Akhlak dan Teknologi Modern

Nabi Muhammad SAW menjadi nabi dan utusan-Nya di saat sekelilingnya tidak menerapkan ajaran agama dengan baik dan benar. Fokus utama Nabi adalah revolusi mental dan menjadikan akhlak sebagai panglima beragama. Memposisikan akhlak di atas posisi hukum dan konsensus cendekiawan.
"Sesungguhnya, aku (Muhammad) diutus untuk menyempurnakan moralitas"

Kata menyempurnakan mengindikasikan adanya makna: pastinya akhlak ada di sebagian masyarakat Arab, namun dominasinya prilaku negatif. Ucapan itu sama seperti posisi kedatangan Islam. Islam seperti bangunan yang kekurangan satu batu bata dan Islam menyempurnakan dan mengokohkan bangunan itu. Moralitas menjadi prioritas utama Nabi Muhammad. Ketika akhlak sudah bersemayam dalam diri seseorang, maka lakon dan tindakan lainnya akan berada pada rel dan jalan yang direstui Allah.

KH. Hasyim Muzadi menekankan pentingnya meneladani Nabi Muhammad. Setidaknya KH. Hasyim sering membagi ke dalam tiga bagian jika berbicara tentang baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur. 

Pertama, wahyu. Semua yang keluar dari lisan Nabi Muhammad adalah orisinil. Itu sebabnya, Nabi dinisbatkan "ummi" atau tidak bisa membaca. Hikmahnya, agar tidak orisinilitas terpelihara, baik terpelihara dari susupan konsep, gagasan dan ide, juga terpelihara dari pengaruh kitab-kitab lainnya.

Apa yang bisa diteladani dari bagian ini?. Wahyu pertama terkait konsep "keimanan" dan "keilmuwan". Ilmu dicantolkan pada kata "iqra", sedangkan iman dicantolkan pada kata "bismi-rabbika". Keduanya harus disatukan, karena semua benda di alam raya ini berasal dari-Nya.

Menariknya, dalam konsep itu Allah menyuruh membaca tanpa disebutkan membaca apa. "Itu artinya, baca apa saja yang ada," ungkap KH. Hasyim Muzadi. Membacanya dengan menggunakan semua potensi yang diberikan Allah, baik pikiran yang dinisbatkan pada afala ta'qilun, baik ingatan yang dinisbatkan pada afala tadzakkarun dan juga hati yang dinisbatkan pada afala tubshirun. 

"Ketiganya itu harus dioptimalkan secara baik," ujar abah Hasyim. Namun menurutnya, penggunaan hati itu akan berjalan dengan baik dan benar manakala hati itu bersih, selalu ingat pada-Nya dan pikiran pun harus bersih. Agar sesuatu yang keluar sifatnya positif. Terkadang sesuatu yang negatif keluar dikarenakan hati yang tidak bersih. Ucapan kerap merupakan percikan dalam diri seseorang. Jika hatinya bersih maka lisan pun akan memantulkan sesuatu yang positif.

Kedua, perjalan isra' mi'raj Nabi Muhammad SAW yang diluar logika dan kecanggihan berpikir manusia umumnya. Ketiga, Piagam Madinah. Nabi Muhammad berusaha menjabarkan konsep ideal ajaran Islam dengan para pemuka agama-agama yang ada di Yatsrib (Madinah). Nabi lebih memilih nama dengan sebutan Negara Madinah dibandingkan Negara Islam.

Gagasan Piagam Madinah ini menurut KH. Hasyim Muzadi sebagai model konsensus yang mengamodir semua kelompok. Urusan agama dikembalikan ke lakum dinukum waliya dien dan urusan muamalah dikembalikan ke lana a'maluna wa-lakum a'malukum. Konsep inilah yang melahirkan:
"Toleransi bukanlah justifikasi," ungkap KH. Hasyim Muzadi

Akhlak dalam konsep dan logika berpikir yang dibangun KH. Hasyim Muzadi ini mengindikasikan ke sebuah ruang di mana ajaran Islam itu harus membutuhkan "adaptasi". Ilmu-ilmu yang dibawa dari manapun itu, sifatnya "mentah". Maka harus diolah dan dikontekstualisasikan dengan keadaan sekitar. Jangan memberikan ajaran Islam secara mentah. Begitulah pesan penting KH. Hasyim Muzadi di dalam menerapkan ajaran Islam, khususnya di Indonesia.
"Perihal yang menyangkut dengan alat maka ambil yang paling modern. Adapun yang menyangkut dengan akhlak maka ambillah akhlak Rasulullah SAW," ujar KH. Hasyim Muzadi

KH. Hasyim Muzadi menganggap, sebagaimana Imam Ghazali bahwa tidak ada dikotomi ilmu dalam Islam. Semua ilmu bersumber dari yang sama, Allah. Ilmu pada awalnya tidak bersifat negatif, namun ia bisa bermasalah ketika sudah masuk ke dalam diri seseorang. Di samping itu pula, menurut KH. Hasyim Muzadi penyelewengan disebabkan tidak adanya pertanggung jawaban atas ilmu yang dimilikinya.
"Ilmu adalah sesuatu dan pertanggung jawaban ilmu sesuatu yang lain," ungkap KH. Hasyim Muzadi

Maka untuk urusan teknologi, ambillah yang paling baru. Semakin baru semakin memudahkan, mudah dalam berdakwah dan juga mengimplementasikan ajaran Islam. Gunakan teknologi sebaik mungkin, ia bisa digunakan untuk hal-hal negatif, bisa juga untuk hal-hal positif.

Dalam menggunakan teknologi, akhlak sangat berperan. Ia berperan saat dalam kesendirian dan juga keramaian. Ketika akhlak sirna, nafsu akan mengambil peran. Saat hati tak bersih, nafsu akan memainkan peran buruknya. Jika ingin meneladani Nabi, maka dekatilah Al-Qur'an. Jika ingin melihat akhlak Nabi, maka lihatlah Al-Qur'an. Dengan kedekatan itu kita (insyaallah) mampu menggapai hidayah. Hidayah itulah yang menyetir kehidupan sehari-hari kita. []
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *