Aisyah Bintu Syathi` dan Pluralisme Sosial

Ingatlah, Aku berpesan; agar kalian berbuat baik terhadap perempuan; Karena mereka sering menjadi sasaran pelecehan di antara kalian; Padahal sedikitpun kalian tidak berhak; Memperlakukan mereka, kecuali untuk kebaikan itu


Dalam studi keilmuan Islam klasik, tafsir al-Qur’an masih bersifat single tradition, belum dihubungkan langsung dengan realita sosial-budaya. Teks kitab suci yang dihadirkan, menjadi pusat dan sekaligus ‘pemegang otoritas’ dalam segala permasalahan kehidupan. Dengan demikian, yang ‘berkuasa’ menyelesaikan problem-problem kehidupan masyarakat adalah teks, sedangkan problem sosial, politik, ekonomi dan kemanusiaan, selalu dikembalikan pada teks kitab suci. Akhirnya, tafsir cenderung bersifat teosentris dan bahkan ideologis semata. Tafsir pun tercabut dari persoalan-persoalan nyata kemanusiaan, yang dihadapi umat manusia.

Hakikatnya, cara kerja metodologi tafsir era modern, memerlukan bantuan ilmu-ilmu sosial. Dengan memanfaatkan ilmu-ilmu sosial, penafsir harus mengurai problem-problem sosial kemanusiaan, bukan dengan model penyelesaian dogmatis-esoteris, tetapi secara kultural dan sosiologi. Ikhtiar inilah yang dikenal dengan tafsir emansipatoris, yakni secara konseptual, al-Qur’an ditempatkan dalam ruang sosial dan segala problematika kehidupan yang terjadi, sehingga sifatnya tidak lagi abstrak, tetapi spesifik dan praktis, karena dikaitkan langsung dengan problem sosial masyarakat. Dalam bahasa Fazlur Rahman, cara kerja “teks-konteks-kontekstualisasi” harus berjalan dengan seimbang dan efektif, kerja ini pula akan melahirkan konstruktif pemikiran yang up to date dan cocok di era kontemporer saat ini.

Biografi Tokoh

Tafsir Al-Tafsir al-Bayani Li al-Qur’an al-Karim merupakan karya ‘Aisyah Abd al-Rahman, yang dikenal dengan panggilan Bintu Syathi’. Seperti yang diakui penulisnya sendiri, bahwa lahirnya tafsir ini didorong oleh semangat pembaharuan metodologi tafsir, yang ketika itu masih mengikuti tradisi klasik, tanpa mengkritisi terlebih dahulu atas penafsir-penafsir yang telah disajikan para mufassir sebelumnya.

Bintu Syathi` lahir pada 6 Nopember 1913 M di Dumyat. Sebuah keluarga yang religius dan konservatif. Ayahnya pernah mengirimnya ke kuttab, sekolah untuk mempelajari Qur'an. Atas bantuan ibunya, Bintu Syathi` mampu melanjutkan pendidikannya dan mendapat gelar BA dalam Bahasa Arab dan Sastra dari Universitas Cairo, Mesir. Dia juga mendapat gelar Ph.D dibidang yang sama, dibawah asuhan Husein Taha. Bintu Syathi` menduduki jabatan akademik di Mesir sebagai ketua Departemen Studi Arab dan Islam di Universitas Ain Shams, inspektur akademik untuk Departemen Pendidikan Mesir, dan profesor tamu di universitas-universitas Arab, seperti Universitas Khartoum di Sudan dan Qarawiyyin  University di  Maroko. Dia juga mengajar di Suriah, Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab.

Bintu Syathi` mulai menulis artikel saat itu untuk majalah wanita Mesir. Ketika ia memulai penerbitan di sebuah jurnal, beredar luas dan surat kabar harian pada tahun 1933an, dimana ia membuat nama penanya Bintu Syathi` (putri tepi sungai/pantai) untuk menyembunyikan identitasnya dari ayahnya. Seorang sarjana yang terkenal religius pada waktu itu, Muhammad Ali Abdul al-Rahman. Ayahnya, menebak nama penanya - yang mengacu pada tempat kelahirannya di Dumyat, di mana air sungai Nil dan Mediterania bertemu - mengakui gayanya, mendorongnya kemudian untuk terus menulis. Selain menulis dalam jurnal akademik dan ilmiah, ia menulis untuk surat kabar bergengsi yakni al-Ahrâm. Ia seorang penulis yang sangat produktif, Bintu Syathi` memiliki lebih dari 40 buku dan ratusan artikel. Meskipun ia menerbitkan beberapa fiksi dan puisi, namun dia lebih terkenal karena studinya yang berkenaan dengan tema-tema sosial, sastra, dan Islam. Dua buku pertamanya, yang muncul pada tahun 1936 dan 1938an, mengurai situasi dan kondisi yang dihadapi petani Mesir.

Bintu Syathi` dikenal sebagai pembela hak-hak perempuan. Beberapa judul artikelnya seperti: The (woman) Loser; The Lost Woman; The (woman) stranger; The Rebellious; The Dreamer; The Innocent; The Sad; How Do Our (male) Literary Figures View Women?; The Image of Women in our Literature; We Are No More Evil than Men; dan Will a Women ecome a Shaykh in al-Azhar?; Pada tahun 1942 novelnya Master of the Estate menggambarkan gadis petani yang menjadi korban dari budaya patriarki dan feodal tatkala itu.

Dalam bidang studi al-Qur'an, ia menerbitkan lebih dari lima belas buku termasuk di dalamnya buku yang berjudul The Immutability of The Qur'an (1971);With the Chosen (1972); The Qur'an and Issues of Human Condition (1972); dan Islamic Character (1973). Dia juga menerbitkan biografi perempuan-perempuan muslim seperti The Mother of the Prophet (1966); The Wives of the Prophet (1959); dan The Daugthers of the Prophet (1963).

Karya-karya Bintu Syathi` meliputi: Al-Hayah Al-Insâniyyah ‘Inda Abî Al-A‘lâ, ini merupakan tesis yang ditulisnya untuk mendapat gelar Master di Universitas Fuad I Cairo pada tahun 1941; Al-Gufrân li Abû al-A‘lâ al-Ma’âri yang merupakan disertasi yang ditulisnya untuk mendapat gelar Doktor di Universitas Fuad I Cairo pada tahun 1950.

Karya-karya lainnya meliputi Ard al-Mu’jizât; Rihlah fî Jazîrah al-‘Arab (1956); Umm al-Nabî (1961); Al-Tafsîr al-Bayâni li al-Qur’ân al-Karîm jilid I (1962); Manhaj al-Tafsîr al-Bayânî (1963); Banat al-Nabî (1963); Muskilatu al-Tarâdufu al-Lughawi (1964); Sukainah bint al-Husain (1965); Kitâb al-‘Arabiyah al-Akbar (1965); Batalat al-Karbalâ’ (1965); Tafsîr Sûrah al-‘Asr (1965); Al-Qur’an wa Hurriya al-Irâdah (1965); Kitâbunâ al-Akbar (1967); Al-Mafhûm al-Islâmî li Tahrîr al-Mar`ah (1967); Qodhiyyah al-I`jâz (1968); Turasunâ Baina Mâdin wa Hâdirin (1968); Jadîd Min al-Dirâsah al-Qur’âniyah (1968); A‘dâ’ al-Basyar (1968); Al-Ab‘ad al-T?rîkhiyyah wa al-Fikriyyah li Ma’rakatina (1968); I’jâz al-Bayâni al-Qur’ân (1968); Lugâtunâ wa al-Hayâh (1969); Manhaj al-Dirâsah al-Qur’âniyah (1969); Al-Tafsîr al-Bayâni li al-Qur’ân al-Karîm Jilid II (1969); Maqâl fî al-Insân: Dirâsah Qur’âniyyah (1969); Ma‘a al-Mustafa (1969); Al-Qur’?n wa al-Tafs?r al-‘Asri (1970); Al-Qur’an Wa Huququ al-Insan (1971); Min Asrari al-Arabiyah Fi al-Bayâni al-Qur’âniyah (1972); Al-Isrâiliyyat Wa al-Tafsîr (1972); Al-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah: Dirâsah Qur’?niyyah (1973); Baina al-‘Aqidah wa al-Ikhtiyar (1973); Nisa’ al-Nabiy (1973); Al-Qur’an Wa al-Fikr al-Islâmî al-Ma’âshir (1975); ‘Alâ al-Jisr: Ustûrah al-Zamân; Tarâjum Sayyidat Bait al-Nubuwah Radiyallah ‘Anhunna (1987).

Pada awal bulan Desember tahun 1998 di usianya yang mencapai 85 tahun, Bintu Syathi`  menghembuskan nafas terakhirnya. Tulisan terakhir yang sempat diterbitkan oleh koran al-Ahram berjudul “Ali bin Abi Thalib Karramllahu Wajhah” pada tanggal 26 Februari 1998. Seluruh karyanya menjadi saksi akan kehebatan beliau. Metode tafsir yang beliau kembangkan dalam bukunya “al-Tafsîr al-Bayâni Li al-Qur’ân al-Karîm” banyak menjadi rujukan metode penafsir kontemporer. Oleh karena itu, sebagai pejuang dan pembela hak-hak perempuan, penulis akan menelaah sedikit satu tema populer yakni “Gender”, kelebihan dan kekurangan dari kitab tafsirnya.

Gender

Pembahasan yang berkaitan dengan wanita selalu menarik, baik ditilik dari segi manapun, karena wanita itu sendiri diberi sifat oleh Allah SWT sebagai perhiasan kehidupan. Perhiasan itu baik atau buruk akan mampu menarik ‘mangsa’ untuk menikmatinya. Perempuan menjadi posisi rawan dikala sekelilingnya menjadikan dirinya sebagai alat pengembaraan hawa nafsu, dari hal tersebut mengindikasikan bahwa perempuan akan  menjadi  perhiasan  yang baik  dikala  yang menguasainya baik  pula, keberadaannya perempuanpun diwarnai oleh lingkungan (sosial-budaya).

Peradaban jahiliyah kian sirna tatkala Islam hadir ditengah-tengahnya, Islam menghapus pelecehan terhadap perempuan dan menggantikan dengan menaikkan derajatnya. Perempuan sedikit demi sedikit tertarik kedalam sistem yang ditawarkan Islam, mereka ingin menikmati kebahagian sistem yang melindungi kaum perempuan, tatkala perempuan masuk kedalam sistem atau ruang lingkup peraturan   maka seharusnyalah perempuan tidak bisa disubordinasikan. Misalnya, sahabat Umar bin Khathab ra tokoh dari kalangan elite Quraisy yang mengubur gadis kecilnya dalam keadaan hidup-hidup. Penguburan demikian dikarenakan rasa malu yang mendalam di saat istri melahirkan anak perempuan, perempuan tidak ada hak untuk menyamainya apalagi merebut “kekuasaan”.

Istilah-istilah Gender dan sejenisnya dalam al-Qur`an, akan kita temukan seperti istilah al-Rajul/al-Rijal dan al-Mar’ah/al-Nisa, al-Dhakar dan al-Untha, termasuk gelar untuk laki-laki dan perempuan, suami (al-Zawj) dan isteri (al-Zawjah), ayah (al-Ab) dan ibu (al-Umm), saudara laki-laki (al-Akh) dan saudara perempuan (al-Ukht), kakek (al-Jadd) dan nenek (al-Jaddah), muslim laki-laki (al- Muslim/al-Muslimun) dan saudara perempuan (al-Muslimah/al-Muslimat), laki-laki beriman (al-Mukmin/al-Mukminun) dan perempuan beriman (al-Mukminah/al- Mukminat). Demikian pula ditambahkan dengan kata ganti baik laki-laki atau perempuan seperti dhamir mudhakkar dan kata ganti untuk perempuan dinamakan dhamir mu’annath.

Pada kata pengantar kitab al-Tafsîr al-Bâyani li al-Qurân al-Karîm, Bintu Syathi` menjelaskan bahwa apa yang ditulis dalam karyanya tersebut mengikuti standarisasi metode yang sudah ditetapkan  oleh dosen sekaligus suami tercintanya, Amin al-Kulli. Gagasan Amin al-Kulli adalah menciptakan  paradigma baru mengenai al-Qur’an, yaitu menjadikan metode sastra sebagai titik tolak kajian. Metode sastra yang dimaksud adalah pengkajian al-Qur’an dengan dua tahap, yaitu: pertama: Dirâsah Ma Haula al-Nâs (kajian seputar al-Quran) Kajian tersebut meliputi kajian khusus dan kajian umum. Kajian khusus adalah kajian ulum al-Quran. Sedangkan kajian umum adalah kajian konteks/situasi, material dan immaterial lingkungan Arab. Kedua: Dirâsah ma fî al-Nâs (kajian tentang al-Quran itu sendiri) Kajian ini bermaksud untuk mencari makna etimologis, terminologis. Semantik yang stabil dalam sirkulasi kosakata dan makna semantik dalam satu ayat yang ditafsirkan.

Bintu Syathi` sangat terpengaruh gaya sang guru yang juga pendamping hidupnya, Amin al-Khulli. Karakteristik khusus yang membedakan cara pandang Bintu Syathi` dengan mufasir lainnya adalah bahwa dia lebih menonjolkan segi sastra. Pendekatan yang beliau pakai yaitu dengan menggunakan metode semantik, metode yang berbasis pada analisa teks. Metode penafsiran yang digunakan Bintu Syathi` dalam menafsirkan ayat al-Qur’an yaitu metode yang biasa disebut sebagai metode munâsabah. Langkah pertamanya yaitu dengan mengumpulkan kata dan penggunaannya dalam beberapa ayat al-Qur’an untuk mengetahui penjelasan apa saja yang terkait dengan sebuah kata yang ditafsirkan atau diberi penjelasan. Secara garis besar metodologi kajian ini disimpulkan dalam empat pokok pikiran.

Pertama: mengumpulkan unsur-unsur tematik secara keseluruhan yang ada di beberapa surat. Untuk dipelajari secara tematik. Dalam tafsir ini beliau tidak memakai metode kajian tematik murni seperti  itu. Namun dengan pengembangan induktif (istiqra’i). Mula-mula beliau gambarkan ruh sastra tematik secara umum. Kemudian merincinya per-ayat. Akan tetapi perincian ini berbeda dengan perincian yang digunakan dalam kajian tafsir tahlily (analitik) yang cenderung menggunakan maqtha’ (pemberhentian tematik dalam satu surat). Di sini beliau membuka dengan kupasan bahasa dalam ayat itu kemudian dibandingkan dengan berbagai ayat yang memiliki kesamaan gaya bahasa. Kadang menyebut jumlah kata,  adakalanya memberikan kesamaan dan perbedaan dalam penggnaannya, terakhir beliau simpulkan korelasi antara gaya bahasa tersebut. Kedua: memahami beberapa hal di sekitar nash yang ada. Seperti mengkaji ayat sesuai turunnya. Untuk mengetahui kondisi waktu dan lingkungan diturunkannya ayat- ayat al-Qur’an pada waktu itu. Dikorelasikan dengan studi asbabun nuzûl. Meskipun beliau tetap menegaskan kaidah al-Ibrah bi ’Umûm al-Lafdz lâ bi Khusûs al-Sabab (kesimpulan yang diambil menggunakan keumuman lafadz bukan dengan kekhususan sebab- sebab turun ayat).

Ketiga: memahami Dalalah al-Lafdzi. Maksudnya, indikasi makna yang terkandung dalam lafadz-lafadz al-Qur’an, apakah dipahami sebagaimana zhohir-nya ataukah mengandung arti majaz dengan berbagai macam klasifikasinya. Kemudian di tadabburi dengan hubungan-hubungan kalimat khusus dalam satu  surat. Setelah itu mengkorelasikannya dengan hubungan kalimat secara umum dalam al-Qur’an. Keempat: memahami rahasia ta’bir dalam al-Qur’an. Hal ini sebagai klimaks kajian sastra, dengan mengungkap keindahan, pemilihan kata, beberapa pentakwilan yang ada di beberapa buku tafsir yang mu’tamad tanpa mengkesampingkan kajian gramatikal arab (i’rab) dan kajian balaghah-nya. Sastra tematik yang dimaksud di sini adalah corak tafsir kontekstual yang menganut madzhab dan aliran tematik umum (maudhu’i ‘am). Pengkajiannya dikhususkan pada pembahasan sastra bahasa dalam satu surat. Beliau tidak mengambil seluruh surat dalam al-Qur’an. Namun, beberapa surat pendek saja di juz amma pada buku pertama: Al-Dluhâ, Al-Syarh, Al-Zalzalah, Al-Âdiyat, Al-Nâzi’at, Al-Balad, dan Al-Takâtsur. Dan tujuh surat pendek lainnya pada buku kedua: Al-‘Alaq, Al-Qalam, Al-‘Ashr, Al-Lail, Al-Fajr, Al-Humazah, dan Al-Mâun.

Berbicara kelemahan yang terdapat dalam Tafsir al-Bayan khususnya pada langkah ketiga, jika pemahaman lafaz al-Qur’an harus dikaji lewat pemahaman Bahasa Arab yang merupakan bahasa “induknya”, padahal kenyataannya, tidak sedikit istilah dalam syair dan prosa Arab masa itu tidak dipakai oleh al-Qur’an, maka itu berarti membuka peluang dan menggiring masuknya unsur-unsur tafsiran asing ke dalam pemahaman al-Qur’an; sesuatu yang sangat dihindari oleh Bintu Syathi` sendiri.

Bintu Syathi` kurang konsisten dengan metode penafsiran yang ditawarkannya, yakni mengkaji tema tertentu, melainkan lebih pada analisis semantik. Kenyataannya, ketika Bintu Syathi` menafsirkan ayat-ayat pendek, ia  mengumpulkan lafazh-lafazh serupa dengan lafaz yang ditafsirkan, kemudian menganalisis dari sisi bahasa (semantik). Hal ini tampak pada penafsirannya pada surat al-Zalzalah, ia mengumpulkan semua derivasi  dari  kata al-Zilzal, tapi  bukan  untuk  dicari  maknanya secara  lebih  utuh  dan komprehensif, melainkan lebih pada analisis semantiknya, untuk mendukung gagasan yang dilontarkan. Disinilah Bintu Syathi` banyak menuai kritik karena tidak konsisten dengan metode yang dikemukakannya. Dengan demikian, meskipun metode tematik yang ditawarkan sangat bagus dan kompleks, ia tidak  dianggap sebagai pencetus metode tematik.

Mengenai sumpah-sumpah yang terdapat di dalam al-Qur'an yang diawali dengan waw al-Qasam - Bintu Syathi` menolak pendapat bahwa semua itu - seperti kebanyakan kitab tafsir - menandakan pemuliaan objek sumpah. Bintu Syathi` meyakini bahwa sumpah Qur’ani adalah  hanya salah satu alat  retoris yang digunakan untuk menarik perhatian terhadap suatu hal lewat fenomena nyata untuk memperkenalkan hal-hal lain yang tak terjangkau oleh akal. Oleh karena itu pilihan objek sumpah dalam al-Qur’an sesuai dengan situasi dan kondisi. Bintu Syathi` memberikan gambaran dari berbagai surah-surah yang dipilihnya sebagai objek seperti ketika Allah bersumpah demi waktu pada surah al-‘Asr dan lain sebagainya. Ia menjelaskan bahwa waktu pagi dan siang adalah merepresentasikan makna petunjuk (hidayah) dan kebenaran (al-Haq). Sedangkan malam merepresentasikan makna kesalahan dan dusta.

Setelah membaca dan menelaah kitab Tafsir Bintu Syathi`, justru kita tidak menemukan sebuah pembahasan yang kongkrit terkait gender, hal ini tentunya bertolak belakang dengan jiwanya sebagai pembela HAM. Oleh karenanya, untuk membaca konstruksi pemikiran dan jiwa Bintu Syathi`, diperlukan alat bantu berupa informasi dari buku/kitab diluar tulisannya.

Bintu Syathi` menganggap bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai hamba (Qs. al-Dzâriyat/51: 59); Laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai khalifah (Qs. al-Baqarah/2: 30); Laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai menerima perjanjian primordial (Qs. al-A`râf/7: 171); Adam dan Hawa terlibat secara aktif dalam drama kosmis (Qs. al-Baqarah/2: 35 dan 187; al-A`râf/7: 20, 22 dan 23); Laki-laki dan perempuan sama-sama berpotensi meraih prestasi (Qs. Ali Imran/3: 195; al-Nisâ/4: 124; al-Nahl/16: 97; Ghâfir/40: 40); Kesetaraan asal-usul (Qs. al-Nisa/4: 1 dan al-Hujurât/49: 13); Kesetaraan amal dan balasan (Qs. Ali Imran/3: 195; al-Nisâ/4: 32; al-Taubah/9: 72; al-Ahzâb/33: 36 dan Ghâfir/40: 40); Kesetaraan dalam jaminan sosial (Qs. al-Baqarah/2: 177); Kesetaraan dalam mendapatkan pendidikan (Qs. al-Mujadilah/58: 11) dan lain sebagainya.

Semua poin diatas jika dikorelasikan dengan kehidupan Bintu Syathi` maka akan sangat sesuai. Ia seperti sosok Gus Dur yang lebih menerapkan nilai-nilai Pluralisme sosial (bukan pluralisme teologis) dalam kehidupan sehari-hari, dibandingkan untuk berbusa-busa menyuarakan pluralisme dalam kerangka teori. Begitu pula Bintu al-Syati`, ia lebih memilih menjadi wanita pembela hak-hak perempuan lainnya dan menerapkan nilai-nilai al-Qur`an diatas ketimbang menyuarakan terus menerus tentang kesetaraan gender. Ini menjadi alasan dasar penulis dalam menelaah kitab tafsirnya, mengapa? Karena banyak diantara kita, menganggap dirinya sebagai pembela keseteraan gender namun sejatinya ia tidak. Teori-teorinya hanyalah ‘bungkus’ dan pembonsai tulisan dan retorika semata.

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari seorang perempuan, yang gigih berani melawan ketidakberdayaan perempuan tatkala itu, bangkit dengan segala potensi dan daya upaya, dikerahkannya untuk hal-hal yang positif, visinya mensejahterakan masyarakat dan mengangkat harkat martabat perempuan. Menghilangkan stigma dan isu negatif kepada perempuan di abas modernisasi saat ini. wallahu a`lam bi al-Shawab
Makmun Rasyid
Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid, lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Oktober 1992. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang hidup dalam kesederhanaan, bapaknya seorang PNS dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Saat ini tinggal di Pantai Lemito, Kecamatan Lemito, Kabatupen Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *