Aku, Buku dan Masa Depan

Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar maka jadilah penulis”


—Imam Ghazali


Membaca sajak Imam Ghazali itu, terasa sekali gejolak diri ini tidak stabil, ingin rasanya langsung menulis buku hingga tak terhitung bilangannya. Tapi, wacana kerap tak selaras dengan realitas maka muncullah masalah. Harapan dan keinginan tak berjalan berimbang, bahkan kemungkinan keinginan tergadaikan oleh aktivitas semu, yang justru bukan jalan utama dari harapan. Di satu sisi, berwacana dan berhasrat bagi penulis merupakan hal yang mutlak. Tulislah beragam judul di dinding ruangan dan mulai menulis satu persatu naskah buku. Tak ada tulisan jika tak berwacana, gumamku selalu.

Awal tahun 2017, dinding media sosial dipenuhi oleh tag line tentang resolusi. Penulis yang tak punya resolusi, simpelnya bukanlah penulis. Arti sempitnya, ia tidak memiliki wacana dan target naskah yang ingin diselesaikan tahun ini. Bukan berarti meremehkan penulis yang tak meng-update resolusinya. Saya, sebagai pendiri Pena Al-Hikam menganggap update-an ini penting, agar bisa memotivasi rekan-rekan dan anggota Pena Al-Hikam. Dan perlu diketahui, tahun 2016 adalah tahun ketiga saya menjadi penulis, entah penulis karbitan atau penulis betulan. Semoga Tuhan memberkati langkah ini.

Tahun 2016, karya saya sangat sedikit yang lahir dari rahim penaku. Pertama, tulisan Cinta Al-Qur’an dalam buku antologi Quantum Cinta: Aneka Hidangan Menu Jiwa (Genius Media, 2016). Buku yang menyingkap segala sesuatu yang tersirat dalam makna cinta dibahas dalam buku ini. Kedua, saya menyunting buku KH. Cholil Nafis, Ph.D yang berjudul Menyingkap Tabir Puasa Ramadhan (Tim Mitra Abadi, 2016). Penyuntingan bagi penulis sangat penting, penulis harus bisa mem-branding dirinya. Salah satu caranya yaitu: menyunting tulisan dari tokoh yang sedang “naik daun”. Ketiga, tulisan Islam Rahmatan lil Alamin Persepektif KH. Hasyim Muzadi dalam Episteme: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman yang dikeluarkan oleh Pascasarjana IAIN Tulungagung. Keempat, buku Hizbut Tahrir Indonesia: Gagal Paham Khilafah (Pustaka Compass, 2016). Buku ini saya terbitkan sebagai kegelisahan saya terhadap doktrin-doktrin yang berseliwiran, yang didengungkan oleh kelompok HT/HTI. Mereka menjustifikasi gerakan mereka dengan segudang firman-Nya dan sabda pamungkas Nabi Muhammad SAW.

Kelima, tulisan Manusia: Mahluk Membaca dalam buku antologi Quantum Belajar: Membangun Gelora untuk Hidup Bahagia (Genius Media, 2016). Keenam, buku Sebuah Rumah Tanpa Pintu (Al-Hikam Press, 2016). Buku ini dokumentasi pengembaraan dan pengabdian di tempat pengasingan Bung Karno, tepatnya di Ende, Nusa Tenggara Timur. Ketujuh, tulisan Ketika Cinta Tak di Restui Tuhan dalam Quantum Pernikahan: Sebab-Musabbab Cinta yang Direstui Tuhan (Al-Hikam Press, 2016). Kedelapan, tulisan Syukur: Sumber Kehidupan dalam Wajah-Wajah Manusia dalam Al-Qur’an (Al-Hikam Press, 2016). Kesembilan, tulisan Akhlak dalam Menulis dalam Quantum Akhlak: Dari Tuhan Sampai Binatang (Al-Hikam Press, 2016). Dan tulisan-tulisan lainnya yang dimuat di koran-koran lokal.

Kesemuannya itu, bagi saya masih jauh dari harapan sesungguhnya. Tapi umur kepenulisan saya tahun 2016 menginjak tahun ketiga, dan karya-karya itu cukup berarti bagi saya. Tahun 2017 ini, setidaknya saya bisa menulis buku empat atau lima buah, 10 antologi bersama rekan-rekan Pena Al-Hikam dan 12 antologi bersama Sahabat Pena Nusantara. Grup kepenulisan yang di dalamnya banyak orang-orang “wow”—yang saya sulit menggambarkan kepiawaian menulis mereka—di mana mereka-mereka adalah inspirator saya. Bagaimana tidak!, setiap membuka grup Whatsapp di pagi hari, serba-serbi tulisan sudah memenuhi dinding-dinding grup. Obrolan konstruktif pun kian meramaikan dan ditambah pertanyaan-pertanyaan yang kerap pertanyaan itu sebenarnya ingin saya pertanyaan. Dan obrolan-obrolan inilah yang ingin saya tularkan ke grup Pena Al-Hikam.

Insya Allah, jika Tuhan menghendaki, awal tahun 2017 ini, dua naskah saya akan diterbitkan oleh penerbit mayor. Judulnya, The Five Principles of Life (segera terbit) dan Rasulullah Way of Life (segera terbit). Buku ini membahas secara tuntas satu hadis yang bisa dijadikan panutan masyarakat, baik Muslim maupun non-Muslim. Sejak menulis buku ini, kerap terbesit dalam pikiran, “apakah ada yang membacanya nanti?”. Setiap ingin menulis, maka setiap waktu itu pun harus menepis bisikan negatif itu. Dua naskah lainnya, akhir tahun akan diterbitkan penerbit mayor juga. Dan ini semua berkenaan dengan naskah pribadiku.

Pada awalnya, aku pun sama seperti Ibnu ‘Arabi. “Aku tidak pernah berniat untuk menjadi seorang penulis atau pengarang buku. Hanya ada sesuatu, kebenaran, yang hampir membakarku. Aku pun menyibukkan diri dengan menulis apa yang mungkin ditulis. Jadilah ia tulisan, tanpa aku sengaja menuliskannya. Ada yang kutulis karena perintah dari Tuhan, ketika tidur atau dalam renungan.” Pada akhirnya, ketika sudah masuk dan bergumul, aku pun terbuai oleh dunia kepenulisan yang sangat memantik diri ini.

Di mana Ibnu 'Arabi termasuk salah satu penulis yang tidak menyukai pelbagai teori-teori menulis. Sekalipun ia menulis dalam bidang Ilmu Kalam, filsafat, spiritualitas dan etika praktis esoterik. Kesemuannya berbobot dan kita bisa lihat kedalaman dirinya memaknai alam semesta dan Tuhan. Terkadang ia juga menulis berdasarkan kondisi psikologis-spiritualnya yang agung. Ia hanya menumpahkan gagasannya dalam bentuk tulisan untuk memuaskan dirinya. Tampak pada dirinya seperti orang yang mencari teman berdiskusi untuk menyoal apa yang dipikirkannya dan sedang berkecamuk dalam pikirannya. Ia ajak pena untuk berdiskusi dan ia hidupkan teks-teks mati menjadi hidup dan mempesona.

Ibnu 'Arabi pernah berujar, “Aku menuliskannya untuk diriku sendiri dan bukan untuk orang lain.” Dalam pelbagai karya-karya yang ada, kira-kira Ibnu 'Arabi menulis setiap harinya sebelum fajar menyingsing, kemudian ia membangunkan dua orang laki-laki (juru tulisnya) dan mendiktekannya. Kisaran beberapa halaman, ada yang mengatakan tiga halaman dan dua halaman sebelum matahari terbit.

Itulah sekelumit refleksiku. Saat menulis, jangan mengingat tentang kelayakan tulisan. Tumpahkan saja apa yang dipikiran ke dalam tulisan. Penulis saat menulis bukanlah hakim yang menghakimi. Penghakiman tulisan setelah tulisan itu selesai. Abaikan hal-hal negatif yang mengitari saat menulis, tumbuhkan hal-hal positif saja. Masa depanku dan harapanku, aku keliling Indonesia bahkan dunia hanya dengan sebab aku menulis buku. Amin []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *