri-santrinya): "Jangan mengasup makanan dan minuman yang syubhat". Dengan mengasup yang syubhat itu, dalam dirimu akan tidak bersih. Ketika tidak bersih maka Al-Qur'an sulit mendatangkan hidayah. Hindarilah makanan syubhat karena Al-Qur'an itu suci, maka sucikanlah diri. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *