Al-Qur'an dan Kesusastraan Arab


"Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka"


Qs. Ibrahim [14]: 4



Saya akan mencoba menuliskan beberapa jawaban atas pertanyaan seorang Katolik saat acara bedah buku Kemukjizatan Menghafal Al-Qur'an (2015) di Universitas Flores, Ende. Pertanyaannya adalah "Apakah Al-Qur'an kitab sastra?." Baiklah.

Al-Qur'an adalah wahyu dari Allah SWT. Kehidupan spiritual Islam—yang belakangan mengkristal dalam tarekat-tarekat sufi—selalu dipertautankan pada wahyu itu. Jalaluddin Rumi melalui buku Matsnawi menurut para ahli tasawuf sebagai komentar esoterik terhadap Al-Qur'an. Dan beragam model interksi lainnya atas nalar makna Al-Qur'an.

Tepat kiranya apa yang diungkapkan Abdullah Darraz, seorang penulis kitab Al-Naba' Al-Azhim (1974), bahwa "Ayat-ayat Al-Qur'an bagaikan intan. Setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut yang lain. Tidak mustahil, jika kita menyilakan orang lain mendengarnya, maka ia akan melihat lebih banyak ketimbang apa yang kita lihat." Lebih lanjut, Sayyed Hossein Nasr—yang pemikiran dan buku-bukunya menyita waktu para mufasir Al-Qur'an untuk meneliti mantra-mantra tulisannya—menyatakan: "jika Nabi Muhammad SAW adalah mata air dari spiritualitas Islam, maka Al-Qur'an bagaikan halilintar yang setelah menyambar kontak listrik manusia, membuat mata air itu memancar keluar, seperti air yang turun dari langit yang menyebabkan sungai-sungai mengalir dari mata air tersebut."

Keanekaragaman sinar yang terpancar dari setiap ayat-ayat Al-Qur'an membuat sebagian masyarakat Arab tatkala itu menyebut Nabi Muhammad sebagai pembawa-—bahkan lebih dari itu, yakni membuat dan mengarang—mantra dan sihir. Karena memang Al-Qur'an, secara jujur ia terasa magis, layaknya bahasa mantra (tapi bukan 'mantra'). Ia juga kadang dilihat kitab puitik, disebabkan rima-rimanya teratur, inilah yang membuat pembacanya bergetar dan merinding.

Tapi apakah Al-Qur'an kitab sastra?. Tidak sekedar kitab sastra. Tapi, Al-Qur'an mampu loncat secara revolusioner dari mainstream kepenyairan masyarakat Arab saat itu. Al-Qur'an telah mengalami tranformasi dari the idea of God menuju Al-Kalam Al-Lafdzi. Dengan menggunakan konsep Qs. Ibrahim [14]: 4 di awal tulisan ini, Al-Qur'an ingin menegaskan dirinya, secara sosiokultural erat kaitannya dengan bahasa dan budaya Arab, tempat ia diturunkan oleh Tuhan.

Pertanyaan itu saya tolak, mengapa? jika Al-Qur'an adalah kitab sastra semata wayang, maka akan muncul asumsi, Al-Qur'an hanya mengajarkan satu dimensi, ia sekedar di lihat dalam ranah stilistika, aspek fonologi, tapi buktinya Al-Qur'an itu menyimpan deviasi yang tegas. Ia terkadang menyimpang dari kaidah umum tata bahasa.

Al-Qur'an memang memuat kajian sastra, tapi ia tidak fokus pada satu aspek. Al-Qur'an berada di atas sastra pada umumnya. Salah satu model sastra yang diikuti, yang bersumber dari Al-Qur'an adalah kasus surah Al-Naziat, ayat 1-5 bunyi vokal dan rimanya sangat berdekatan, tapi pada ayat 6-14 tiba-tiba rimanya berubah, yang bunyi ujarannya berbeda.

Kasus Labid ibn Rabi'ah, maestro penyair Arab, ketika menggantungkan syair gubahannya di depan pintu Ka'bah, tiba-tiba pengikut Nabi datang dengan membawa potongan sajak-sajak Al-Qur'an. Labid pun masuk Islam disebabkan pembacaannya atas ayat-ayat itu. Memang kita harus akui, Al-Qur'an lahir dengan dimensi sastrawinya yang spektakuler dan revolusioner. Tapi, ia tetap berbeda dengan sastra-sastra umumnya. Kelasnya dan keberbedaannya jelas sekali.

Begitu luasnya, tidak ada mufasir Al-Qur'an yang sanggup membahas semua varian Al-Qur'an dalam satu bukunya. Setiap varian yang disajikan adalah bagian Al-Qur'an, tapi bukan inti Al-Qur'an. Ia hanya bagian dari Al-Qur'an. Para mufasir Al-Qur'an yang beraliran sastra menjelaskan, kenapa Al-Qur'an terkadang melakukan deviasi? hal itu untuk menciptakan kesegaran dan menghindari kejenuhan, baik untuk pembaca ataupun pendengarnya. Ia memberikan suasana segar dan variatif. Makanya, setiap kita membaca Al-Qur'an, aura positif kerap diserap dengan jenis yang berbeda-beda.

Kemudian, bahasa (Al-Qur'an) tidak saja a way of speaking, tapi a way of reasoning. Ini yang saya sebut, Al-Qur'an sungguh berada di atas sekedar kitab sastra. Para pakar Al-Qur'an selalu mengatakan, Al-Qur'an secara konseptual menawarkan nalar kebudayaan baru dan menggugat nalar kebudayaan lama. Ini sejalan dengan gagasan Qs. Al-Baqarah [2]: 3.

Artinya, Al-Qur'an kitab yang kerap membangun nalar dunia makna. Saya ambil contoh kata Allah. Oleh para sastrawan tatkala itu bukan tidak ada di dalam tulisan-tulisan mereka. Tapi, mengapa Al-Qur'an mengatakan mereka orang yang gagal paham (baca Qs. Al-Ankabut [29]: 61), karena mereka tetap menyembah objek-objek lainnya, mereka tidak bisa menyembah Allah semata (Qs. Al-Ankabut [29]: 63).

Al-Qur'an menegaskan kepada para sastrawan, bahwa kata Allah tidak sekedar "tanda", tapi sebagai dasar konseptual perubahan nalar dan teologi. Menggeser pemahaman, dari sistem politeisme digeser ke arah sistem monoteisme murni dan suci. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *